Kegaduhan Pasca Mutasi Dan Rotasi Di Lingkungan Pemerintah Daerah Kuningan

By : BingkaiWarta - BingkaiWarta, 2020-01-12 17:09:29+07

Kegaduhan Pasca Mutasi sfsf.jpg

Prosesi sakral pelantikan serta pengambilan sumpah jabatan Pimpinan Tinggi Pratama dan Administrasi di Lingkungan Pemerintah Daerah Kuningan di Gor Ewangga, Rabu (8/1/2020).

 

Kuningan – Usai dilangsungkannya pelaksanaan pelantikan serta pengambilan sumpah jabatan Pimpinan Tinggi Pratama dan Administrasi di Lingkungan Pemerintah Daerah Kuningan di Gor Ewangga, Rabu (8/1/2020) muncul kegaduhan dari berbagai polemik yang timbul akibat kekecewaan pada keputusan pihak Pemda, khususnya Baperjakat yang dianggap kurang adil, plus tidak profesional.

Timbulnya kegaduhan pasca pelaksanaan acara mutasi dan rotasi itu, menurut Pengamat Kinerja Aparatur Pemerintahan Daerah Kuningan, sekaligus Ketua Ikatan Penulis dan Jurnalis (IPJI) Kabupaten Kuningan Zulhisbi sangat wajar terjadi, karena bukan rahasia lagi, banyak kejanggalan yang dipertontonkan.

Padahal, Zul memandang, lamanya jeda pelaksanaan mutasi dan rotasi di Lingkungan Pemkab Kuningan, merupakan kesempatan untuk melakukan penataan sebaik-baiknya dalam menciptakan birokrasi yang bersih, mengedepankan profesionalisme, demi terwujudnya kinerja aparatur berdedikasi, loyalitas tinggi, serta mampu memberikan pelayanan prima pada masyarakat.

“Tapi apa kenyataanya? Malah bukan lebih baik dari pelaksanaan mutasi dan rotasi sebelumnya, dalam pelaksanaan sekarang, meskipun mereka (pihak Pemda) tidak mengakuinya, namun indikasi adanya nuansa muatan politik, unsur kedekatan, like and dislike dan lainya diduga sangat vulgar diperlihatkan,” ujar Zulhisbi.

Sebagai bukti, kata Zul, banyak kejanggalan-kejanggalan yang sangat kentara diperlihatkan, bahkan menabrak aturan dan perundang-undangan, seperti contoh, adanya pejabat sakti yang bisa meluncur bebas melewati satu fase, dari eselon 4a ke 3a, tanpa melaui jabatan eselon 3b, dari Kasubag langsung menjadi Kabag, bahkan melewati bawahnya yang berposisi Kasubag dengan pangkat lebih tinggi yakni 4a, sementara pejabat tersebut berpangkat 3d.

“Banyak pejabat senior dengan prestasi luar biasa, dan kepangkatan sangat memadai, bahkan tidak sedikit yang sudah direkomendasikan oleh atasannya, namun jangankan mendapat promosi, diperhatikanpun tidak, hanya di PHP-in saja,” kata Zul.

Zul mempertanyakan, sebetulnya standar apa yang dipakai dalam pengisian jabatan, sementara spoil system ternyata masih menggurita, seperti terlihat pada dinas-dinas teknis, masih banyak pegawai golongan 3d dengan jabatan staf cukup cakap dalam bekerja, tetapi mereka tetap abadi jalan di tempat, dan hasil kerjanya yang sangat bagus itu jangankan mendapatkan reward, diakui saja tidak.

“Celakanya, pada saat ada lowongan jabatan, misal karena pejabat sebelumnya pensiun, pegawai tersebut malah tersisihkan, karena diangkatnya pejabat baru yang datang dari instansi lain. Lebih ironis lagi, saat pejabat baru ini mulai bertugas, lagi-lagi yang harus bekerja adalah staf teknis, karena sang pemimpin itu ternyata tidak bisa bekerja, membuat surat saja tidak bisa, dan pintarnya hanya mengurus soal keuangan saja,”  ungkap Zul.

Jika kondisi seperti ini terus terjadi, Zul menegaskan, jangan berharap visi Kuningan Maju akan terwujud, malah sebaliknya, moal maju-maju (Bahasa Sunda = tidak akan maju), karena banyak melahirkan barisan sakit hati, serta tidak sedikitnya keberadaan para pemangku jabatan yang kurang profesional. (Yud’s)

9 days ago, by BingkaiWarta
Category : BERITA PILIHAN, SOSPOLHUKAM

Kontak Informasi BingkaiWarta.com

Redaksi : redaksi[at]bingkaiwarta.com
Iklan : iklan[at]bingkaiwarta.com














Berita Terkini

Categories