Mari Belajar Memaknai Sabar dan Ikhlas Secara Benar

By : BingkaiWarta - BingkaiWarta, 2019-01-21 18:33:45+07

Mari Belajar Memaknai Sabar dan Ikhlas Secara Benar 1.jpg

Ilustrasi.

 

Kuningan – Istilah sabar dan ikhlas adalah suatu kata yang tentu tidak asing bagi kita semua, terutama bagi saudara muslimin muslimat yang ada di seluruh Indonesia. Tapi apakah kita semua sudah dapat memahami dan memaknai serta menerapkannya dengan benar atau sekedar kata saran atau pengingat yang hanya basa basi tanpa arti?. Pada kesempatan ini, penulis mencoba merangkum definisi sesungguhnya dari kedua kata ini, semoga menjadi pengingat bagi kita semua agar dapat memaknai dan menerapkan sabar dan ikhlas secara benar dan dapat membantu sebagai salah satu sikap dalam menjalani hidup keseharian kita.

 

Makna Sabar

Sabar adalah menahan diri dari segala gundah-gulana dan emosi, menahan lisan dari keluh kesah, menahan anggota tubuh dari perbuatan buruk, serta bertahan dalam kondisi apa pun seraya terus berserah diri kepada Allah SWT. Sabar yang sempurna itu harus mencakup ketiga hal berikut ini: Sabar dalam melaksanakan taat kepada Allah, Sabar dalam menjauhi kemaksiatan dan Sabar dalam menerima takdir Allah.

 

Seperti pernah penulis bahas pada artikel sebelumnya, muslim yang sabar itu memiliki banyak keuntungannya, antara lain: Allah menjanjikan kabar gembira bagi yang sabar (surga), diberi kemudahan mengambil hikmah setiap kejadian, dijadikan orang-orang yang mulia, akan memperoleh keberuntungan dan keselamatan, senantiasa bersama Allah dan memperoleh predikat orang bertaqwa.  Berikut ini disampaikan kembali sebagian kecil dari perintah untuk bersabar.

Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah dalam memerintahkannya.” (QS. Thaha: 132).

 “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu,  sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. ” (QS Al-Baqarah: 153).

Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu.” (QS. Al-Insan: 24).

"Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Anfal:46).

“...dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun” (Sesungguhnya kami adalah milik Alloh dan kepada-Nya-lah Kami kembali.)” (QS. Al-Baqarah: 155-156).

 

Makna Ikhlas

Ikhlas, secara bahasa bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Ikhlas adalah menghendaki keridhaan Allah dalam suatu amal perbuatan, membersihkannya dari segala keinginan kepentingan dari individu maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal, kecuali karena Allah dan demi hari akhirat.

 

Ikhlas juga bermakna memurnikan tujuan segala sesuatu hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya dan membersihkan segala niat dari pamrih kepada makhluk, dengan selalu melihat kepada Allah. Ikhlas adalah perbuatan shaleh yang semata-mata untuk mendapatkan keridhoan Allah dan bukan untuk mendapatkan pujian. Orang yang ikhlas akan menjadikan segala amalnya murni diniatkan hanya untuk semata mata beribadah pada Allah dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal. Orang yang ikhlas akan melakukan suatu hal kebaikan dengan ataupun tanpa diketahui orang lain, karena yakin bahwa Allah maha mengetahui.

 

 

Orang-orang yang ikhlas dalam ibadahnya akan memiliki ciri, antara lain:

  1. Selalu beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.” (QS At-Taubah: 44-45).
  2. Terus terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah).
  3. Dalam kontek dakwah, seorang pendakwah yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi ditangan saudaranya sesama dai, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya. Pada dasarnya saling mendukung untuk menyebarkan pengetahuan keislaman kepada umat, bukan berlomba mencari ketenaran apalagi materi.

 

Keutamaan ikhlas adalah karena ikhlas merupakan syarat diterimanya amal. Sesungguhnya setiap amal harus mempunyai dua syarat yang tidak akan di terima di sisi Allah, kecuali dengan keduanya. Pertama. Niat dan ikhlas karena Allah. Kedua. Sesuai dengan Sunnah rasululloh Muhammad SAW.

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah dia mengerjakan amal shalih dan janganlah dia mempersekutukan seorangpun dengan Rabb- nya” (Qs Al Kahfi : 110).

Menerapkan ikhlas dalam melakukan amal perbuatan adalah bukan perkara yang mudah, bahkan para ulama telah menegaskan bahwa sangatlah berat dan sulit untuk mewujudkan ikhlas dalam hati kecuali apabila diberikan kemudahan oleh Allah, sehingga sedikit sekali perbuatan yang dikatakan murni ikhlas karena Allah. Dan sedikit sekali orang yang memperhatikannya, kecuali orang yang mendapatkan taufiq (pertolongan dan kemudahan) dari Allah. Adapun orang yang lalai menjaga ikhlas, maka ia akan senantiasa melihat pada nilai kebaikan yang pernah dilakukannya, padahal pada hari kiamat kelak, perbuatannya itu justru menjadi keburukan, sebagai mana firman Allah dalam alquran: “Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. (Al Kahfi : 103-104).

Rosululloh Muhammad SAW mengajarkan doa, agar diberikan kekuatan hati untuk senantiasa ikhlas yaitu : “Ya, Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu”.

Berbeda dengan sabar yang dapat dilihat, dirasakan dan terkadang dinilai oleh manusia lainnya, Ikhlas pada dasarnya adalah sesuatu yang sangat sulit dilihat atau dirasa manusia lain dan hanya bisa diketahui oleh hati orang yang melakukan amal perbuatannya saja dan hanya diketahui oleh Allah SWT. Semoga kita semua termasuk kelompok yang diberikan taufik untuk senantiasa meluruskan niat dan menjaga keihklasan kita. Wallahualam bishawwab.  

 

 

Referensi

1.Alquran

  1. Hadist
  2. https://almanhaj.or.id/2977-pengertian-ikhlas.html

4.http://www.dakwatuna.com/2008/05/03/582/tiga-ciri-orang-ikhlas/#ixzz5d7UzKpuF

 

Penulis : Riki Irfan MSi (Dosen Praktisi dan Pemerhati Pendidikan)

5 months ago, by BingkaiWarta
Category : BERITA PILIHAN, ARTIKEL

Kontak Informasi BingkaiWarta.com

Redaksi : redaksi[at]bingkaiwarta.com
Iklan : iklan[at]bingkaiwarta.com






















Berita Terkini

Categories