8,400
Friday, 05 May 2017 07:46 (3 tahun yang lalu)    Tulis Komentar

Bahaya Hawa Nafsu Dan Syahwat

Bahaya Hawa Nafsu Dan Syahwat

Sebagaimana halnya akal dan qalbu, hawa nafsu adalah aspek rohani yang amat berpengaruh pada moral, seperti diungkapkan para ulama, "al-hawa berarti apa yang disukai oleh nafsu (jiwa) yang cenderung kepadanya. Sedang nafs berarti 'esensi', dan 'esensi sesuatu' disebut "jiwa" sesuatu, atau realitas. Dalam terminologi umum, kata nafs berarti "jiwa", entah jiwa itu bersifat material, misalnya saja jiwa nabati dan jiwa hewani, atau bersifat abstrak misalnya benda-benda samawi dan jiwa rasional manusia. Berbeda dengan terminologi etika, nafs berarti khayalan dan angan-angan palsu dari ego manusia yang terpisah dan independen, kata ini juga berarti jiwa jasmani atau hawa nafsu-tempat nafsu, berbagai hasrat keinginan.

Maka hakekat syahwat (keinginan) nafsu adalah kecenderungannya kepada sesuatu yang sesuai dengan tabiatnya (watak), dan menjauhi sesuatu yang tidak disukai dan dicintai, padahal seringkali kerusakan jiwa disebabkan karena hal-hal yang amat disukainya itu, dan keselamatannya karena menjauhi hal-hal tersebut.

Dalam hal ini, kutipan kitab Ta'rifat, Al-Jurjani mengatakan, bahwa hawa nafsu berarti kecenderungan nafsu kepada sesuatu yang dapat memberi kepuasan atau kenikmatan kepada syahwat dengan tidak mengindahkan seruan syara'. Hal ini relevan dengan firman Allah surat Shad: 26 "Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, yang dapat menyesatkan kamu dari jalan Allah,". Menurut Dr. Hamka, bahwa asal hawa ialah angin atau gelora. Dia ada pada tiap-tiap manusia, Dia hanya gelora tidak berasal. Ia juga mengatakan bahwa "hawa nafsu menyebabkan orang menjadi marah, dengki, loba, dan kebencian".

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, maka manusia bebas untuk mengikuti atau tidak mengikuti keinginan-keinginan nafsunya. Allah menunjukkan kepada manusia lewat para Rasul-Nya mana jalan yang benar dan salah.

Adapun obyek yang menjadi sasaran kainginan nafsu, yang disebut syahwat, yaitu gerak keinginan (cinta) nafsu untuk memperoleh kenikmatan. Perbedaan antara hawa dan syahwat, menurut buku "Adab Al-Dunya wa Al-Din", adalah bahwa hawa tertuju secara khusus pada hal-hal yang menyangkut pendapat-pendapat dan i'tikad, sedangkan syahwat dikhususkan (berkenaan) dengan usaha memperoleh kelezatan. Oleh sebab itu, syahwat merupakan hasil dari adanya hawa. Dan syahwat itu lebih khusus, sedangkan hawa nafsu adalah dasar yang sifatnya lebih umum. Seperti yang sudah dijelaskan Al-Quran (lihat Qs. Ali Imran: 14).

Sebenarnya obyek-obyek syahwat itu bersifat netral dan Allah telah menetapkan aturan-aturan permainan bagi manusia dalam usahanya untuk memperoleh kenikmatan duniawi yang diinginkan dan didambakan oleh hawa nafsuny. Allah menciptakan manusia mempunyai nafsu syahwat, sebenarnya memang mengandung faedah sebagaimana dikatakan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, "Syahwat diciptakan tidak lain mempunyai faedah yang penting dalam menciptakan manusia. Sebab, andaikata syahwat makan (misalnya) dicabut dan dihilangkan, pasti binasalah manusia. Andaikata syahwat untuk bersenggama dihilangkan, pasti akan terputuslah keturunan manusia, dan andaikata sifat marah hilang secara keseluruhan, manusia tidak dapat mempertahankan dirinya dari sesuatu yang hendak membinasakannya".

Jadi, memenuhi hawa nafsu tidaklah dicela, yang tercela adalah syahwat yang sudah melampaui batas dan tidak mengindahkan aturan (Allah) dalam memenuhinya. Demikian pula tidak memenuhi sama sekali hawa nafsu juga dicela karena dengan demikian ia berarti meniadakan hak atas dirinya, seperti kebutuhan makan, pakaian, seks, dan sebagainnya. Sesuai dengan sabda Nabi Saw yang diperawi oleh H.R Bukhari, yaitu "Sesungguhnya jiwamu mempunyai hak (yang harus kau penuhi), ragamu mempunyai hak (yang harus kau penuhi), suami atau istrimu mempunyai hak (yang harus kau penuhi), dan kedua matamu mempunyai hak (yang harus kau penuhi)".

Namun, nafsu sendiri memiliki tiga tingkatan terhadap manusia, dan itu dapat dibedakan menjadi tiga macam yakni, nafsu ammarah, nafsu lawwamah, dan nafsu muthmainnah. Akan tetapi uraian di atas menunjukkan bahwa jihad al-nafs adalah masalah yang penting serta harus diperhatikan dan dilakukan secara sungguh-sungguh mengingat besarnya bahaya yang bakal menimpa akibat mengikuti dan melampiaskan kehendak hawa nafsu. (Riki Ramadhan)

hawa nafsu syahwat bahaya nafsu bahaya syahwat caramengendalikan syahwat cara mengendalikan nafsu

Komentar

Berita Terkait