1,290
Tuesday, 30 June 2020 20:58 (1 minggu yang lalu)    Tulis Komentar

MUI dan Masyarakat Desa Cisantana Menolak Pembangunan Tugu Curug Goong

MUI dan Masyarakat Desa Cisantana Menolak Pembangunan Tugu Curug Goong

Bingkaiwarta, CIGUGUR - Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan masyarakat Desa Cisantana Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan merasa khawatir dengan adanya bangunan Tugu Curug Goong yang diduga akan dijadikan tempat pemujaan.
 
Cecep Murad, Dewan Fatwa MUI Desa Cisantana yang juga mantan Kepala Desa Cisantana menjelaskan awal berdirinya bangunan berupa tugu yang terletak di Curug Goong Desa Cisantana, awalnya, masyarakat setempat tidak tahu peruntukan bangunan tugu di Curug Goong tersebut. Tiba-tiba sudah ada bangunan.
 
"Tiba-tiba disitu ada tanah punya Elang Djatikusuma. Peruntukannya untuk apa, kita juga tidak tahu. Cuma sempat dengar dari mulut ke mulut ada peninggalan bekas Madrais yaitu pendiri Agama Djawa Sunda (ADS). Entah bekas peristirhatannya entah apa. Waullahualam, saya juga tidak tahu secara detail. Pokoknya disitu ada peninggalan Madrais yang akan dijadikan situs. Dimana tanah itu punya Elang Djatikusuma. Dimana Elang Djatikusuma ini merupakan putra dari pada Madrais yang sekarang menjadi pupuhu AKUR (Adat Karuhun Urang Sunda Wiwitan) yang diteruskan oleh putranya Gumirat Barna Alam," jelas Cecep saat ditemui bingkaiwarta.com, Selasa (30/6/2020).
 
Selanjutnya, dituturkan Cecep, tiba-tiba beberapa bulan yang lalu masyarakat dihebohkan dengan adanya pembangunan untuk tugu itu. Konon, katanya untuk pemakaman Elang Jati Kusuma beserta istrinya.
 
"Karena, pembangunan makam tersebut berbeda dengan makam pada umumnya. Itulah yang dikhawatirkan oleh warga muslim khususnya. Jangan-jangan tempat pemakaman tersebut akan dijadikan sumber kemusrikan atau tempat pemujaan," ungkapnya.
 
Dengan fenomena seperti itu, akhirnya dari MUI menampung masukan-masukan dari masyarakat akhirnya mengadakan rapat dan koordinasi dengan pemerintah desa. "Kita minta kejelasan dari pak kuwunya tentang kronologis tentang bagaimana terjadinya makam itu. Pak kuwu juga sempat kaget, karena mereka dari pihak AKUR ini berupaya untuk meminta ijin. Salah satunya adalah agar lokasi Curug Goong yang dimiliki Elang Jati Kusuma diakui sebagai aset adat AKUR," ujarnya.
 
Menurut Cecep, pihak AKUR ini sempat mengajukan ijin ke pemda dengan dasar dari desa dulu. "Sebenarnya hibah tanah tersebut dibawah tangan. Kan itu tanah dari Elang Jati Kusuma akan di hibahkan ke AKUR. Dan, kita lakukan cross cek ke Kesbangpol. Tapi tidak ada," imbuhnya.
 
Ternyata, mereka ini sudah berupaya sejak tahun 2017 agar aset-asetnya diakui dan pemda sendiri tidak mengabulkannya karena tidak memenuhi syarat. "Kami dari kaum muslimin Desa Cisantana merasa khawatir jika tempat tersebut akan dijadikan tempat kemusrikan atau pemujaan. Sehingga kekhawatiran kami tentang ADS akan kembali muncul," tandasnya.
 
Senada dengan Cecep, Ketua PUSDAI Kecamatan Cigugur Drs. H. Suhlan (70) juga sangat mengkhawatirkan dengan adanya bangunan tugu tersebut akan menyeret umat muslim pada kemusyrikan sehingga akan terjadi pemurtadan yang akan merusak akidah umat muslim.
 
"Kalau memang itu dikatakan situs, harusnya itu ada barang peninggalan jaman purbakala. Sedangkan dilokasi tersebut tidak ada barang-barang pusaka atau peninggalan purbakala. Kok ini situs dibuat sendiri. Kalau memang ada situs atau peninggalan jaman dulu, kita juga tidak akan melarang, kita sebagai masyarakat akan turut menjaga dan melestarikannya," tutur Suhlan.
 
Suhlan menegaskan yang dikhawatirkan bukan makamnya, tapi ini akan membuka peluang untuk mendangkalkan akidah umat islam khususnya di Desa Cisantana.
 
"Dilokasi tersebut selain ada tugu yang di duga akan dijadikan tempat pemujaan juga terdapat pendopo yang mungkin untuk tempat beristirahat. Dan, katanya nanti akan dijadikan tempat pariwisata untuk penyembahan yang akhirnya ini akan terjadi pemurtadan dan merusak akidah," terangnya.
 
Suhlan menambahkan, untuk menyikapi permasalahan ini pihaknya juga mengadakan rapat pada tanggal 29 April 2020 MUI di Masjid Cisantana. Dan, sepakat jika MUI menolak. Dan, kesepakatan ini didukung oleh umat Islam di Desa Cisantana.
 
"Sudah ada pernyataan sikap menolak dari kami umat Islam di Desa Cisantana dengan ditandatangani oleh 1200. Dan, tanggal 23 Juni 2020 kami telah melakukan audien dengan DPRD. Dan, alhamdulillah DPRD juga sangat merespon," pungkasnya. (Abel Kiranti)
mui kuningan dprd cigugur bingkaiwarta

Komentar

Berita Terkait