Lampu Merah di Perempatan Ciporang Mengganggu atau Menertibkan?

By : BingkaiWarta - BingkaiWarta, 2020-01-15 12:10:24+07

Lampu Merah sfs.jpg

Suasana di lampu lalu lintas di simpang empat Ciporang, Kecamatan Kuningan.

 

Kuningan – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kuningan hari Senin (13/1/2020), mengawali uji coba pemasangan lampu lalu lintas di simpang empat Ciporang, Kecamatan Kuningan.

Lampu lalu lintas atau yang biasa disebut masyarakat sebagai lampu merah ini dipasang di empat titik.

Uniknya, akibat kondisi geografis dari arah selatan - utara menanjak, maka lampu merah dari arah Universitas Kuningan menuju Kedungarum itu dipasang sedikit menjauh dari tanjakan atau di titik yang terbilang landai.

Di lampu lalu lintas tersebut ketika menunjukan warna merah membuat antrean kendaraan mengular sampai titik yang terbilang panjang. Peristiwa antrean kendaraan ini terutama di jalur Jalan RE. Martadinata atau arah barat – timur.

Tak sedikit pengendara yang mengeluh akibat panjangnya antrean kendaraan saat lampu merah ini. Terutama pengendara yang hendak ke kampus I Univeristas Kuningan.

Haduh macet di perempatan Ciporangna. Aya lampu merah ayeuna mah,” ketus salah seorang pengendara di area kampus I Universitas Kuningan yang enggan disebutkan identitasnya.

Ditanya apakah lebih baik setelah atau sebelum dipasang lampu merah, pengendara tersebut tidak bisa menyimpulkan, “Yang jelas sekarang mah macet,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan pengendara lain yakni Ahmad Musyaffa Aufi. Menurut dia, pemasangan lampu lalu lintas di simpang empat Ciporang malah sangat mengganggu. Sebab, kendaraan menumpuk dan terjadi kemacetan.

“Lampu merah perempatan Ciporang, ganggu banget. Kendaraan malah tumplek, macet,” sebutnya, Senin (13/1/2020).

Disamping itu, Musyaffa yang akrab disapa Auf ini juga menyoroti kebijakan Pemerintah Daerah terkait keselamatan pengendara karena banyaknya jalan rusak, “Pemda enggak sigap soal ini ketika menghadapi musim hujan,” sebutnya.

Lampu sfsfwww.jpgSementara, Kepala Dishub Kabupaten Kuningan Drs. Jaka Chaerul, ketika dikonfirmasi bingkaiwarta.com, mengatakan bahwa lampu lalu lintas di perempatan Ciporang penerapannya sama dengan lampu lalu lintas di tempat lainnya, serta bertujuan untuk ketertiban dan keselamatan berkendara.

Mekanismenya pun menggunakan interval waktu yang berbeda antara arah barat dan timur, serta selatan dan utara, karena melihat volume kendaraan. Menurut Jaka, arah barat – timur memiliki volume kendaraan yang paling banyak sehingga waktu lampu merah berbeda dengan arah selatan – utara.

“Semuanya dilakukan hanya untuk ketertiban. Sebab, kalau tidak dipasang traffic light itu kelihatan semerawut. Semua pengen masuk, dari sini masuk-masuk akhirnya merepotkan para petugas di sana,” kata Jaka, Rabu (15/1/2020).

Ia pun berharap dengan adanya lampu lalu lintas para pengendara bisa sadar dan tahu bahwa tujuannya adalah untuk ketertiban dan keselamatan.

“Makanya traffic light yang dipasang di sebelah selatan di bawah, karena apa? Kalau dipasang di atas, dalam kondisi tidak landai, itu kalau kendaraan mundur dan terjadi benturan kendaraan yang tanggung jawab Dinas Perhubungan sebagai penyedia peralatan itu,” sebutnya.

“Kita tetap uji coba. Jadi dibuatnya traffic light di sana tujuannya adalah memenuhi kebutuhan pemakai jalan. Tujuannya adalah untuk keselamatan. Traffic light itu untuk keselamatan pengguna jalan, termasuk keselamatan para pengendara. Wayahna macet sakedik, tapi keselamatan terjaga,” tutup Jaka. (Redaksi)

7 days ago, by BingkaiWarta
Category : BERITA PILIHAN, SOSPOLHUKAM

Kontak Informasi BingkaiWarta.com

Redaksi : redaksi[at]bingkaiwarta.com
Iklan : iklan[at]bingkaiwarta.com














Berita Terkini

Categories