4,432
Wednesday, 18 April 2018 23:46 (2 tahun yang lalu)    Tulis Komentar

Mengenal Gunung Api, Bahaya dan Manfaatnya

Mengenal Gunung Api, Bahaya dan Manfaatnya

Bingkaiwarta, KUNINGAN – Sebagai daerah yang berada dekat dengan gunung Ciremai, masyarakat Kabupaten Kuningan selalu disuguhkan pemandangan yang menarik sehingga memanjakan mata setiap kali memandang ke arah barat atau ke arah Ciremai.

Namun meski demikian, gunung Ciremai yang merupakan jenis gunung berapi itu memiliki manfaat dan bahayanya lho. Mari kita simak sebuah tulisan edukatif yang ditulis oleh sahabat kita Riki Irfan, ST., M.Si., berikut ini.

A.    Pengertian Gunung Api

Gunung api diartikan sebagai gunung yang terbentuk akibat material hasil erupsi yang menumpuk di sekitar pusat erupsi atau gunung yang terbentuk dari erupsi magma. Gunung berapi atau gunung api juga dapat didefinisikan sebagai suatu sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair atau lava) yang biasanya memanjang dari kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan dipermukaan (bisa berbentuk kerucut ataupun kubah) yang merupakan hasil akumulasi material yang dikeluarkan pada saat meletus.

B.     Proses Terbentuknya Gunung Api

Gunung api terbentuk dikarenakan lapisan kerak bumi (lempeng) terpecah menjadi beberapa lempeng tektonik utama yang kaku yang mengambang di atas lapisan mantel yang lebih panas dan lunak. Kemudian lempeng tersebut bergerak, bertumbukan, berpisah, bergeser, hingga suatu saat memungkinkan lapisan panas dibawahnya (magma panas dan bertekanan tinggi) akan naik kepermukaan bumi melalui retakan, dan celah pada lapisan kerak bumi. Pada saat magma muncul ke permukaan, magma disebut sebagai lava dan peristiwanya disebut erupsi atau letusan gunung berapi.

Letusan yang dahsyat saat erupsi biasanya terjadi karena magmanya kental dan bertekanan sangat tinggi. Namun, ada pula letusan yang lemah karena magmanya encer dan bertekanan rendah (seperti yang terjadi dengan gunung di Hawaii). Bila kejadian erupsi ini berlangsung berulang kali, maka lambat laun titik letusannya akan bertambah tinggi, karena bertumpuknya hasil letusan sebelumnya. Tumpukan berbagai macam hasil letusan inilah yang menyebabkan bentuk gunung api perlahan tapi pasti akan terlihat mirip dengan bentuk ‘segitiga’ (bila dilihat dari jauh).

C.    Jenis Jenis Gunung Api

Ahli Vulkanologi (ahli ilmu tentang gunung berapi) telah membagi jenis gunung api berdasarkan beberapa faktor, yaitu :

  1. Berdasarkan aktivitasnya, antara lain :
  • Gunung api aktif, yang masih bekerja dan mengeluarkan asap, gempa, dan letusan.
  • Gunung api mati, yang tidak memiliki kegiatan erupsi sejak tahun 1600.
  • Gunung api istirahat, yang dapat meletus sewaktu-waktu, kemudian beristirahat. Contoh, Gunung Ceremai dan Gunung Kelud.
  1. Berdasarkan bentuk dan proses terjadinya, antara lain:
  • Gunung api Maar, berbentuk seperti danau kawah. Terjadi karena letusan besar yang kemudian membentuk lubang besar di bagian puncak. Bahan-bahan yang dikeluarkan berupa benda padat/effiata. Contoh, Gunung Lamongan di Jawa Timur.
  • Gunung api kerucut/srato, yaitu jenis gunung api yang paling banyak dijumpai. Berbentuk seperti kerucut dengan lapisan lava dan abu yang berlapis-lapis. Terjadi karena letusan dan lelehan batuan panas dan cair. Lelehan yang sering terjadi menyebabkan lereng gunung berlapis-lapis sehingga disebut strato. Sebagian besar gunung api di Indonesia masuk dalam kategori gunung api kerucut. Contoh, Gunung Merapi.
  • Gunung api perisai/tameng, berbentuk seperti perisai, terjadi karena lelehan yang keluar dengan tekanan rendah, sehingga nyaris tidak ada letusan dan membentuk lereng yang sangat landai dengan kemiringan 1 sampai 10 derajat. Contoh gunung api perisai/tameng antara lain Gunung Maona Loa Hawaii di Amerika Serikat.
  • Cinder Cone, berbentuk mangkuk dipuncaknya, Merupakan gunung berapi yang abu dan pecahan kecil batuan vulkanik menyebar di sekeliling gunung. Sebagian besar gunung jenis ini membentuk mangkuk di puncaknya. Jarang yang tingginya di atas 500 meter dari tanah di sekitarnya.
  1. Berdasarkan frekuensi letusan, antara lain:

Kalangan vulkanologi Indonesia mengelompokkan gunung berapi ke dalam tiga tipe berdasarkan catatan sejarah letusan/erupsinya, yaitu :

  • Gunung api Tipe A : tercatat pernah mengalami erupsi magmatik sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600.
  • Gunung api Tipe B : sesudah tahun 1600 belum tercatat lagi mengadakan erupsi magmatik namun masih memperlihatkan gejala kegiatan vulkanik seperti kegiatan solfatara.
  • Gunung api Tipe C : sejarah erupsinya tidak diketahui dalam catatan manusia, namun masih terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapangan solfatara/fumarola pada tingkah lemah.

 

D.    Bahaya Dan Manfaat Dari Letusan Gunung Api

Kabupaten Kuningan Jawa Barat terletak sangat dekat dengan gunung Ciremai, yang merupakan salah satu gunung api tipe A, tentu sangat perlu seluruh warga untuk mengetahui dan memahami bahaya apabila gunung Ciremai meletus. Perlu diketahui bahwa sangat sulit untuk menentukan keadaan sebenarnya dari suatu gunung berapi itu, apakah gunung berapi itu berada dalam keadaan istirahat atau telah mati. Kita perlu tetap waspada dan mengikuti arahan pemerintah jika ada tanda tanda gunung akan meletus, karena pemerintah melakukan pemantauan secara terus menerus terhadap kondisi semua gunung api (termasuk gunung Ciremai) yaitu dengan memasang alat pengamat aktivitas kegempaan dan memonitor perubahan suhu kawahnya.

Meskipun sudah dimonitor, hal itu tidak dapat mencegah gunung api untuk meletus karena memang pada dasarnya letusan gunung api adalah hukum alam demi menjaga keseimbangan tekanan di dalam bumi, agar gunung selalu menjadi “paku bumi” menjaga lempengan bumi tidak bergerak terlalu bebas. Jika gunung Ciremai meletus, tentu menyebabkan bencana dan menimbulkan permasalahan baik itu kerusakan fisik dan terganggunya kegiatan warga Kuningan dan sekitarnya.

Apabila gunung berapi meletus, magma yang terkandung di dalam kamar magma di bawah gunung akan keluar sebagai lahar atau lava. Selain dari aliran lava, kehancuran oleh gunung berapi disebabkan melalui berbagai cara seperti berikut: aliran lumpur, abu/debu vulkanik, kebakaran hutan, gas beracun, gelombang tsunami dan gempa bumi. Letusan atau erupsi gunung berapi dapat menimbulkan dampak tidak hanya terhadap daerah di dekat letusan namun juga dapat berdampak pada area yang jauh dari gunung api tersebut bahkan bisa mencapai radius puluhan hingga ratusan kilometer.  

D.1   Dampak negatif dari letusan gunung berapi, antara lain:

  1. Abu vulkanik yang panas akan merusak segala yang dilewatinya.
  2. Pencemaran udara. Abu gunung berapi memiliki beberapa kandungan zat berbahaya seperti : hidrogen sulfida (H2S), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida dan material debu yang kemungkinan mengandung racun.
  3. Melumpuhkan semua kegiatan masyarakat sekitar, termasuk terhentinya kegiatan ekonomi dan pendidikan.
  4. Bermacam material yang dikeluarkan gunung berapi dapat memicu munculnya bibit penyakit, seperti infeksi saluran pernapasan, batuk-batuk, sakit kulit, dan sebagainya.
  5. Dengan adanya bencana ini, pariwisata sekitar gunung akan terhenti, pemasukan dari wisata pun turut berhenti.
  6. Terjadinya kecelakaan akibat jalanan yang licin berdebu, makanan terkontaminasi racun.
  7. Hujan debu yang menghalangi pandangan dan mencemari udara sekitar yang menjadi penyebab pemanasan global.
  8. Lahar panas mengakibatkan kebakaran hutan, sehingga ekosistem hutan terancam. Termasuk satwa yang tinggal di dalamnya.
  9. Bahaya tak langsung seperti terjadinya polusi udara oleh zat beracun, air tercemar, lahan rusak.
  10. Gunung api yang terletak di dasar laut apabila meletus bisa memicu timbulnya bencana tsunami.
  11. Letusan gunung api yang dahsyat terkadang memicu terjadinya gempa besar pada zona sesar yang berdekatan dengan gunung tersebut.

 

D.2 Dampak Positif dari adanya letusan Gunung Api, antara lain :

  1. Tanah yang dilewati oleh abu vulkanis akibat meletusnya gunung api tersebut, membuat tanahnya menjadi subur dan sangat baik untuk bercocok tanam. Bagi penduduk sekitar yang bekerja menggarap lahan untuk ditanami berbagai tanaman sayur atau lainnya, hal ini akan membawa keuntungan.
  2. Pembangkit listrik baik didirikan di wilayah yang sering mengalami letusan gunung.
  3. Timbulnya mata air yang mengandung banyak mineral. Mata air ini biasa disebut dengan makdani.
  4. Membuka lapangan pekerjaan baru untuk warga sekitar pegunungan yaitu sebagai penambang pasir. Materi vulkanik dari gunung berapi yang berupa pasir dapat dijual dengan harga yang tinggi dan membantu perekonomian warga.
  5. Jenis jenis hutan yang rusak akibat letusan, akan cepat digantikan dengan pepohonan baru yang tumbuh membentuk suatu ekosistem baru.
  6. Berpotensi terjadi hujan orografis di daerah vulkanis.
  7. Batu yang meluap tatkala terjadi letusan gunung api berguna untuk bahan bangunan.
  8. Dampak meletusnya gunung api adalah munculnya geyser atau sumber mata air panas yang bagus untuk kesehatan kulit.
  9. Menjadikan tanah sekitar letusan gunung tambah subur.
  10. Menghasilkan batu dan pasir bermutu baik untuk bahan bangunan.
  11. Energi panas yang berasal dari bumi berguna untuk pembangkit tenaga listrik (energi panas bumi).
  12. Sumber mineral, diantaranya gypsum, belerang, zeolit, dan lainnya.
  13. Sumber mata air bagi pertanian, peternakan, dan sebagainya.

E.     Tanda Gunung Api Akan Meletus Dan Mitigasi Bahaya Letusan

Berikut adalah beberapa tanda tanda gunung api akan meletus :

  1. Terjadi banyak gempa tremor (gempa getaran di area gunung api), karena aktivitas magma yang mulai naik ke permukaan melalui “kerongkongan” gunung.
  2. Kenaikan suhu yang terjadi di wilayah sekeliling gunung tersebut.di puncak gunung mulai meningkat.
  3. Kadar keasaaman air
  4. Mata air yang mengering.
  5. Terdengar suara gemuruh.
  6. Tanaman dan pepohonan tampak layu.
  7. Hewan buas dan ular mulai banyak yang turun gunung.

Kegiatan mitigasi bahaya letusan gunung api, antara lain:

  1. Memantau terus aktivitas gunung api yang aktif.
  2. Memberikan informasi ketika sudah tampak tanda gunung akan meletus dapat tersampaikan ke masyarakat sekitar dengan cepat berkat pemantauan intensif. Skema peringatan status gunung api dapat diliat pada tabel 1 dan harus disosialisasikan terutama pada warga yang lokasi tempat tinggalnya paling dekat dengan pusat erupsi.
  3. Bahaya karena aliran lahar, dapat dicegah dengan membuat tanggul dan mengurangi jumlah air kawah.
  4. Wilayah yang rawan bencana harus segera ditinggalkan karena demi menjamin keselamatan penduduk.
  5. Pemetaan wilayah rawan bencana, peta zona aliran lahar, radius aman dan peta kawasan beresiko terkena awan panas, dll.

 

Tabel  Skema peringatan gunung berapi dan tindakan yang harus dilakukan (Sumber: Badan Geologi, ESDM)

 

F.     Yang harus dilakukan saat status gunung api meningkat

  1. Pada saat status gunung api siaga, tidak perlu panik,
  2. Warga wajib mengikuti dan menuruti arahan pihak berwenang (pemerintah)
  3. Rencanakan untuk mengungsi secepat dan sejauh mungkin, yaitu yang dianggap cukup jauh dari efek kerusakan akibat letusan, demi keselamatan. Biasanya radius 20 kilometer sudah cukup aman dari bahaya besar.

Daftar Pustaka

  • Achmad D. Wirakusumah. 2002.Management of Volcanological Disaster in Indonesia. Proceeding 2nd International conference on Disaster Management. Bandung.
  • Djoko Santoso. 2000.Diktat Kuliah Volkanologi dan Panas Bumi. Institut Teknologi Bandung. Bandung
  • Haraldur Sigurdsonn (editor). 2015. Encyclopedia of Volcanoes, 2nd edition. Academic Press, USA.

 

Penulis : Riki Irfan, ST., M.Si.

 

Mengenal Gunung Api Bahaya dan Manfaatnya

Komentar

Komentar telah di non-aktifkan untuk postingan ini

Berita Terkait