2,944
Tuesday, 17 July 2018 17:32 (2 tahun yang lalu)    Tulis Komentar

Mengenal Musim Kemarau dan Upaya Memitigasi Bencana Kekeringan

Mengenal Musim Kemarau dan Upaya Memitigasi Bencana Kekeringan

 Penulis : Riki Irfan, ST., M.Si.

Sebagai pelengkap artikel sebelumnya yang membahas musim hujan, tulisan ini yang penulis rangkum dari berbagai sumber, referensi (dituliskan pada bagian akhir). Akan membahas mengenai kondisi musim kemarau beserta upaya mitigasi bencana Kekeringan yang biasanya terjadi pada musim kemarau. Negara Indonesia memiliki dua musim yang berkaitan dengan kondisi cuaca, yaitu: musim hujan (musim basah) dan musim kemarau (musimkering).

Musim Kemarau

Musim kemarau (musim kering) adalah suatu musim di daerah tropis yang dipengaruhi oleh angin muson, dimana curah hujan perbulan di bawah 60 mm (atau 20 mm per dasarian) dan terjadi dalam kurun waktu tiga dasarian berturut-turut. Musim kemarau yang lebih panjang dari jangka waktu biasanya dan ditambah faktor lingkungan alam yang tidak mendukung dan serta faktor pola pemakaian air suatu masyarakat dapat memicu terjadinya kekeringan. Berikut ini adalah ciri-ciri kondisi musim kemarau, yaitu:

  1. Curah hujan di bawah 60 mm tiap bulannya, intensitas hujanpun semakin jarang bahkan tidak terjadi. Kondisi ini berlangsung selama kurang lebih tiga dasarian secara berturut-turut.

  2. Matahari bersinar sangat terik disaat siang hari dan tak terhalang awan atau mendung.

  3. Suhu udara ketika siang hari menjadi panas dan terasa pengap.

  4. Tanah- tanah merekah dan kering.

  5. Air permukaan (sungai, rawa, dll) menjadi mengering atau surut, dimana muka air di sumur gali penduduk makin mendalam.

  6. Pepohonan meranggas dan menggugurkan daunnya.

  7. Kelembaban udara absolute meninggi, sedangkan kelembaban udara relatif menurun secara signifikan.

Penyebab Kemarau Panjang

Tapi dari semua faktor tersebut, faktor utamanya tentu adalah musim kemarau panjang itu sendiri. Berikut ini beberapa keadaan yang dapat menjadi penyebab terjadinya kemarau panjang di Indonesia, yaitu:

  1. Letak geografis yang dilalui garis khatulistiwa

Posisi geografis Indonesia yang dilalui jalur khatulistiwa menyebabkan Negara kita mengalami dua musim. Pada saat memasuki musim kemarau, letak seberapa jauh dari jalur khatulistiwa ini memberikan efek pada seberapa faktor kekeringan dapat terjadi. Daerah yang terlalu dekat dengan gari skhatulistiwa dan memiliki kondisi jauh dari sumber mata air, maka tentu daerah ini memiliki resiko mengalami kekeringan.

  1. Aliran angin musom yang membawa hawa panas dari Australia

Aliran muson timur yang terjadi disekitar bulan April hinga Oktober yang membawa hawa panas dari gurun gersang Benua Australia melewati wilayah Indonesia, kondisi ini menambah cuaca panas dan penguapan di wilayah yang memang terlewati.

  1. Kondisi El Nino

Kondisi el Nino yaitu gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut (SPL/SST) di Samudera Pasifik di sekitar garis khatulistiwa, tak jauh dari wilayah Pantai Negara Peru. Saat terjadi El Nino, aliran massa uap air dari Indonesia mengalir ke Samudera Pasifik, akibatnya terjadi pengurangan pasokan uap air di wilayah Indonesia. Jikauap air berkurang, cuaca di Indonesia cenderung dingin, namun kering dan dapat menyebabkan musim Kemarau yang berkepanjangan.

  1. Kondisi udara yang tercemar dan kerusakan alam

Kondisi kandungan partikel udara dan serta adanya kondisi lingkungan alam (hutan, danau,sungai dan lain lain) yang rusak atau tercemar secara tidak langsung juga mempengaruhi terhadap musim kemarau.

Bencana kekeringan

Kekeringan adalah peristiwa saat terjadinya kelangkaan air bagi kebutuhan logistic masyarakat di suatu daerah pada waktu tertentu dan biasanya disebabkan oleh kondisi kemarau yang berkepanjangan. Kejadian kekeringan kerap kali terjadi pada daerah yang bersuhu panas dan secara geografis memiliki pegunungan kars (gamping) dimana air hujan tidak tertampun gpada reservoir dangkal melainkan air mengalir melalui sungai dibawah tanah pada rongga-rongga gua gamping. Salah satu daerah yang sering dilanda kekeringan adalah daerah Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Terdapat beberapa hal yang dapat memicu bencana kekeringan, yaitu antara lain: Musim kemarau yang terjadi terlalu panjang, Hutan yang gundul atau lingkungan sekitar yang tidak memiliki banyak pohon, Penggunaan air secara berlebihan dan tidak bijak, Kondisi alami minimnya sumber air di suatu daerah, Jauhnya jarak terhadap sumber air, sedikitnya tampungan air buatan (waduk) atau reservoir bawah tanah buatan. Hal yang disebutkan ini dapat memicu bencana kekeringan atau bahkan menjadi faktor  yang dapat memperparah kekeringan di suatu wilayah.  Oleh karena itu, mari kita semua selalu menjaga hutan dan lingkungan sekitar dan melestarikan mata air dan sumber air yang ada, selain itu mulai saat ini mari mulai menggunakan air dengan sewajarnya dan dengan bijak demi kebaikan kita bersama terutama menyiasati agar pada saat musim kemarau tiba tidak sampai terjadi bencana kekeringan.

Bencana kekeringan dikatakan terjadi apabila hanya ada satu sumber air yang masih aktif dan digunakan untuk beberapa desa, atau masyarakat harus mencari air hingga jauh beberapa kilometer dari tempat tingal mereka dan harus bersusah payah atau mengantri untuk mendapatkan air. Beberapa dampak kekeringan yang akan mempengaruhi kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu:

  • Kelaparan massal
  • Kurangnya sumber air minum dan air untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari
  • Berkurangnya kualitas dan kuantitas dari makanan (banyak pertanian gagal panen dan binatang ternak mati)
  • Lingkungan menjadi kotor dan kebakaran hutan dapat mudah terjadi
  • Timbul banyak penyakit kulit dan masalah pernapasan
  • Munculnya binatang- binatang dari dalam tanah maupun binatang buas turun dari gunung

Upaya Memitigasi Bencana Kekeringan

Bencana kekeringan tentu saja tidak pernah kita harapkan terjadi, sehingga diperlukan usaha untuk mencegah dan menanggulangi bencana kekeringan, yaitu antara lain:

  1. Menjaga kelestarian Hutan dan menanam banyak pohon

Salah satu fungsi hutan adalah tempat penyimpanan cadangan air bagi kehidupan manusia karena pohon akan menyerap dan kemudian menyimpan air di dalam akarnya. Suatu daerah yang memiliki bayak pohon tentu akan mempunyai banyak cadangan air tanah daripada daerah yang kurang pohon.

  1. Menggunakan air dengan sewajarnya

Hal yang dapat dilakukan setiap warga masyarakat adalah dengan cara membiasakan diri untuk selalu menghemat penggunaan air. Dengan berprilaku hemat air maka diharapkan jika kemarau tiba masih banyak tersisa air cadangan dibawah tanah.

 

  1. Membuat bendungan, danau buatan, tampungan dan lubang pori penyerap air

Bendungan dan tampungan air buatan dapat berperan sebagai tempat penampungan cadangan air yang suatu saat dapat digunakan ketika masyarakat kekurangan air.

Referensi:

  • Michael Allaby. (2004). Weather. Dorling Kindersley Limited.
  • TjasjonoBoyong. (1999). Klimatologi Umum.Penerbit Institut Teknologi Bandung (ITB).

Website:

  • https://www.britannica.com/science/dry-season
  • https://ilmugeografi.com/bencana-alam/kekeringan
Mengenal Musim Kemarau Upaya Memitigasi Bencana Kekeringan

Komentar

Komentar telah di non-aktifkan untuk postingan ini

Berita Terkait