Mencari Pemimpin Yang Ikhlas

By : BingkaiWarta - BingkaiWarta, 2019-01-29 20:49:51+07

Mencari Pemimpin Yang Ikhlas.jpg

Ilustrasi.

 

Kuningan – Penyakit jahil atau penyakit hati yang masih dapat diobati adalah penyakit orang yang haus petunjuk dan tuntunan. Ia berakal sehat dan memiliki pemahaman, ia tidak terpengaruh oleh sifat iri dan dengki, ia juga tidak berambisi untuk memegang kepemimpinan, atau kedudukan, ia tidak terbius harta dan kemegahan, ia semata-mata hanya mencari jalan yang lurus. Ia mengajukan pertanyaan dan berdebat semata-mata mencari ridho Allah, serta semua itu ia lakukan tanpa didasari kebencian, kedengkian dan niat untuk menjatuhkan atau menguji pihak lawan bicara.

Penyakit bathin yang seperti ini masih bisa diobati. Oleh karena itu, bila kita bertemu dengan orang seperti ini, jawablah pertanyaannya dengan serius, bahkan kita wajib memberikan penjelasan kepadanya. Sementara, penyakit jahil yang tidak bisa diobati diantaranya yaitu orang yang mengajukan pertanyaan, atau pernyataan dan perdebatan disertai dengan perasaan dengki dan iri hati. Dia tidak akan menerima keterangan kita, sekalipun kita sudah berusaha menjawab pertanyaanya dengan bijaksana dan sebaik-baiknya. Jawaban yang kita berikan hanya akan menambah kedengkiannya, bahkan bisa meningkat menjadi permusuhan.

Yang paling baik dalam menghadapi orang seperti ini adalah tidak menghiraukan segala pertanyaannya. Jadi, sebaiknya kita berpaling dari orang-orang yang yang hasud atau berpenyakit hati seperti itu, biarlah dia mengumbar nafsu hasudnya, tidak perlu ditanggapi. Sebagai rujukan bukalah surat An-Najm : 29 “Orang yang hasud dalam perkataan dan perbuataanya hanyalah menyalakan api yang akan membakar amal kebajikannya yang telah dilakukannya,”.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Hasud akan melalap amal kebajikan sebagaimana api melahap kayu bakar“. Kalau bertanya pada diri sendiri, apa sih yang sebenarnya orang perdebatkan? Kepemimpinan? Kedudukan? Pasangan hidup? Pengaruh? Ilmu atau kepandaian? Haruskah karena itu manusia saling mencela? Mengumpat? Memusuhi? Bahkan sampai menghunus pedang? Apa tidak ada yang patut dicari dan dibicarakan dengan akal sehat, selain berjuang atas egonya sendiri yang sebenarnya itu termasuk dalam golongan penyakit hati?

Ataukah sebagai manusia akan terus merasa diri lebih dan pintar dari orang lain? Sementara hati kecil mengakui diri masih teramat kurang dalam segala hal. Malukah kita mengakui diri bodoh sehingga bersiasat mencari alasan atau pembenaran yang jelas-jelas salah demi jaga gengsi? Malukah kita untuk bertanya dan mengakui kelebihan orang lain? Tidak relakah kita bila melihat orang lain bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan atau yang tidak kita miliki? Alangkah malangnya bila dalam diri ini ada penyakit-penyakit semacam itu.

Jadi, jelas untuk menjadi seorang pembimbing atau pimpinan itu tidak harus lewat keinginan pribadi atau perdebatan, atau mungkin cara-cara halus lainnya yang bersifat samar dengan ragam alasan. Orang patut jadi pembimbing adalah orang yang benar-benar alim, yang telah sanggup melepaskan diri dari belenggu cinta dunia dan ambisi kepemimpinan. Biasanya orang yang kebelet jadi pemimpin itu suka menyimpan maksud lain diluar ucapannya, di luar programnya, dan di luar janjinya sebelum jadi pemimpin.Yang kesemua itu ditujukan untuk kepentingan Egonya sendiri.

Bahaya sekali bila satu perkumpulan dipegang oleh pribadi yang tidak jelas apa maunya untuk atau setelah jadi pemimpin. Biasanya, bila orang berkeinginan itu suka berfose kalimat yang manis, bersikap wangi dengan janji-janji, bahkan berargumen seolah-olah bahwa dialah yang punya kemampuan dan pintar. Terkadang sikap ingin menang sendirinya lebih menonjol dari kebenarannya. Suka menjilat dan masuk sana masuk sini, guna mendapatkan dukungan, bahkan terkadang pakai siasat siluman, sikat sana sikat sini.

Apakah mental seperti itu yang diharapkan dari seorang pembimbing, atau pemimpin? Sementara untuk mendidik dirinya saja belum bisa? Bukankah seorang pembimbing atau pemimpin itu, dia yang selalu hati-hati mendidik dirinya sendiri? Ia menyedikitkan makan, tidur dan bertutur kata. Ia memperbanyak shalat, sedekah dan puasa. Kehidupannya dihiasi dengan ahlak yang mulia, sabar dan syukur. Ia selalu tawakal, ikhlas, yakin dan menerima apa adanya, serta berlaku benar. Ia juga punya sifat pemalu, menepati janji, tabah, tenang dan tidak tergesa-gesa.

Orang yang telah mempunyai sifat-sifat tersebut berarti telah memilikii sebagian Nur Muhammad SAW. Ia patut dijadikan pembimbing. Namun, orang seperti ini amat sulit ditemukan, bahkan lebih sulit daripada mencari mutiara di dasar samudera.

Akhirnya, petikan kalimat diatas itu, semoga jadi bekal perenungan dalam menyikapi agar diri tidak terjebak dalam pertengkaran yang disebabkan dari persoalan atau perdebatan baik secara terbuka atau diam-diam tentang satu posisi yaitu KEPEMIMPINAN atau KEPEMBIMBINGAN. Semoga ada hikmahnya...

 

Penulis : Abel Kiranti

5 months ago, by BingkaiWarta
Category : BERITA PILIHAN, ARTIKEL

Kontak Informasi BingkaiWarta.com

Redaksi : redaksi[at]bingkaiwarta.com
Iklan : iklan[at]bingkaiwarta.com






















Berita Terkini

Categories