688
Wednesday, 17 June 2020 07:11 (3 bulan yang lalu)    Tulis Komentar

Anarkis Minta Dinkes Kab. Kuningan Lebih Transparan Terkait Kasus Covid-19

Anarkis Minta Dinkes Kab. Kuningan Lebih Transparan Terkait Kasus Covid-19

Bingkaiwarta, KUNINGAN - Sejumlah wartawan media online, media cetak, dan media elektronik yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Kuningan Bersatu (Anarkis) ontrog Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kuningan, Selasa (16/6/2020). Mereka datang untuk meminta transparansi terkait pengalokasian dan penggunaan dana Covid-19.

Selain Dinkes, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)’45 Kuningan dan Rumah Sakit Umum (RSU) Linggarjati pun yang sama-sama mengelola anggaran dana Covid-19 cukup besar sesuai dengan yang disampaikan Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Asep Taufik Rohman mesti melakukan hal yang sama.

“Alhamdulillah, audensi kali ini cukup hangat karena kawan-kawan ANARKIS tidak hanya meminta keterbukaan anggaran Covid-19 ke Ibu Kadinkes, Hj. Susi Lusiyanti saja. Tetapi juga kepada Pak Direktur RSUD’45, dr. Deki Saifullah dan Pak Direktur RSU Linggarjati, dr. Edi Martono,” ujar Koordinator ANARKIS yang juga Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kuningan, Iyan Irwandi.

Dalam pelaksanaan audensi yang memakan waktu berjam-jam tersebut, dibahas berbagai hal yang penting diketahui masyarakat umum. Seperti, pembelian dan efektifitas rumah sakit darurat khusus penanganan pasien terpapar virus Corona yang dulunya adalah eks Rumah Sakit Bersalin Citra Ibu, masih adanya pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang mencari donatur untuk pembelian APD, penggalangan dana oleh Ikatan Dokter Indonesia, vitamin bagi tenaga medis dan pasien, keterbukaan bantuan APD dan pendistribusiannya, kenapa orang gila tidak terpapar corona, swab test dan rapid test, anggaran bagi tenaga medis yang melakukan deteksi awal, penyelusuran dan jaga posko check point, data real pasien Covid-19, pengalokasikan dan penggunaan anggaran di Dinkes, RSUD’45 Kuningan dan RSU Linggarjati serta hal-hal lainnya.

“Setiap hasil audensi baik dengan pemerintah daerah, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), Dinkes, RSUD’45 Kuningan, RSU Linggarjati maupun dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lainnya yang akan ditemui selanjutnya, bakal dikaji sekaligus disimpulkan untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya demi transparansi,” tandasnya.

Terkait data real pasien Covid-19 yang meninggal dunia di Kabupaten Kuningan, baik itu ODP maupun PDP, Direktur RSUD 45 dr Deki Saefullah menjelaskan jumlah total pasien yang meninggal akibat terkonfirmasi ataupun terpapar virus Corona dari awal dirinya tidak mau memberikan informasi keluar dengan alasan harus satu pintu karena hampir semua rumah sakit melayani pasien Covid-19.

"Banyak informasi keluar bukan dari sumbernya. Walaupun itu semuanya belum tentu benar. Makanya di Crisis Center itu harus satu arah. Sementara untuk pasien Covid-19 yang meninggal di RSUD 45 jumlahnya ada 13 orang. Dan, semua yang meninggal itu mempunyai penyakit bawaan," jelasnya.

Senada dengan dr Deki, Direktur RSUD Linggarjati dr Edi Martono juga memaparkan jumlah pasien Covid-19 yang meninggal di RSUD Linggarjati berjumlah 10 orang.

"Semua pasien yang meninggal hasil rapid testnya negatif dan rata-rata mereka mempunyai riwayat penyakit bawaan atau ada penyakit penyertanya," ujarnya.

Sementara itu, Kadinkes Kuningan dr Susi Lusiyanti menegaskan untuk pasien PDP meninggal tidak dicantumkan dalam laporan tapi meninggal setelah dilakukan swab atau PCR yang ternyata positif aktif.

"Rapid test untuk epidemologi kepentingan pemetaan pandemi Covid-19, artinya Rapid Test tetap efektif. Misalnya di Kuningan ada 100 Rapid Test Positif, setelah itu dilakukan Swab atau PCR untuk diagnosa untuk mengetahui berapa orang yang benar-benar terkonfirmasi positif Corona," tegas Susi. (Abel Kiranti)

wartawan media online Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan Dinkes media cetak media elektronik Aliansi Jurnalis Kuningan Bersatu Anarkis Deki Saefullah Crisis Center Edi Martono

Komentar

Berita Terkait