376
Monday, 27 July 2020 11:27 (2 bulan yang lalu)    Tulis Komentar

Bekerjasama dengan Buah Hati Dimasa COVID-19

Bekerjasama dengan Buah Hati Dimasa COVID-19

Adaptasi kebiasaan baru di masa COVID-19 ini memengaruhi proses pendidikan secara umum. Sebagaian besar proses pendidikan dan pembelajaran kembali ke madrasatu‘ula anak, yaitu di keluarga mereka sendiri. Peran orang tua menjadi hal yang paling menentukan dalam proses pendidikan anak. Tentunya hal tersebut bekerja sama dengan lembaga pendidikan formal maupun non-formal dimana semuanya harus saling mendukung dan berkomitemen.

Orangtua harus mendisiplinkan anak, dengan menjadwalkan kegiatan hariannya sehingga mereka harus meluangkan waktu khusus untuk anak, tanpa melakukan kegiatan apapun atau quality time dengan buah hatinya. Hal tersebut diungkapkan oleh dr Deasy Nurisya, Sp.A dalam kegiatan Webinar Inspirasi Dari Hati keempat yang bertemakan Adaptasi Kebiasaan Baru Dimasa COVID-19. Webinar ini dihelat oleh Kuningan Knowledge and Innovation Center (KKIC), atau Pusat Inovasi dan Pengetahuan Kuningan, Minggu (26/07/2020), melalui media daring.

Webinar ini juga turut menghadirkan para pembicara Tety Soepriati, Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Kuningan, Indra Firdaus Owner Express English Course, dan seorang Penyanyi dan Seni Pantomim Cilik. Ayasha Davierra, Sementara itu Moderator dipandu oleh Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Della Calabria Italia, Halimatusa’diyah Purnama Putri.

Deasy Nurisya menegaskan, bahwa kita harus memerhatikan kebutuhan dasar anak yaitu asah, asih, dan asuh. Asah adalah kebutuhan biologis khususnya dalam hal pemenuhan kebutuhan gizi yang baik dimana anak adalah individu sendiri yang bertumbuh dan berkembang. Asih merupakan kasih sayang dan emosional agar terbentuk ikatan yang baik antara anak dan orang tua. Asuh mengasuh perkembangan anak agar menjadi optimal disetiap pertumbuhan usianya. 

Deasy juga menyoroti bagaimana siasat orang tua di masa pandemi diantaranya, mendisiplinkan anak, menjadwalkan waktu khusus anak, beraktifitas bersama anak sesuai jenjang usianya, membangun kegiatan kebersamaan dan juga menularkan kegembiraan kepada anak walaupun dimasa pandemi ini agar selalu mengambil sisi positifnya. “Bagaimanapun anak-anak adalah masa depan bangsa, tumbuh dan kembangnya ini tergantung pola asuh anaknya,” tandasnya.

Terlebih lagi khususnya kepada anak-anak spesial. Menurut Tety Soepritati, selama mengelola Sekolah Luar Biasa diantaranya banyak yang berhasil mendidik anak-anak spesial ini ketikan penanganannya tepat. “Banyak anak yang spesial ini dengan penanganan yang tepat menjadi dapat membaca, menulis, dan berinteraksi sosial dengan baik secara perlahan. Kamipun tetap mengikuti arahan pemerintah untuk mematuhi protokol COVID-19 dimana melakukan pembelajaran dengan media daring atau home visit, walaupun dengan berbagai kendala yang ada seperti sinyal dan jarak. Kamipun bekerja sama dengan para orang tua agar anak-anak masa depan bangsa ini juga mendapatkan hak yang sepenuhnya dapat mereka miliki. Kami yakin mereka memiiki kelebihan masing-masing.” terangnya.

Tety juga mengharapkan semoga pandemi COVID-19 ini segera berlalu dan dapat beraktifitas seperti biasa kembali. Karena anak-anak merasa sangat gembira saat datang sekolah. “Bahkan saat ini juga ada anak yang tetap pergi ke sekolah, dan kami tetap menerima dan melayani putra-putri kami.”, imbuhnya. Ia juga berharap anak-anak memorinya tidak kembali lagi seperti baru pertama masuk ke SLB saat nanti sudah selesai pandemi.

Sementara itu dalam kegiatan kursus bahasa inggris di Kuningan juga beradaptasi sesuai keadaan. “Kamipun dari awal sudah beradaptasi dengan berbagai keadaan yang ada, walaupun beberapa hal mengalami kendala, namun dengan beriringnya waktu mengalir saja, kami dapat melewatinya," papar Indra.

Menurutnya dunia anak adalah dunia bermain dan kegembiraan, sehingga mengajar bahasa inggris berhadapan dengan bagaimana caranya agar anak itu suka dengan bahasa inggris, entah dengan tebak-tebakan, lagu, musik, permainan yang selanjutnya ditunjang dengan kebiasaan untuk memberanikan diri agar terbiasa berbicara bahasa inggris.

Sejalan dengan perannya orang tua terhadap buah hatinya, hal itu juga dirasakan oleh Ayasha Davviera, dimana hobinya dalam berkesenian didukung juga oleh ayah dan ibu, kakak, nenek, dan kerabat-kerabat dekatnya. “Awalnya aku belajar dari abang agar bisa pantomim, dan ternyata aku menyukainya hingga sekarang. Bunda, ayah, oma, sodara-sodara juga sangat support, selain pantomin aku juga suka teater, nyanyi dan nari juga suka.”, imbuh seniman cilik kita yang bercita-cita jadi Dokter.

Terakhir Founder KKIC, Ade Kadarisman menambahkan bahwa “Memberikan perhatian kepada anak menjadi sebuah hal yang penting karena generasi kedepan harus lebih baik daripada generasi kita. Mudah-mudahan kegiata webinar ini dapat memberikan manfaat dan hikmah untuk kita semua.”  (Tim KKIC, Teguh Jati Purnama)

KKIC Ade Kadarisman bahasa inggris quality time pendidikan anak

Komentar

Berita Terkait