812
Tuesday, 28 July 2020 17:37 (2 minggu yang lalu)    Tulis Komentar

Elang Gesang Sanggah Kepangeranan Gebang Kinatar Paseban Tri Panca Tunggal

Elang Gesang Sanggah Kepangeranan Gebang Kinatar Paseban Tri Panca Tunggal

Bingkaiwarta, CIREBON - Merasa nama kerajaanya di klaim oleh Adat Karuhun (AKUR) Urang Sunda Wiwitan, Elang Gesang Hariman keturunan dari Pinanggeran Gebang dari jalur Pangeran Tursina bin Pangeran Ruslan (sebutan keluarga) angkat bicara. Menurutnya, dengan adanya plang Cagar Budaya Nasional Paseban Tri Panca Tunggal Kepangeranan Gebang Kinatar itu sangat tidak berdasar.

Kepada bingkaiwarta.com, Elang Gesang yang juga berasal dari keturunan keraton Pangeran Soesilaningrat bin Pangeran Soesilaradja menuturkan jika mereka mendirikan keraton Gebang Kinatar maka itu akan dipertanyakan oleh pinanggeran-pinanggeran lainnya. Karena menurutnya, Keraton Gebang dari dulu tercatat di sejarah itu adanya di Losari. Dan, terbakarnya pun sampai dua kali pada saat jaman Pangeran Losari dan jaman hancurnya Keadipatian Gebang.

"Jadi, kalau ada orang atau kelompok lain yang mengatasnamakan Keraton Gebang itu perlu dipertanyakan legitimasinya dari mana. Trahnya dari mana, dan dia menyandang gelar seperti apa, putra mahkota apa bukan, trah utama atau bukan, itu yang perlu dipelajari. Itu tidak berdasar karena pemangku adat (penerus) sampai sekarang pun dari Keraton Gebang itu masih ada, yaitu Elang Rayi atau Raden Fajarudin dari Elang Genan dan Ratu Esa," tuturnya, Sabtu (25/7/2020) malam.

Elang Gesang

Dikediamannya, di Jl. Mercedes Benz B1 No. 113 Taman Kalijaga Permai Kelurahan Kalijaga Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon, Elang Gesang menjelaskan Keraton Gebang itu berasal dari Kasultanan Cirebon dan identik dengan syiar Islam dan para pangerannya pun membawa agama Islam. "Jadi, sangat tidak berdasar jika agama Sunda Wiwitan atau agama yang sekarang lagi jadi isu di daerah Cigugur Kuningan itu berasal dari pinanggeran Gebang," jelasnya.

Ia mengatakan, keadipatian Gebang yang diakui oleh Paseban itu berawal dari keadipatian Gebang yang dianggap oleh keturunannya sebagai keraton. Karena, didalamnya ada Sultan Matangaji. Hanya keadipatian Gebang yang bergelar sultan bukan adipati atau demang. Dan, dirujuk oleh beberapa Keputusan Belanda dan lain-lain yang ada didalam sejarah bahwa Keraton Gebang itu adalah otonom. "Sementara, jika melihat Paseban itu sendiri tidak memiliki ciri khas atau tanda dari Keraton Gebang seperti keraton-keraton lainnya yang memiliki ciri khas tersendiri. Paseban itu identik dengan kesundaan. Sementara Keraton Gebang itu sendiri identik dengan batik-batik perjuangan. Jika paseban kulturnya lebih ke pertanian sementara dari Keraton Gebang sendiri kulturnya pada petani dan nelayan," terangnya.

Dia menegaskan, jika pihaknya sudah mendata dan berkoordinasi dengan beberapa pihak termasuk ke Gereja Khatolik untuk meminta data yang lainnya. "Nanti, mungkin kami akan melakukan pendekatan secara kekeluargaan dulu. Bila hal itu dibantah terus, maka kami akan berembuk dengan para Pinanggeran Gebang untuk mengambil langkah selanjutnya. Karena, kalaupun terjadi akan sangat berbahaya karena telah terjadi pencatutan gelar pangeran dan hukum pemerintah dari dulu sangat menghargai hukum adat. Pemerintah hanya menaungi bangunan-bangunannya sebagai Cagar Budaya, tapi soal hukum-hukum adat pemerintah masih menghargai," ujarnya.

Ketika ditanya, sekarang tampuk pimpinan atau pucuk pimpinan ada di Rama Djati Kusumah apa mungkin terjadi tentang gugurnya tahta atau masih berlanjut, Elang Gesang menjelaskan, gugur atau tidak adanya trah rama sepuh Madrais tapi bagi keturunannya dari rama sepuh Tedja Buana bahwa beliau sudah pindah keyakinan ke agama lain. Dan, secara hukum adat dan pepakem Kasultanan Cirebon biasanya akan gugur trahnya dan itu akan berlaku di silsilah atau pohon silsilah akan dicoret merah dengan siloka Pangeran Merah.

"Pangeran merah itu adalah pangeran yang di coret didalam standbook atau buku silsilah. Dan, tidak berlaku ke bawah keturunannya karena sudah dicoret merah dari atasnya. Jadi, sangat tidak berlaku dan tidak berdasar jika keturunan Rama Sepuh Tedja Buana memakai gelar trah kebangsawanan atau darah biru dari Keraton Gebang," jelas Elang.

Ia menambahkan, ada beberapa hal yang dapat menggugurkan gelar dari Kepinangeranan atau titel darah biru yang disandang didepan nama. Yang pasti itu beda masa, beda kerajaan, beda pepakem. "Nah, dari situ baru ada beberapa sandangan. Jika bicara soal Kyai Madrais itu bicara gelar dari lahir. Gelar dari lahir itu bisa gugur bila dia berubah atau pindah keyakinan atau pindah agama. Kedua, bila beliau pindah kerajaan, ketiga mungkin jadi penghianat dari suatu kerajaan dan yang keempat dan lain-lain sesuai dengan titah raja. Makanya, dalam nasab kita bersaudara tapi dalam trah belum tentu beliau atau orang yang berdarah biru itu menyandang pangeran, raden, elang didepan namanya," ungkapnya.

Gesang menghimbau kepada masyarakat jangan sampai terpancing kalau tidak menguasai permasalahannya. "Jaga keharmonisan, kerukunan beragama yang sudah ada. Mereka itu berawal dari perebutan harta gono gini," tandasnya. (Abel Kiranti)

Adat Karuhun Urang Sunda Wiwitan Elang Gesang Hariman Pinanggeran Gebang Pangeran Tursina bin Pangeran Ruslan Paseban Tri Panca Tunggal Gebang Kinatar Elang Gesang

Komentar

Berita Terkait