339
Friday, 14 August 2020 11:16 (8 bulan yang lalu)    Tulis Komentar

Berantas Stunting, Dinkes Kuningan Lakukan Sosialisasi 9 Pesan Inti

Berantas Stunting, Dinkes Kuningan Lakukan Sosialisasi 9 Pesan Inti

Bingkaiwarta, SELAJAMBE - Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan melaksanakan kegiatan Koordinasi, Konvergensi Lintas Program dan Lintas Sektor dalam Penanggulangan Stanting di Kabupaten Kuningan Tahun 2020 di Balai Desa Selajambe Kecamatan Selajambe Kabupaten Kuningan, Kamis (13/8/2020). 
 
Dalam kegiatan tersebut, mereka kompak menyatakan kesiapan menanggulangi kasus stunting, atau masalah gizi kronis.
 
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, dr Susi Lusiyanti bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kuningan Hj Ika Siti Rakhmatika, sosialisasi 9 pesan inti 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dalam menanggulangi stunting. Yaitu selama hamil, makan makanan beraneka ragam. Memeriksa kehamilan 4x selama kehamilan. Minum tablet tambah darah. Bayi yang baru lahir inisiasi menyusui dini. Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan.
 
Selain itu, timbang berat badan bayi secara rutin setiap bulan, berikan imunisasi dasar wajib bagi bayi, lanjutkan pemberian asi hingga usia 2 tahun, berikan makanan pendamping ASI secara bertahap pada usia 6 bulan dan tetap memberikan ASI.
 
Ketua Tim Penggerak PKK Kuningan, Hj Ika Siti Rakhmatika, mengingatkan, bahwa stunting disebabkan oleh asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi dalam waktu lama. “Stunting juga bisa dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal. Sehingga menghambat kemampuan mental serta kesulitan belajar,” ungkap Ika. 
 
Dikatakan Ika, penyebab stunting dibedakan atas dua. Yaitu penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab secara langsung stunting disebabkan oleh kurangnya asupan gizi yang cukup serta ancaman infeksi berulang. Secara tidak langsung, stunting disebabkan oleh pola asuh ibu atau keluarga, ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga, sanitasi lingkungan, dan pelayanan kesehatan.
 
“Penyebab utama stunting adalah kurangnya asupan gizi atau gizi buruk, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan (hpk). Dimulai dari fase kehamilan atau 270 hari hingga anak berusia 2 tahun atau 730 hari. 1000 hpk ini merupakan fase terpenting dalam kehidupan anak, golden age, golden period, yang sangat menentukan kesehatan dan kecerdasan anak,” tandas Ika
 
Kurangnya pengetahuan tentang gizi dan pola asuh yang salah dapat berdampak kepada kondisi gizi ibu hamil dan anak. Misalnya karena ingin anaknya cepat besar maka seorang ibu menganggap asi saja tidak cukup. Sehingga memberikan anak susu formula. “Padahal kandungan gizi di dalam asi sangat dibutuhkan anak. Dan, itu tidak bisa tergantikan oleh susu formula,” ujarnya.
 
Untuk menjamin adanya asupan gizi yang cukup pada 1000 HPK, dijelaskan Kepala Dinas Kesehatan Kuningan, dr Hj Susi Lusiyanti, perlu didukung oleh adanya upaya penguatan pangan keluarga. Proses edukasi dapat mencegah ketergantungan bantuan dan mendorong inisiatif masyarakat untuk berdaya dan mandiri dalam mencukupi kebutuhan pangan keluarga dengan usahanya.
 
“Ketahanan pangan maupun gizi sangat berkorelasi dengan akses masyarakat terhadap pangan. Masyarakat perlu di edukasi dan didekatkan dengan jenis-jenis pangan yang dapat disediakan secara mandiri. Ini supaya mengurangi beban biaya belanja dapur dan bantuan sosial,” jelas dr Susi. (Abel Kiranti)
dinaskesehatan kuningan stanting

Komentar

Berita Terkait