2,134
Wednesday, 29 July 2020 21:25 (1 minggu yang lalu)    Tulis Komentar

Jaka Rumantaka Beberkan Sejarah Madrais dan Paseban

Jaka Rumantaka Beberkan Sejarah Madrais dan Paseban

Bingkaiwarta, KUNINGAN - Banyaknya versi cerita tentang sejarah Madrais dan Gedung Paseban yang berada di Kelurahan Cigugur Kecamatan/Kabupaten Kuningan membuat publik merasa bingung. Banyak masyarakat dari berbagai kalangan mempertanyakan tentang keaslian sejarah Madrais yang fenomenal pada jamannya berikut tentang berdirinya bangunan Paseban yang merupakan Cagar Budaya tapi menjadi rumah kediaman masyarakat adat AKUR (Adat Karuhun Urang) Sunda Wiwitan.

Untuk mencari kebenaran berdasarkan fakta dan nara sumber yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan, tim bingkaiwarta.com berusaha menemui Jaka Rumantaka yang merupakan keturunan asli dari Kyai Madrais.

Ditemui dikediamannya, Selasa (28/7/2020) sore, Jaka Rumantaka membeberkan sejarah tentang Kyai Madrais dan Paseban. Jaka Rumantaka yang mempunyai nama lengkap Raden Jaka Rumantaka Tahtadiningrat anak dari ibu Ratu Siti Jenar Alibassa dan bapaknya bernama Raden Mas Subagiardjo Natadiningrat yang merupakan keturunan dari Patih Gajah Mada (Majapahit) menjelaskan, berdasarkan Surat Keputusan Direktur Direktorat Sejarah dan Purbakala Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 3632/C.1/DSP/1976, Gedung Paseban Tri Panca Tunggal yang terletak di Desa Cigugur Kecamatan/Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat dinyatakan sebagai Cagar Budaya yang dilindungi.

jaka rumantaka

"Dalam hal ini, saya ingin meluruskan sejarah tentang bapak Kyai Madrais dan membersihkan nama beliau sebagai seorang muslim, sebagai seorang kyai yang besar pada jamannya, yang telah dicoreng moreng oleh Belanda saat itu dan sekarang dicoreng moreng oleh keturunannya sendiri," ungkap Jaka.

Ia menerangkan, Paseban dulunya bernama Pesantren Madrais, dan didirikan oleh bapak Kyai Madrais pada tahun 1840. Bapak Kyai Madrais lahir tahun 1818 yang merupakan keturunan dari Gebang, putra dari Pangeran Alibassa dengan ibu Ratu Kastewi cucu dari Pangeran Sutawijaya. Dia datang ke Cigugur bersama ibunya dengan diantar dua orang prajurit dari Gebang lalu dititipkan di lurah Sagarahiyang.

Menjelang usia tujuh tahun, untuk menutupi identitasnya dari serangan Belanda, Kyai Madrais diberi nama Taswan dan dia suka menggembala kerbau. Sedang nama dari Gebangnya yaitu Pangeran Sadewa  Alibassa Kusuma Wijaya. Pangeran Madrais mempunyai kakak yang bernama Ratu Fatimah yang tidak menikah dan tidak mempunyai keturunan.

"Informasi ini saya dapat dari lurah yang ada di Gebang. Bapak Kyai Madrais saat usia remaja datang ke Cigugur dan mendirikan pesantren pertama di Desa Cigugur yaitu di daerah Pakuwon dan pesantren kedua yang sekarang menjadi taman Paseban," ucapnya.

bukti sejarah paseban

Bapak Kyai Madrais membangun pesantren (yang sekarang Paseban) secara bertahap dari mulai rumah gubuk, sampai akhirnya membuat sebuah masjid disana. Bapak Kyai Madrais belajar ngajinya itu awalnya di Kasepuhan Cirebon. Dia termasuk murid yang paling pandai. Dan, istrinya pertama beliau juga turunan Kasepuhan Cirebon yang dikenal dengan sebutan Ma Empuh (Istri yang paling sepuh).

"Pada tahun 1901 dia dibuang ke Merauke oleh pemerintahan Belanda. Dikarenakan ajarannya disamping dia mendirikan pesantren, dia menyebarkan Islam, dia juga lebih menanamkan rasa Nasionalis. Jadi, kalau tanah kelahirannya diinjak oleh bangsa lain, dia akan lebih sakit dan tidak terima. Dan, kembali kurang lebih pada tahun 1908. Begitu kembali ke Paseban (yang dulunya pesantren Madrais), disana dia sudah ditunggu oleh 40 orang prajurit Mataram. Mereka bilang ke Kyai Madrais untuk segera menyerang Batavia. Karena sudah waktunya. Mereka bilang, jika mereka sudah mempunyai banyak ilmu untuk menghabiskan Batavia. Seperti ilmu Batara Karang dan Rawa Rontek dan sebagainya. Tapi, saat itu Kyai Madrais menjawab "Sudah buang saja ilmu-ilmu kalian, sudah bukan waktunya lagi diserang dengan cara begitu. Kita menyerang dengan halus dan dengan cara baik-baik," kata Jaka menirukan ucapan Kyai Madrais.

Jaka melanjutkan, saat Kyai dibuang ke tanah merah dengan tujuan untuk dibunuh oleh orang-orang sana yang biadab dan belum mempunyai adab. Tetapi, pada saat dia dibuang kesana, malah disembah-sembah. Dan, disini Kyai Madrais mempunyai kesempatan untuk orang yang tadinya biadab menjadi beradab. Dan, Kyai Madraislah yang pertama mengajarkan agama Islam ditanah merah tersebut. Akhirnya, Belanda kebingungan dan mengembalikan lagi Kyai Madrais ke Cigugur dengan catatan tidak boleh mendirikan lagi pesantren. Akhirnya, Kyai Madrais bercocok tanam dan kembali bertemu dengan murid-murinya. Kepada mereka, Kyai Madrais mengajarkan cara bercocok tanam. Disitulah dia memberikan pelajaran-pelajaran tentang Islam, tentang kehidupan, cara bertani dan sebagainya. Akhirnya, Kyai Madrais keluar masuk dari penjara dan dipersilahkan lagi mendirikan lagi pesantren asal harus menjungjung tinggi bangsa Belanda. Pesantren pun akhirya terus berjalan sampai tahun 1939 Kyai Madrais meninggal dunia secara Islam.

"Sebelum Kyai Madrais meninggal dunia, beliau saat itu Gunung Ciremai mau meletus dan sudah mengeluarkan lahar dingin, bukan lahar panas, saat itu ibu saya ikut ke Gunung Ciremai waktu Kyai Madrais mengobati Gunung Ciremai. Ibu saya ditandu, Kyai Madrais juga ditandu karena sudah sepuh dengan umur 119 tahun saat itu. Ketika sebelum ke Gunung Ciremai, Kyai Madrais minta ijin dulu ke Residence akan mengobati Gunung Ciremai yang akan meletus. Residence saat itu tidak mengijinkan karena bisa berbahaya. Kyai Madrais bilang, jika dirinya tidak diijinkan mengobati Gunung Ciremai, Jawa Barat akan meletus dan masyarakat akan habis termasuk tuan-tuan tidak akan bisa pulang. Akhirnya, Kyai Madrais diijinkan untuk naik ke Gunung Ciremai tapi tidak boleh banyakan. Sementara pengikut Kyai Madrais ratusan dan ikut mendaki Gunung Ciremai selama seminggu perjalanan karena sudah ada lahar dingin yang diinjak. Dia mengatakan kepada murid-muridnya jangan ada yang berkata panas. Sampai disana, dia nayuban (ngibing) sambil melempar sesuatu dan kesana dia membawa gamelan Simonggang yang sekarang berada di Paseban. Setelah gunung Ciremai reda, dia tidak kembali ke pesantren (Paseban, red) tapi dia bikin pesanggrahan dibawah kaki gunung Ciremai yaitu di Curug Goong. Sedangkan pesantrennya (Paseban, red) diteruskan oleh Pangeran Tedja Buana yaitu kakek saya," jelas Jaka.

Dia menambahkan, pada tahun 1939 Kyai Madrais wafat dalam keadaan Islam dan dikuburkan secara Islam di Blok Pasir sebelum Desa Cisantana tepatnya diatas lapang. Tadinya, batu biasa tapi sekarang sudah diperbaiki. "Dan,sayalah yang memegang kunci makam tersebut. Dan, sayalah yang suka membersihkan makam tersebut setiap Jumat Kliwon. Dan, siapapun yang memegang kunci itu pasti hilang. Termasuk orang-orang yang sekarang tinggal di Paseban. Dan, anaknya, Pangeran Tedja Buana meninggal secara Khatolik dan dimakamkan secara Khatolik juga," imbuhnya.

bukti sejarah

Kyai Madrais, islamnya itu islam thasawuf islam kebatinan. Sehingga kebatinannya juga sangat kuat kepada turunannya juga. Sekitar tahun 56 atau 58 Pangeran Tedja Buana yang mempunyai nama Jaka Sritunggal mendirikan Agama Djawa Sunda (ADS). Tapi dia tinggal di Cirebon. "Dan, yang menempati Paseban dulunya itu ibu saya Ratu Siti Jenar yang terkenal dengan Ratu Enay dan bapak saya Raden Mas Subgiardjo yaitu pada tahun 50'an. Saat itu, Pangeran Tedja Buana tinggal di Cirebon. Karena, waktu itu pasantren Kyai Madrais sering diserang oleh gerombolan Belanda dan Pangeran Tedja Buana ketakutan. Bapak saya seorang ABRI. Ketika ada penyerangan ke pesantren Madrais (Paseban) semua kabur yang ditinggalkan adalah ibu saya. Sementara bapak saya waktu itu sedang dinas di Kodim Cianjur. Mendengar pesantren diserang gerombolan, bapak saya datang dengan pasukannya dan mengejar gerombolan itu sampai dihabisi di gunung Ciremai," terang Jaka.

Menurut saksi waktu di Pengadilan saat Jaka berseteru dengan pihak AKUR Sunda Wiwitan, yaitu Pak Yusman, Pak Kyai Kholidin yang rumahnya depan Hotel Purnama, sekarang sudah sepuh, mereka mengatakan sampai tahun 50'an lebih masih ada masjid, dipakai sembahyang, dipakai terawehan. 

Terkait adanya kelompok yang mengatasnamakan AKUR Sunda Wiwitan, Jaka menegaskan bahwa dalam silsilah keluarganya di Cigugur dari dulu sejak jaman bapak Kyai Madrais dan atau jaman bapak Tedja Buwana Alibassa tidak ada masyarakat adat apapun dan tidak ada Pupuhu Adat apapun, juga tidak ada ketua adat apapun apalagi ketua adat yang goreng adat serta tidak ada mandat apapun dan tidak ada manuskrip apapun.

"Istilah "Manuskrip" adalah catatan harian Pangeran Kyai Madrais yang tidak bisa dibaca dan diterjemahkan oleh siapapun juga termasuk keturunannya. Manuskrip dijadikan landasan konstitusi masyarakat adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan Cigugur Kuningan dan pernah beberapa kali dibuktikan di Persidangan Pengadilan," ungkap Jaka. 

Ia mengatakan, kalau manuskrip tersebut dijadikan sebagai bukti sehingga ditolak dalam Persidangan Pengadilan dikarenakan tidak bisa dimengerti oleh aparat penegak hukum dan juga masyarakat umum. Walaupun sudah didatangkan seorang ahli Professor Tedi Permadi yang ditampilkan di persidangan sampai lebih dari lima (5) kali sebagai ahli tetapi penjelasannya sama tidak bisa membaca dan menterjemahkannya secara baik dan benar.

"Kakek buyut kami bapak Pangeran Kyai Madrais penganut ajaran agama Islam. Bapak Pangeran Tedja Buwana Alibassa penganut ajaran Agama Khatolik. Saya atas nama pribadi dan keluarga besar kami tidak setuju jika gedung Paseban berubah fungsi dan Cagar Budaya menjadi rumah kediaman Masyarakat Adat AKUR Sunda Wiwitan Cigugur. Masyarakat AKUR Sunda Wiwitan Cigugur yang baru muncul sekarang-karang ini tidak jelas legalitas keberadaannya, walaupun pimpinan AKUR itu adalah anak Djati Kusumah yang bernama Gumirat Barna Alam dan Dewi Kanti. Jangan sampai bersembunyi dalam ketiak kebudayaan dan mengatasnamakan budaya dan bersemayam dengan tenang di gedung Paseban sebagai Cagar Budaya Djati Kusumah. Pendiri dan pemimpin Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang (PACKU) Tahun 1981 namun "dilarang" dengan keluarnya Surat Keputusan Nomor : 44/K2.3/8/1982 tentang Pelarangan Terhadap Aliran Kepercayaan "Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang (PACKU)," ungkapnya.

Ia menyampaikan, "Demi keamanan, ketertiban dan ketentraman Negara Republik Indonesia khususnya masyarakat di Cigugur Kuningan Jawa Barat dan keluarga besar kami. Atas nama pribadi dan keluarga kami, kami mohon kepada pemerintah untuk melarang semua kegiatan masyarakat AKUR Sunda Wiwitan Cigugur. Apalagi dengan kondisi sekarang, karena kami tak ingin terulang kembali seperti tahun 1982. Keluarga besar kami merasa malu dan dipermalukan dengan adanya pernyataan-pernyataan yang selama ini membawa-bawa nama leluhur kami bapak Kyai Madrais maupun bapak Pangeran Tedja Buwana Alibassa oleh yang mengatasnamakan sebagai masyarakat Adat AKUR Sunda Wiwitan Cigugur," kata Jaka.

Terkait acara Seren Taun, dijelaskan Jaka, itu sebenarnya adalah hari lahir Pangeran Tedja Buana yang lahir pada tanggal 22 Rayagung. "Jadi, dulu tidak ada acara seren taun. Tapi ada juga Rayagungan memperingati hari besar Islam dan memperingati hari lahirnya Pangeran Tedja Buana dan endingnya berakhir pada 1 Muharam yaitu hari besar Islam yang disebut 1 Suro. Jadi, tidak ada seren taun. Seren taun diadakan oleh Pangeran Djati Kusumah dan nama pesantren Madrais diganti dengan nama Paseban oleh Pangeran Tedja Buana pada tahun 1976. Dan, dijadikan Cagar Budaya," pungkasnya. (Abel Kiranti)

Madrais Gedung Paseban Cigugur pesantren Cagar Buday Sunda Wiwitan Sejarah Madrais dan Paseban

Komentar

Berita Terkait