297
Saturday, 10 October 2020 09:13 (2 minggu yang lalu)    Tulis Komentar

Catatan Ringan Untuk Daring

Catatan Ringan Untuk Daring

Bingkaiwarta, LURAGUNG - Pembina ekskul Bonti Sinematigrafi dari SMKN Luragung, AR Affandi menyampaikan, FILM DARING yang lolos menjadi Juara III Lomba FIlm Pendek Seni Media Rekam ( Semar ) Festival yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Jogjakarta sejak tanggal 8 September sampai 9 Oktober 2020 ini, sebetulnya ringan tapi tehnik penceritaannya menarik sehingga mudah diterima oleh penonton.

Kepada bingkaiwarta.com, Affandi menjelaskan, dibagian awal, akting para pemain (Terutama Emak) nampak kaku. Tapi, itu sepertinya memang karakter yang sengaja dibentuk oleh sutradara. Seorang ibu yang “lempeng” ketika menghadapi sebuah permasalahan. 

"Film ini diproduseri oleh Syarif Sudiyana dan disutradarai oleh Rival Hermansyah dan ide cerita dari Manda Hartika dikembangkan menjadi skenario oleh Aina Aropiah. Penata Kamera masih dipegang oleh Aldo Wahyu dengan kameramen Mahesa Tri Amanda sedangkan penata Artistik yang dikomandani Raihan Dwi Nugraha cukup berhasil menyulap tempat penyimpanan kayu menjadi sebuah set yang pas dengan cerita," jelasnya, Minggu (10/10/2020).

Secara teknis, menurutnya, tidak ada yang luar biasa di film ini. Aldo Wahyu sebagai D.O.P cenderung menerapkan shoot-shoot aman dan menghindari shoot eksperimental yang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Tapi yang paling penting adalah progress yang ditunjukan oleh Aldo Wahyu yang mampu memberikan shoot-shoot statis dengan komposisi yang menarik dan tidak menjenuhkan hingga terkesan dinamis.

"Aldo Wahyu sebagai penata kamera mencoba menabrak rumus umum Established - Master - Cover - Cover ( E-mc2 ). Beberapa adegan langsung diawali dengan cover kemudian master. Ada juga yang diawali dengan master kemudian dilanjutkan dengan cover two shoot dengan tehnik rack focus. Namun karena penggunaan lensa yang terbatas atau karena pengaturan nilai aperture yang kurang tepat, pergantian focus tidak begitu terlihat.  Sayang sekali......…," terangnya.

Dikatakan Affandi, yang menarik di adegan Emak memberikan motivasi. Shoot Cover Emak diberikan frame dua buah botol sebagai foreground. Posisi Emak yang berhadapan dengan Lana dibatasi oleh foreground sebuah botol menandakan adanya batas antara generasi tua dan generasi muda dalam menyikapi permasalahan hidup. Emak yang sabar ditabrakan dengan karakter Lana yang mudah mengeluh dan putus asa. Begitu juga dengan adegan Lana dan Riko yang dibatasi pagar besi yang menandakan perbedaan kaya dan miskin. Lana dengan karakter ceplas-ceplos nya mewakili kaum marginal dan Riko dengan bahasa Sunda campuran mewakili karakter orang kaya di Kampung yang ingin dinilai modern tapi tidak bisa lepas dari ke kampungannya. 

"Sebuah sindiran halus juga diberikan di adegan jualan gorengan diantara remaja yang asyik bermain game dan tidak peduli dengan keadaan sekeliling. Sementara Lana membutuhkan HP dan quota disisi lain banyak anak menghambur-hamburkan quota untuk hal yang tidak jelas. Sindiran lainnya juga disampaikan pada adegan Lana dan pak Aldo, dimana sering kita temui anak-anak yang berkomunikasi dengan orang tua (guru) tapi menggunakan sikap dan bahasa seperti pada teman sebaya," ungkapnya.

Ia menambahkan, "Boom" di film ini terasa sekali dimenit-menit akhir saat semua konflik seolah-olah selesai dimana tugas-tugas daring Lana diselesaikan oleh Pak Aldo, kemudian Voice Over Menteri Pendidikan yang akan memberikan quota gratis tiba-tiba ada end scene Emak yang berpegang pada komitmen " kita harus siap menghadapi perubahan, meskipun sakit" .

"Secara keseluruhan film ini cukup menghibur dan pesannya bisa tersampaikan secara utuh," pungkasnya. (Abel Kiranti) 

Daring bonti Film pendek kuningan

Komentar

Berita Terkait