Budidaya Ikan Fawase Desa Cibinuang Diaudit Oleh Tim Auditor Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat

By : BingkaiWarta - BingkaiWarta, 2019-08-28 10:26:51+07

Budidaya Ikan sfeeff.jpg

Dodo  Ahda, bersama Kabid Perikanan DKPP Deni, dan Tim Auditor Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat (dari kiri ke kanan), di tempat budidaya ikan Fawase, Dusun Cikopo, Desa Cibinuang, Kecamatan Kuningan, Selasa (27/08/2019).

 

Kuningan – Hadirnya tim auditor dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat ke tempat budidaya ikan Fawase, di Dusun Cikopo, Desa Cibinuang, Kecamatan Kuningan, dalam rangka sertifikasi cara budidaya ikan yang baik (CBIB) memberikan secercah harapan baru bagi Dodo Ahda selaku pembudidaya, Selasa (27/08/2019).

Selain kualitas yang dapat diperbaiki menjadi lebih baik karena sesuai standar yang berlaku, penjualan produk ikan yang sudah disertifikasi oleh tim auditor itu juga mampu menembus pasar toko swalayan atau supermarket.

Ketua Tim Auditor Ajat Sudrajat, menerangkan, kehadiran pihaknya yang berjumlah tiga orang tersebut akan menelusuri keamanan bahan pangan yang diproduksi oleh pembudidaya ikan dengan cara meminta informasi tentang perlakuan terhadap kolam, sumber benih, pakan, pemeriksaan kualitas air, hingga ke pemasaran.

Setelah itu, pihaknya akan mengambil kesimpulan berdasarkan item pertanyaan yang diberikan sebanyak 21 buah yang mengupas apakah perlakuan yang dilakukan oleh pembudidaya terhadap produk yang dihasilkan dalam kategori baik, cukup, atau mungkin memang kurang.

Kesimpulan itu nantinya akan diinformasikan secara langsung ke para pembudidaya untuk selanjutnya mereka mengetahui hal-hal apa saja yang mesti diperhatikan, dan jika memang ada saran perbaikan tim auditor akan memberi tenggat waktu selama 14 hari terhitung sejak audit dilakukan.

“Kalau ada perbaikan maka temuan yang muncul hilang, kalau tidak kita tetap. Dan penilaian ini kami hanya melaksanakan proses penilaiannya. Yang selanjutnya hasil yang kami peroleh dari pembudidaya diteruskan ke Kementrian Kelautan dan Perikanan Jakarta. Yang sebelum diterbitkan sertifikat mereka mengadakan sidang terlebih dahulu. Baru setelah sidang nanti muncul sertifikat yang harus diterima oleh para pembudidaya,” kata Ajat.

Keuntungan yang dapat diterima oleh para pembudidaya selepas sertifikasi itu yang pertama minimal bisa menjaga kualitas bahan pangan dari ikan yang biasa dikonsumsi oleh keluaraga, dan maksimalnya bisa ekspansi pemasaran ke supermarket-supermarket yang ada di Indonesia.

“Ini penting dilakukan karena kalau penjual ikan itu harus melindungi konsumen dan keluarga. Karena setiap panen saya yakin pasti keluarga mengonsumsi, tetangga mengonsumsi. Dan dari perikanan tidak ada sekarang makan besok sakit. Itu masa tenggangnya lama, bisa satu tahun dua tahun saya tidak tahu percis karena itu ranahnya medis. Tapi yang jelas, kalau kita menelusuri pelaksanaan budidaya ini insha Allah apa yang kita, anak, dan tetangga makan dalam kondisi baik,” tuturnya.

Kemudian, kata Ajat, setelah proses audit dilakukan maka selanjutnya akan ada tindak lanjut harus seperti apa, karena pihaknya pun akan memunculkan laporan hasil pemeriksaan (LHP) yang selanjutnya dikirim ke Kementrian Kelautan dan Perikanan.

“Kalau lulus tidaknya itu cuman satu. Karena ada empat kategori yaitu minor, mayor, serius sama kritis. Kalau dari temuan itu ada kritis, otomatis tidak lulus. Tapi kalau selama ini masih ada tolelir nanti ada di grade apakah A B atau C. Dan apa yang kita lihat hari ini di kelompok ini mudah-mudahan mendapatkan hasil yang baik, yang maksimal,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Kuningan Deni, yang turut serta mendampingi tim auditor, mengucapkan terima kasih kepada tim auditor CBIB yang sudah melaksanakan penilaian pada kelompok pembudidaya di wilayah Kuningan.

Ia pun berharap upaya ini dapat terus berjalan karena sebagai langkah untuk menjaga kualitas dari produksi ikan di Kabupaten Kuningan.

“Karena dengan adanya CBIB ini Insha Allah kelompok akan bisa menyesuaikan dengan SOP (Standar Operasional Prosedur), bagaimana cara budidaya ikan yang baik, dan juga melaksanakan apa yang menjadi pedoman dalam hal memelihara ikan kedepan. Dan dengan adanya CBIB intinya kualitas produksi perikanan bisa terjaga dan efeknya kepada kesejahteraan pelaku usaha perikanan,” sebutnya.

Ia juga menambahkan bahwa langkah sertifikasi CBIB ini merupakan salah satu rangkaian menuju rencana DKPP swasembada ikan pada tahun 2023, “Jadi kita juga memang merasa tertantang ya untuk swasembada ikan tahun 2023, dan ini salah satu langkah untuk mewujudkan ke arah sana. Jadi ditata dari segi teknis maupun segi pengelolaan lain-lain,” tambahnya.

Pembudidaya ikan Dodo Ahda, mengaku sangat bangga dan bersyukur atas upaya DKPP juga Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat yang sudah melakukan audit di tempat budidayanya.

“Secara tidak langsung ini membuka ruang dan menjadi suatu penghargaan bahwa kelompok budidaya ikan Fawase ini mendapat perhatian dari pemerintah. Ke depan kami akan lebih fokus lagi, dan memperhatikan mudah-mudahan dari hasil sertifikasi ini bisa lulus, sehingga kami turut membantu rencana swasembada ikan DKPP pada tahun 2023 nanti,” ungkapnya. (TedyAgeng)

3 months ago, by BingkaiWarta
Category : BERITA PILIHAN, SOSPOLHUKAM, EKONOMI

Kontak Informasi BingkaiWarta.com

Redaksi : redaksi[at]bingkaiwarta.com
Iklan : iklan[at]bingkaiwarta.com











Berita Terkini

Categories