260
Saturday, 17 July 2021 13:26 (1 minggu yang lalu)    Tulis Komentar

Meneladani Kesabaran Dan Keikhlasan Dua Manusia Yang Shalih

Meneladani Kesabaran Dan Keikhlasan Dua Manusia Yang Shalih

Penulis : Sutrisna Muarif Habib (Mahasiswa Fakultas Ilmu Keislaman Unisa Kuningan)

Tepat pada tanggal 10 dzulhijjah (menurut perhitungan kalender hijriyah) umat Islam di seluruh penjuru dunia merayakan hari raya Idul Adha. Pada hari raya ini, sama seperti halnya di hari raya Idul Fitri, umat Islam secara berjama’ah melaksanakan shalat sunnah Id di Masjid maupun di lapangan terbuka di daerahnya masing-masing. Namun ada hal yang menarik dan tentunya yang menjadikan hari raya Idul Adha ini berbeda dengan hari raya Idul Fitri, yaitu adanya pelaksanaan Ibadah Qurban.

Dalam pengertian syara’ Qurban dapat berarti menyembelih hewan dengan tujuan mendekatkan diri (ibadah) kepada Allah SWT. yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha (setelah shalat sunnah Id) dan tiga hari tasyriq yaitu pada tanggal 11, 12 dan 13 bulan dzulhijjah. Hewan yang boleh disembelih dalam ibadah Qurban adalah hewan ternak yaitu sapi, kerbau, domba (biri-biri), kambing dan unta. Daging hasil penyembelihan hewan qurban itu kemudian disalurkan ke seluruh elemen masyarakat baik itu dari golongan kaya maupun golongan fakir miskin. Hukum melaksanakan ibadah qurban adalah sunnah muakad, namun menurut Imam Abu Hanifah bagi penduduk yang mampu dan tidak dalam keadaan shafar (bepergian)  hukum ibadah qurban adalah wajib.

Sejarah asal mula ibadah Qurban yaitu berawal dari kisah Nabi Ibrahim A.S. yang sudah sangat tua dan tak kunjung dikaruniai keturunan. Dalam keadaan yang demikian itu, beliau berdoa kepada Allah agar segera diberikan kepadanya keturunan yang shalih. Allah-pun mengabulkan doa Nabi Ibrahim dengan mengaruniakannya seorang anak laki-laki yaitu Nabi Isma’il. Nabi Isma’il sendiri lahir dari rahim seorang ibu yang bernama Siti Hajar (istri kedua Nabi Ibrahim).

Ketika usia Nabi Isma’il sudah beranjak remaja (diperkirakan berusia 14 tahun), Nabi Ibrahim bermimpi diperintah oleh Allah untuk menyembelih Nabi Isma’il. Nabi Ibrahim kemudian menceritakan mimpinya itu kepada Nabi Isma’il serta meminta pendapat dari anaknya tersebut perihal mimpi yang dialaminya itu. Nabi Isma’il bukannya takut, ia malah meminta ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah dalam mimpi ayahnya itu. Hal ini diabadikan dalam Al-Qur’an surrah Ash-Shaffat ayat 102 yang artinya :

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (Q.S. Ash-Shaffat : 102)

Setelah mendiskusikan mimpi itu, dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, mereka sepakat untuk merealisasikan perintah Allah tadi. Kemudian Nabi Ibrahim membaringkan Nabi Isma’il di wilayah Mina, Makkah untuk disembelih. Ketika Nabi Ibrahim menggesekkan pedangnya ke atas tengkuk Nabi Ismail, pedang itu tidak memotong Nabi Ismail, melainkan Allah menggantinya dengan seekor sesembelihan yang besar, Nabi Ismail-pun selamat dari peristiwa penyembelihan itu. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an :

“Lalu kami panggil dia, ‘wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya itu benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sesembelihan yang besar’ .” (Q.S. Ash-Shaffat: 104-107)

Allah sebenarnya hendak menguji sejauh mana kecintaan serta keimanan nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il kepadanya. Keduanya (Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il) ternyata berhasil lulus menyelesaikan ujian ini. Kemudian dengan adanya peristiwa penyembelihan itu, dimulailah kegiatan berqurban oleh kaum muslimin pada hari raya Idul Adha sampai saat ini.

Dari refleksi kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di atas, ada hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil. Dari Nabi Ibrahim kita dapat melihat betapa beliau dengan sabar dan ikhlas menjalankan perintah Allah untuk menyembelih putranya yang padahal sebelumnya berpuluh-puluh tahun lamanya ia nantikan kehadirannya di dunia ini. Begitupun Nabi Ismail, ia sabar dan ikhlas ketika dirinya akan disembelih oleh ayahnya karena semata-mata untuk mentaati perintah Allah dalam mimpi ayahnya itu. Mereka berdua adalah orang-orang yang sangat shalih, yang harus kita jadikan suri tauladan. Kecintaan mereka kepada Allah sangatlah besar, sehingga segala yang Allah perintahkan kepada mereka, dilaksanakannya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail diatas hendaknya menyadarkan kita untuk terus melakukan introspeksi terhadap diri sendiri apakah kita sebagai makhluk Allah sudah benar-benar mencintai Allah sang khaliq dengan menta’ati segala perintahnya dengan sabar dan ikhlas sebagaimana yang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail lakukan? Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan pada kita untuk bisa mencintainya dengan menta’ati segala perintahnya dengan rasa sabar dan ikhlas serta terus Istiqomah dalam hal itu. Dan semoga kita diberikan umur panjang serta kelapangan rizki untuk kita bisa berqurban pada hari raya Idul Adha yang akan datang Aamiin...

Idul Adha

Komentar

Berita Terkait