Kampus UNIKU Jadi Tempat Skrining dan Sosialisasi Penyakit Thalassemia

By : BingkaiWarta - BingkaiWarta, 2019-10-16 14:26:40+07

Kampus UNIKU Jadi Tempat Skrining dan sfsf.jpg

Corporate Secretary Assistant Manager Dinar Primasari, saat memaparkan materi dihadapan peserta skrining dan sosialisasi mengenai penyakit thalassemia, di Gedung Student Center Iman Hidayat Kampus I Universitas Kuningan, Jalan Cut Nyak Dhien, Rabu (16/10/2019).

 

Kuningan – Gedung Student Center Iman Hidayat Kampus I Universitas Kuningan, Jalan Cut Nyak Dhien, Kelurahan Windusengkahan, Kecamatan Kuningan, menjadi tempat skrining dan sosialisasi mengenai penyakit thalassemia yang dipandu oleh PT. Prodia Widyahusada Tbk, Rabu (16/10/2019).

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Rektor Universitas Kuningan Dr. H. Dikdik Harjadi, SE, M.Si, Ketua Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI) cabang Kuningan Dadi Rohandi, Corporate Secretary Assistant Manager Prodia Dinar Primasari, Branch Manager Prodia Cirebon Annisa Anggraeni, Unit Head Prodia cabang Kuningan E. Dwi Murwani, dan tim POPTI lainnya.

Corporate Secretary Assistant Manager Dinar Primasari, dalam pemaparan sosialisasi menerangkan, skrining thalassemia merupakan program CSR Prodia yang telah dilakukan secara berkelanjutan sejak tahun 2010.

Dengan adanya skrining thalassemia ini pihaknya berharap dapat turut berkontribusi dalam memutus mata rantai thalassemia di Indonesia. Selain skrining thalassemia, pihaknya juga aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai info kesehatan di berbagai kota di seluruh Indonesia.

“Thalassemia adalah penyakit kelainan darah yang diturunkan secara genetik yang memiliki jenis dan frekuensi terbanyak di dunia. Berdasarkan data dari Bank Dunia, 7% dari populasi dunia merupakan pembawa sifat thalassemia. Setiap tahun, sekitar 300.000-500.000 bayi baru lahir disertai dengan kelainan hemoglobin berat dan 50.000 hingga 100.000 anak meninggal akibat thalassemia dimana 80% dari jumlah tersebut berasal dari negara berkembang,” papar Dinar.

Menurut Dinar, Indonesia termasuk salah satu negara dalam sabuk thalassemia dunia, yaitu negara dengan frekuensi gen atau angka pembawa sifat thalassemia yang tinggi. Hal ini terbukti dari penelitian epidemiologi di Indonesia yang mendapatkan bahwa frekuensi gen thalassemia beta berkisar 3-10%. Saat ini, kata Dinar, jumlah penderita thalassemia sekitar 40% berada di Jawa Barat.

“Komitmen Prodia dalam memutus mata rantai penyakit Thalassemia di Indonesia diwujudkan melalui sosialisasi dan edukasi ke masyarakat terutama para pelajar sekolah menengah keatas dan universitas dan kegiatan skrining thalassemia di beberapa wilayah yang memiliki angka thalassemia yang tinggi,” kata Dinar.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, pembiayaan kesehatan untuk thalassemia menempati posisi ke-5 diantara penyakit tidak menular setelah penyakit jantung, kanker, ginjal, dan stroke. Biayanya sebesar Rp. 225 milyar rupiah di tahun 2014 dan menjadi 452 milyar rupiah di tahun 2015. Pada 2016 menjadi 496 milyar rupiah, 532 milyar di tahun 2017, dan sebesar 397 milyar sampai dengan bulan September 2018.

Atas upaya tersebut, Ketua POPTI cabang Kuningan Dadi Rohandi, berterima kasih kepada Prodia yang telah berbagi pengetahuan khususnya bagi generasi muda. Menurut Dadi, edukasi semacam ini bisa menambah pengetahuan untuk mencegah penyakit tersebut.

“Sosialisasi dan edukasi mengenai seluk beluk penyakit thalassemia perlu terus dilakukan terutama kepada generasi muda agar dapat mencegah penyebaran thalassemia,” kata Dadi kepada bingkaiwarta.com. (TedyAgeng)

1 month ago, by BingkaiWarta
Category : BERITA PILIHAN, SOSPOLHUKAM, PENDIDIKAN

Kontak Informasi BingkaiWarta.com

Redaksi : redaksi[at]bingkaiwarta.com
Iklan : iklan[at]bingkaiwarta.com











Berita Terkini

Categories