Gelar Istighosah, Warga Desa Luragunglandeuh Tolak Keberadaan Galian Pasir

By : BingkaiWarta - BingkaiWarta, 2020-02-17 08:43:29+07

Gelar Istighosah, Warga sfsf.jpg

Warga membentangkan spanduk kampanye penolakan keberadaan Galian C di Desa Luragunglandeuh, Kecamatan Luragung, Minggu (16/2/2020).

 

Kuningan – Puluhan warga Desa Luragunglandeuh, Kecamatan Luragung, yang terdiri dari para sesepuh, pemuda dan ibu-ibu menggelar Istighosah di Mushola An Najah, Blok Pahing, Minggu (16/2/2020).

Kegiatan ini dilakukan sebagai simbol penolakan terhadap Galian C yang dianggap merusak lingkungan. Warga memandang belum ada tindak lanjut dari pemerintah atas kondisi tambang tersebut, padahal masyarakat secara dominan menolak.

Turut hadir Ketua Lembaga Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LBH NU) Aufi, Ulama KH. Fery, serta Ketua Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan (AMPEL) Iwan Yazied.

Istighosah diawali dengan pembacaan shalawat Asyghil bersama-sama. Kemudian Mauihdhoh Hassanah oleh KH. Fery yang menerangkan bahwa setiap usaha yang dilakukan oleh siapapun harus tetap berpegang teguh pada Allah SWT. Ia pun menggambarkan peristiwa Badar sebagai bukti adanya pertolongan Allah SWT.

“Kanjeng Nabi Muhammad SAW dengan pasukan sedikit bisa mengalahkan Kafir Quraisy. Inilah bukti Allah mboten sare (tidak tidur).  Pertolongan Allah itu nyata,” kata KH. Fery.

Selepas melakukan Istighosah, Ketua Ampel Iwan Yazied, menjelaskan bahwa apa yang dilakukan oleh pihaknya merupakan upaya yang berpegang teguh pada amanah yang dinyatakan oleh KH. Ali Yefie.

Menurut Iwan, sesepuh NU tersebut menggagas fiqh lingkungan dimana melestarikan dan melindungi lingkungan hidup adalah kewajiban setiap orang yang berakal dan baligh, serta melakukannya pun adalah ibadah.

Dikatakannya, dalam memperjuangkan lingkungan dan menjaganya merupakan kewajiban yang tak terelakan bagi siapapun di tengah perusakan yang kian masif dilakukan oleh perusahaan tambang pasir. 

“Selain itu, perusahaan tambang pasir yang pada tahun 2022 habis masa kontraknya berniat memperpanjang kontrak dengan melakukan politik adu domba dan pecah belah dengan mengiming-ngimingi kompensasi yang tidak seberapa dibanding dengan kerusakan lingkungan. Kondisi tanah dan jalanan yang rusak serta yang paling parah adalah kerusakan dua titik mata air yang menjadi sumber kehidupam kaum tani dan masyarakat. Hal inilah harus kita sadari,” kata Iwan.

Ketua LBH NU Aufi, menambahkan, keberadaan Galian C di Desa Luragunglandeuh dinilai tidak demokratis. Sebab, dalam setiap penyusunan AMDAL-nya tidak melibatkan kaum tani, pemuda dan seluruh masyarakat Luragunglandeuh.

Selain itu, ia pun memandang bahwa keberadaan Galian C bukan jalan untuk mensejahterakan masyarakat. Ia meminta Pimpinan Daerah harus mengambil sikap tegas, karena warga Luragunglandeuh sudah tegas dengan penolakan Galian C.

“Dengan munculnya rentetan penolalan Galian C kita akan lihat keberpihakan Bupati. Apakah pada pengusaha atau rakyat? Turut serta bersama rakyat menolak perusakan Lingkungan atau pro Galian C?,” tandasya. (TedyAgeng)

2 months ago, by BingkaiWarta
Category : BERITA PILIHAN, SOSPOLHUKAM

Kontak Informasi BingkaiWarta.com

Redaksi : redaksi[at]bingkaiwarta.com
Iklan : iklan[at]bingkaiwarta.com









Berita Terkini

Categories