435
Friday, 31 July 2020 19:53 (6 hari yang lalu)    Tulis Komentar

Aliran Kepercayaan Tidak Sejalan Dengan Akal Sehat Modernisme Maupun Posmodernisme

Aliran Kepercayaan Tidak Sejalan Dengan Akal Sehat Modernisme Maupun Posmodernisme

Bingkaiwarta, KUNINGAN - Modernisasi yang bekerja dengan basis rasionalisme tidak mengakomodasi keyakinan atau kepercayaan (yang irrasional dan berbau mistisisme). Mistisisme sendiri adalah bentuk kegagalan dalam menegakkan tradisi berfikir rasional dan merupakan ekpresi ketidakberdayaan dalam meneruskan hidup di era modern maupun posmodern. 

Demikian disampaikan pengajar Filsafat Ilmu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kuningan, Fahrus Zaman Fadhly kepada bingkaiwarta.com, Minggu (31/7/2020) dalam menanggapi kebangkitan aliran kepercayaan Sunda Wiwitan Cigugur Kuningan, yang dianggap (tak sejalan) dengan nilai-nilai modernisme yang mengedepankan rasionalitas dan empirisme sebagai basis dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

"Saya tidak menyebut secara spesifik suatu aliran kepercayaan tertentu, tetapi secara umum kepercayaan yang berbasis (nilai-nilai mistis dan pengagungan masa lalu yg emosional dan sepenuhnya subjektif) kerapkali tidak rasional dan semata berpijak pada halusinasi spiritual," ujarnya. 

Ia menjelaskan, pelaku spiritual yang sejati semestinya tidak berhalusinasi. Halusinasi adalah ekspresi seseorang yang tidak sejati secara spiritual. 

"Halusinasi itu ketidaksejatian dalam praktik-praktik asketisme. Asketisme atau keshalehan yang sejati itu tauhid atau monoteisme, bukan halusinasi yang kemudian melahirkan kepercayaan yang tidak berbasis pada common sense, pada akal sehat," terangnya. 

Karena itu di era posmodern saat ini, jelas dia, aliran kepercayaan tidak mendapat sambutan dari orang-orang terdidik dan kaum cendekiawan yang memegang teguh prinsip-prinsip ilmiah. 

Halusinasi yang kerap dialami para pengikut aliran kepercayaan adalah sumber kesesatan berfikir. Kesesatan berfikir bukanlah produk budaya yang sehat. 

"Saya sepakat dengan pandangan Budayawan Kuntowijoyo, bahwa dalam membangun strategi kebudayaan nasional, kita harus menghilangkan keyakinan-keyakinan lokal yang irrasional dan berbau mistik karena keduanya menjadi sumber penghambat kemajuan kebudayaan suatu bangsa," ungkap Fahrus.

Fahrus menjelaskan, frase "pelestarian kebudayaan budaya" itu jangan difahami secara salah kaprah. Kebudayaan itu, ujar dia, bukanlah kata benda, tapi kata kerja yang sifatnya dinamis.  

"Kebudayaan itu bersifat dinamis dan dialektis. Ada proses dialektika dalam kebudayaan, yakni proses dialektika tesa dan antitesa. Budaya di suatu kurun waktu tertentu berdialektis dengan budaya lainnya. Manusia pada setiap masanya menghasilkan produk kebudayaannya sendiri. Tidak ada keharusan mempertahankan suatu kebudayaan yang bertentangan dengan akal sehat. Dulu, kebudayaan manusia mengalami zaman batu, lalu apakah kita mau mempertahankan cara berfikir dan pola budaya "zaman batu" di era millenial di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat seperti saat ini?," tegasnya. (Abel Kiranti)

Aliran Kepercayaan Akal Sehat Modernisme Posmodernisme zaman batu ilmu pengetahuan Fahrus Zaman Fadhly

Komentar

Berita Terkait