956
Tuesday, 04 August 2020 20:32 (1 bulan yang lalu)    Tulis Komentar

Kajari Kuningan Bingung Dengan Budaya AKUR Sunda Wiwitan

Kajari Kuningan Bingung Dengan Budaya AKUR Sunda Wiwitan

Bingkaiwarta, KUNINGAN - Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kuningan, L. Tedjo Sunarno yang juga merupakan Ketua Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Keagamaan (Bakor Pakem) menerima Audiensi Masyarakat Desa Cisantana dan Ormas Islam, di Aula Kejari, Selasa (04/08/2020).

Jangankan masyarakat umum, Kajari Kuningan pun merasa bingung dengan adanya kebudayaan masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur.

“Saya pribadi bingung, kalau itu budaya (Batu Satangtung,red), itu sudah ada seperti dulu dibangun. Kenapa baru akan dibangun. Kalau itu keyakinan, harusnya ada petunjuk dan lain-lain, kalau itu keyakinan. Tapi juga kan mesti dijelaskan. Mereka (Paseban,red) harus punya keterbukaan,” ungkap Kajari Kuningan.

Ia mengatakan, masyarakat AKUR itu bagian dari masyarakat Kuningan. Mereka itu aliran kepercayaan. Kalau kegiatan mereka sesuai aturan, tidak masalah. Tapi kalau hak-hak asasi mereka melampaui, sehingga melanggar hak asasi masyarakat lain, itu adalah sebuah masalah.

“Artinya, kalau kegiatan mereka (Masyarakat AKUR,red), meresahkan sesama masyarakat Kuningan, ini yang perlu dipahami bersama. Jangan sampai ada masyarakat resah,” ujarnya.

Menurut Kajari, terkait penyegelan Batu Satangtung itu karena pembangunannya tidak sesuai aturan. Ada hal-hal salah, dan perlu diluruskan. Sampai dimana masalahnya sekarang, Ia mengaku tidak tahu. Itu persoalan penyegel dan tersegel. Begitu pula dengan legalitas Masyarakat AKUR.

Tapi jika sampai Izin dikeluarkan Pemkab Kuningan, sedangkan Masyarakat AKUR diketahui melanggar aturan, kejaksaan punya hak membubarkan masyarakat AKUR demi kepentingan umum. Kepentingan bangsa. Sebab Ia konfirmasi ke Kesbangpol, masyarakat AKUR belum terdaftar.

“Keberadaan kejaksaan di Kuningan, untuk mendukung kebijakan pemkab agar berjalan baik. Dinikmati dan dirasakan semua masyarakat Kuningan. Penuh ketertiban, kenyamanan, kedamaian,” tuturnya.

Ia pun mengakui, adanya penolakan masyarakat Kuningan terhadap masyarakat AKUR. Ia mengingatkan, bupati ini bukan bupati satu kelompok. Jadi harus merangkul semua pihak. Jangan hanya pihak tertentu saja.

“Saya gak bisa ikut campur. Tapi andai kebijakan itu dilakukan bupati, mereka masyarakat AKUR dilegalkan, tapi bertentangan dengan aturan, kejaksaan akan membubarkan masyarakat AKUR,” tandasnya. (Abel Kiranti)

Budaya AKUR Sunda Wiwitan Kajari L. Tedjo Sunarno Ketua Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Keagamaan Bakor Pakem Desa Cisantana Ormas Islam Paseban Tri Panca Tunggal

Komentar

Berita Terkait