316
Tuesday, 06 April 2021 19:36 (2 bulan yang lalu)    Tulis Komentar

Ilusi Kesejahteraan di Lumbung Padi

Ilusi Kesejahteraan di Lumbung Padi

 

Oleh : Heka Syamsiah, S.Pi (Penggiat Literasi)

 

Pada tanggal 17 Maret 2021 Bupati Kuningan H. Acep Purnama, M.H. melakukan launching program Bunda Menyapa di Desa Cipetir , Kecamatan Lebakwangi. Program pemerintah daerah Kabupaten Kuningan untuk menciptakan Ketahanan Pangan. Menurut Bupati Acep, ketika setiap keluarga mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri,dengan mengoptimalkan setiap jengkal tanah yang dimiliki setiap keluarga, maka pemenuhan terkait gizi keluarga akan terpenuhi sehingga anggota keluarga sehat juga terhindar dari kemiskinan. (www.kuningankab.go.id 17/03/2021)

 

Tahun sebelumnya, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kuningan, Hj. Ika Acep Purnama menyampaikan saat memberikan sambutan dalam Acara Launching Program Bunda Menyapa (Membangun Desa Menata Sumberdaya Pangan Keluarga), di Desa Datar Kecamatan Cidahu, 06 pebruari 2020 bahwa dalam kehidupan, kita tidak terlepas dengan yang namanya pangan. Pangan merupakan kebutuhan pokok yang memberikan manfaat secara adil, merata dan berkelanjutan berdasarkan kedaulatan pangan. 

 

Bunda Menyapa meliputi berbagai kegiatan sebagai berikut. Bantuan sarana dan bibit holtikultura (sayuran dan buah-buahan), ikan dan ternak untuk budidaya pemanfaatan lahan keluarga khususnya pekarangan, Edukasi peningkatan pengetahuan dan kesadaran tentang konsumsi pangan berdasarkan kriteria B2SA, Edukasi peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam diversifikasi pengolahan bahan pangan (hasil pertanian keluarga).

 

Apakah benar dengan adanya Program Bunda Menyapa ini, masyarakat Kuningan akan terhindar dari krisis pangan, juga kemiskinan?

 

Program bunda menyapa sepertinya memang bagus, mengoptimalkan potensi wilayah Kabupaten Kuningan yang berada di lahan subur dan mudah tumbuh ketika menanam sayuran atau buah-buahan maupun untuk berternak kambing misalnya yang bisa memberi makan dari rumput yang tumbuh sembarang tanpa modal pakan.

 

Hanya saja, kalau dikaitkan dengan banyaknya kebutuhan masyarakat yang memang mendesak dan butuh segera, kita tidak bisa mengandalkan hasil dari apa yang kita tanam atau ternak. Pasti membutuhkan waktu untuk mendapatkan hasil nya. Sedangkan kebutuhan pangan harus setiap hari.

Saat ini kita berada dalam sistem kapitalisme sekuler yang masyarakat juga sudah di tanamkan gaya hidup yang serba instan, tanpa mau bersusah payah untuk mendapatkan sesuatu. Sangat jarang masyarakat yang mau terjun bercocok tanam maupun berternak. Apalagi belum ada keahlian atau skill yang tentu dibutuhkan ketika melakukannya.

 

Potensi Kuningan yang berada di wilayah timur Jawa Barat dengan luas lahan 511,53 km2 memiliki potensi sumberdaya yang luar biasa, mulai dari kehutanan, perkebunan, pertanian, perternakan, sumberdaya air, sumberdaya panas bumi dan sumberdaya pariwisata. 

Banyaknya sumberdaya yang dimiliki Kabupaten Kuningan seharusnya mampu berkontribusi bagi peningkatan kesejahteran masyarakatnya jika dijalankan sesuai dengan teori dan masyarakat dimudahkan dalam mengelolanya. Namun, ketika dikaitkan dengan keahlian dalam mengelola tentu tugas penguasa untuk menggali potensi masyarakat nya dan di bina keahlian mereka, sehingga mampu menciptakan hasil pangan yang bisa dirasakan oleh semua masyarakat. Tanpa dibebankan kepada masing-masing warga nya.

 

Warga Kabupaten Kuningan saat ini merupakan wilayah yang mempunyai mobilitas penduduknya yang tinggi dengan banyaknya masyarakat Kabupaten Kuningan yang bekerja di kota-kota besar untuk meningkatkan taraf kehidupannya. Seharusnya ini tidak terjadi, kalau pemerintah daerah nya mampu menggali potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang mengelolanya.

 

Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memberikan sebuah standar yang menjadikan keluarga di Indonesia termasuk sejahtera ketika memenuhi 23 indikator, diantaranya setiap keluarga minimal makan sehari dua kali, memakai pakaian yang berbeda ketika dirumah, bekerja, sekolah dan bepergian, bagian terluar dari lantai rumah bukanlah tanah, anggota keluarga beribadah secara teratur, ketika ada anak yang sakit dibawa ke pusat kesehatan, mempunyai tabungan juga diantara anggota keluarga yang berumur diatas 15 tahun mempunyai penghasilan tetap, itulah beberapa indikator tentang keluarga sejahtera.

 

Menyatakan masyarakat sudah sejahtera ataukah belum dalam sistem sekarang sepertinya tidak sama dengan sistem Islam. Badan Pusat Statistik dalam menghitung nilai kesejahteraan berdasarkan nilai rata-rata yang diambil dari sampling yang diambil, tidak orang per orang secara individu.

 

Islam merupakan agama yang diturunkan Allah SWT yang mampu memecahkan semua permasalahan manusia, termasuk kesejahteraan. Kesejahteraan dalam Islam sangat erat hubungannya dengan sistem pengaturan semua aspek lainnya, terutama siatem ekonomi. 

Dalam Islam menyatakan masyarakat sejahtera ketika setiap individu masyarakatnya terpenuhi sandang, pangan dan papannya, mereka di perhatikan individu per individu.

 

Allah swt mewajibkan dan memberikan dorongan spiritual kepada laki-laki agar bekerja untuk mencukupi kebutuhan pokok dirinya dan tanggungannya.

 

“ Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang m’aruf . Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.”( al Baqarah 233).

 

Islam telah menjadikan upaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer serta mengusahakannya untuk orang yang tidak bisa memperolehnya adalah fardhu. Dalam hal ini , syariah teleh merinci tatacara untuk membantu orang semacam ini. Islam mewajibkan nafkah kepada kerabat terdekat yang memiliki hubungan waris.

Apabila tidak memiliki sanak saudara yang menanggung nafkahnya maka kewajiban memberikan nafkah kepada orang miskin pindah ke Baitul Mal, pada pos zakat. Apabila tidak ada pos zakat, maka diambil dari kas Baitul Mal, dan apabila tidak ada sama sekali maka negara mewajibkan pajak atas harta orang-orang kaya artinya menjadi kewajiban seluruh kaum muslimin, lalu menyerahkannya kepada fakir miskin.

 

Wallohu ‘alam bishshowwab.

Ilustrasi Lumbung padi Kuningan

Komentar

Berita Terkait