468
Thursday, 04 June 2020 19:58 (1 bulan yang lalu)    Tulis Komentar

Beberapa Bulan Tak Manggung, Penggiat Seni Kuningan Mulai Jenuh

Beberapa Bulan Tak Manggung, Penggiat Seni Kuningan Mulai Jenuh

Bingkaiwarta, KUNINGAN - Memasuki Adaptasi Kehidupan Baru (AKB) atau new normal banyak masyarakat dari berbagai kalangan yang sudah merasakan jenuh dan ingin segera keluar dari masa penerapan PSBB jilid III.

Hal ini diungkapkan salah satu penggiat seni Kuningan, Deri Akbar. Kepada Bingkaiwarta.com, Deri yang juga mewakili keluhan teman-temannya mengatakan, pihaknya sudah beberapa bulan ini sama sekali tidak ada kegiatan manggung karena terbentur dengan kondisi pandemi Covid-19 serta aturan-aturan yang telah dituangkan dalam Juknis PSBB jilid III.

"Kami para pekerja seni sudah jenuh dan bosan karena dalam beberapa bulan ini, tidak ada kegiatan manggung dengan adanya pembatasan acara hajatan dan kegiatan keramaian lainnya akibat pandemi Covid-19 ini," ungkap Deri, Kamis (4/6/2020).

Dalam kejenuhan yang teramat sangat serta sulitnya beban hidup dimasa pandemi, Deri juga merasakan kecewa yang teramat sangat saat mengetahui adanya kegiatan para ASN di salah satu tempat yang berlangsung seperti keramaian hajatan biasanya. 

"Kami lihat dalam video yang beredar dan pemberitaan media massa kemarin, katanya acara perpisahan Camat Cilimus. Di situ sangat jelas banyak aturan PSBB yang dilanggar. Seperti terlihat diantara mereka banyak yang tidak menggunakan masker, social distancingnya tidak ada, terjadinya kerumunanan lebih dari 10 orang dan lebih menyakitkan lagi mereka tampak hura-hura diatas penderitaan rakyat yang tengah berada dalam kesulitan dan tekanan aturan PSBB," terangnya.

Melihat fenomena tersebut, Deri mewakili suara para pekerja seni di Kuningan, menuntut agar izin hajatan kembali diberlakukan. 

"Jika merujuk pada aturan PSBB jilid III jelas itu sudah betul-betul melanggar. Tapi kenapa seolah ada pembiaran?? Sementara masyarakat umum yang melanggar aturan langsung diberikan sangsi langsung dibubarkan. Inikah yang disebut adil?," ujar Deri.

"Itu kan sudah ada contoh dari para pejabatnya sendiri. Sekarang, kami menuntut keadilan lah, masa mereka boleh, sementara yang lainnya tidak boleh? Apa karena kita bukan pejabat? Jika terus begini, kami akan melakukan aksi," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Kuningan, dr. Asep Hermana menjelaskan, terkait aturan protokol kesehatan semua pihak harus menjaga diri dan lingkungan terdekat.

"Dalam melaksanakan protokol kesehatan keteladanan sesuatu hal mesti dimulai dari diri sendiri. Tidak semua apa yang kita lihat dapat di jadikan tolak ukur kebenaran. Yang jelas, protokol kesehatan berlaku bagi semua yang ingin sehat," jelasnya.

Dikatakanya, saat rapat pada 29 Mei 2020, dirinya telah menyampaikan bahwa protokol kesehatan harus dituangkan dalam aturan. Supaya punya kekuatan dan apabila disangsi juga jelas rujukannya. (Abel Kiranti)

Penggiat Seni Kabupaten Kuningan AKB New Normal Protokol Kesehatan Covid-19

Komentar

Berita Terkait