667
Tuesday, 12 May 2020 04:56 (4 bulan yang lalu)    Tulis Komentar

Dandim: Tanpa Ada Kesadaran Masyarakat, PSBB Tidak Akan Berhasil

Dandim: Tanpa Ada Kesadaran Masyarakat, PSBB Tidak Akan Berhasil

Bingkaiwarta, KUNINGAN - Menanggapi aktualisasi pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Dandim 0615 Kuningan Letkol Czi Karter Joyi Lumi mengatakan, PSBB di Kabupaten Kuningan sudah di berlakukan mulai dari tingkat provinsi sampai dengan kabupaten.

Dijelaskannya, untuk segala aturan sudah jelas dilampirkan dalam peraturan-peraturan tersebut. Masalah bagaimana dalam berkendaraan, bagaiamana bersosialisasi, bagaimana melaksanakan ibadah, bagaimana perlakuan terhadap ekonomi dalam hal ini pasar dan lain sebagainya.

"Kita sadari bersama bahwa belakangan ini banyak sekali netizen maupun masyarakat yang simpang siur memberikan keterangan tentang status di facebook," tuturnya kepada Bingkaiwarta.com, Senin (12/5/2020.

Menurut Joyi Lumi, masyarakat Kabupaten Kuningan seharusnya tidak perlu resah, karena PSBB yang diterapkan di Kabupaten Kuningan itu tidak jauh berbeda dengan Karantina Wilayah Parsial (KWP).

"Cuma yang kita tingkatkan adalah waktu pelaksanaannya. Yang semula di KWP (yang sudah berjalan 1,5 bulan) itu di mulai dari pukul 18.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB sekarang kita mulai dari pukul 16.00 WIB sampai dengan pukul 06.00 WIB," ujarnya.

Ia menambahkan, perlakuan terhadap para pelaku pasar, pihaknya harus menyadarkan masyarakat, para pelaku usaha terutama masalah dagang dan sebagainya.

“Kita sadari bersama bahwa untuk masalah kehidupan manusia atau masyarakat urat nadinya adalah di pasar namun dengan adanya penerapan di PSBB harus dibatasi," imbuhnya.

Dikatakan Joyi Lumi, kalau ada yang mengeluh soal jam operasional mereka, soal waktu bisa dimajukan dari pagi sampai sore adalah waktu untuk bertransaksi dagang.

Namun, tambahnya, karena ini pembatasan sosial jadi perlu diwaspadai jarak-jarak social maka ada aturan bertransaksi atau antrian. Seharusnya, kata dia, SOP terkait hal ini harus benar-benar diperhatikan dan diimplementasikan.

"Dalam hal ini, Forkopimda sudah menghimbau bagaimana pelaksanaan PSBB terutama pada pengurus-pengurus pasar. Hari pertama PSBB, kami sudah semua datangi pasar. Bahkan dua hari sebelum diberlakukan PSBB kami juga sudah datangi pasar untuk melakukan sosialisasi," ungkapnya.

Lanjutnya lagi, dirinya sudah mengimbau namun para pelaku usaha tidak mengindahkan aturan atau imbauan tersebut.

“Semua akan sia-sia dan tidak ada hasil jika masyarakatnya sendiri tidak mengindahkannya. Mohon maaf tanpa ada kesadaran masyarakat, PSBB ini tidak akan berhasil," tandasnya.  

Dikatakannya, virus corona ini memang tidak terlihat tapi dampaknya bisa dilihat. “Kita ketahui bersama, saat ini kasus ini sudah bertambah lagi. Kasus positif di kita sudah di atas 30 per hari. Artinya kita tidak ada tempat yang benar-benar aman," ujar Joyi Lumi.

Banyak masyarakat yang berpendapat dan membanding-bandingkan antara pasar dan tempat-tempat lainnya atau perkumpulan-perkumpulan lainnya. Kenapa tidak berhentikan pasar? Supermarket? atau tempat-tempat lainnya?

"Sudah saya sampaikan tadi, pasar itu adalah urat nadi hidup. Menjamin keamanan dan kenyamanan seseorang itu ada diperutnya. Ketika perutnya terisi artinya pasarnya dibuka itu akan aman dan nyaman. Tetapi jika perutnya lapar, tidak terpenuhi maka tidak menutup kemungkinan penjarahan-penjarahan, perampokan, atau tindakan kriminal lainnya bisa saja terjadi," jelas Dandim Kuningan.

Tapi kalau kegiatan sosial lainnya masih bisa ditunda atau dipindahkan, baik itu acara pesta pernikahan, acara-acara yang bersifatnya seremonial dan sebagainya semuanya bisa di undur. Namun, untuk urat nadi kehidupan itu tidak bisa di tutup.

"Mari kita dewasa menyikapi keadaan ini. Bukan kalian saja yang kesusahan, yang kesulitan. Tapi kita juga semua terdampak. Lihat pelaku medis, dokter-dokter dan sebagainya, lihat anggota TNI-Polri, Satpol PP, Dishub mereka 1x24 jam di lapangan menjaga ini semua. Tapi, masih ada saja warga kita, netizen yang bersikap nyinyir. Ini kan hal yang tidak baik. Di tengah-tengah kesulitan ini, harusnya mereka memberikan dorongan moril saja buat mereka itu sudah sangat bagus," paparnya.

Kalau tidak bisa berarti apa-apa, tambahnya, tidak usah berkomentar yang aneh-aneh. “Pepatah bilang kalau kita tidak mampu menjadi bunga, kembang yang manis dan cantik untuk di lihat maka jadilah rumput yang hijau jangan jadi semak belukar. Yang hanya mampu melukai perasaan orang lain," terang dia.

Hal-hal seperti ini, kata Joyi Lumi, butuh kedewasaan bersama dalam menyikapi situasi dan kondisi saat ini. Bukan cuma Kuningan, bukan cuma Jawa Barat, bukan cuma Indonesia tapi seluruh dunia terdampak masalah Covid-19.

"Saya berharap adanya kedewasaan penuh dari semua kalangan masyarakat. Dengan iman dan taqwa, mari kita sama-sama berpikir untuk berikhtiar agar segera lepas dari genggaman Covid-19 ini. Tentunya kita harus sama-sama merangkul seluruh elemen masyarakat, komponen pemerintahan kita harus saling memberikan motivasi saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Saya harapkan kedepan kita bisa sama-sama merangkul satu sama lain untuk memberantas penyebaran virus Covid-19," pungkasnya.(Abel Kiranti)

Dandim 0615 Kuningan Letkol Czi Karter Joyi Lumi PSBB Covid-19

Komentar

Komentar telah di non-aktifkan untuk postingan ini

Berita Terkait