Negeri Miniatur Indonesia

By : BingkaiWarta - BingkaiWarta, 2019-04-16 13:43:50+07

Negeri Miniatur PS.jpg

Ilustrasi.

 

Kuningan - Bangun pagi dari sebuah dusun di sebelah timur Kuningan Kota ternyata masih sejuk. Teriakan ayam kampung jantan yang melengking silih beradu mengiringi mata saat terbuka. Di luar rumah mulai recok orang berbicara, bahkan sampai terdengar sedikit nyaring.

Begitu pun suara kendaraan mereka dan irama unik dari alat memasak. Tirai rumah mulai dibuka, lampu di dalam ruangan terpancar hingga terlihat dari kejauhan. Nampaknya sudah rapih. Anak-anak sekolah sudah lengkap memakai seragam, tinggal menunggu nasi matang, makan dan berangkat.

Sayangnya, ketika mentari mulai menunjukan sinar, suara berbagai burung seolah sunyi. Tak terdengar. Hanya burung-burung tertentu yang sudah familiar dan menurutku ini tidak menarik. Duh kenapa ini?

Penulis mencoba santai. Menuang secangkir kopi untuk bersantai sejenak sebelum aktivitas dimulai. Ada berita apa hari ini? Cakupan nasional pasti ditumpuki redaksi tentang politik. Menjalar. Memenuhi trending topik. Sebentar, penulis lupa kalau di sini juga tersedia begitu banyak media lokal berbobot yang menyajikan informasi tentang kondisi daerah terkini. Rupanya ada.

Penulis rasa ini sangat baik. Di daerah penulis, sekelas kabupaten, di bawah kaki gunung tertinggi di Jawa Barat, ternyata terdapat sejumlah portal berita yang memuat informasi tentang kondisi di daerah sendiri. Banyak kabar tersaji di portal itu dan isinya pun cukup menarik minat pembaca, begitu pun penulis. Secara tidak langsung dan tidak sadar, penulis sedikit dimudahkan untuk mengetahui kinerja pemerintah.

Secara umum, ternyata pemerintahan masih berjalan cukup baik. Ada pembangunan, menyapa warga, dan hal penting lainnya. Aktivitas mereka tersaji. Mulai dari apa hari ini yang dilakukan hingga rencana ke depan yang akan dikerjakan ada. Sungguh menarik.

Daerah tempat penulis tinggal ini tampaknya banyak dikunjungi oleh tokoh nasional. Di awal tahun ini saja beberapa tokoh turut memijakan kaki di Kota Kuda. Misalnya baru-baru ini saja, Menteri Pertanian dan Megawati Soekarno Putri, kemarin sudah menghirup udara Kuningan. Selain mereka, seperti Gubernur Jabar Ridwan Kamil atau yang kerap disapa Kang Emil, yang nyentrik dan kekinian, juga sering ke Kuningan. Kalau sekelas paling atas, Presiden RI mulai dari Soekarno hingga Jokowidodo, pun pernah ke Kuningan. Termasuk SBY. Bahkan, penantang petahana saat ini, Prabowo Subianto, pun pernah menyapa warga Kuningan. Masih kurang? KH. Ma’ruf Amin dan Sandiaga, juga pernah ke sini.

Kalau bintang layar kaca jangan ditanya lagi. Beberapa nama terkenal sudah sering terdengar di sini. Pembaca mungkin sudah tahu ya? Dan terpenting, kehadiran mereka itu tak lepas dari pemberitaan. Sehingga warga, sebagian besar di era millenial saat ini, sudah mengetahui informasinya.

Sungguh mudah bukan mendapat informasi resmi, terpercaya, dan kredibel tentang apa yang terjadi di Kabupaten Kuningan sekarang ini? Selain tentang fenomena “Membanggakan” di atas, portal media di Kuningan juga acap kali menyajikan pemberitaan yang memotivasi.

Bahkan sampai penulis terheran-heran “Lho kok iya ada di Kuningan” atau bahkan “Baru tahu di Kuningan ada/terjadi itu”, mungkin sudah sering pembaca portal berita Kuningan ungkapkan. Menarik bukan? Para jurnalis Kuningan, ternyata menyajikan informasi terkini tentang daearahnya sendiri dan bermanfaat untuk orang banyak di sini.

Selain hal di atas tentang perasaan membanggakan dan motivasi, sampai hal-hal yang mengherankan yang seolah baru diketahui, dari portal media lokal Kuningan jualah penulis bisa mengetahui informasi tentang sikap kritis terhadap pemerintah.

Misalnya saja, jika ada salah satu kebijakan Kepala Daerah yang dianggap “tidak wajar”, para pemburu berita khusus di wilayah Kuningan ini pun ikut menyuarakannya. Mereka menggali berbagai narasumber yang kompeten di bidang itu, menampung pemikiran masyarakat, dan menyuarakannya lewat saluran medianya sendiri. Lalu, kritik terhadap pemerintah setingkat kabupaten ini pun bisa dinikmati oleh penulis khususnya, dan mereka “yang mau menggali informasi” tentang daerahnya sendiri.

Penulis lalu diajak berpikir dan melihat kondisi sesungguhnya bagaimana. Secara tidak langsung, ketika terjadi “ketidak wajaran” atas suatu kebijakan dari tubuh pemerintah daerah, dan kemudian menimbulkan “kegaduhan di publik”, lalu diterbitkan dalam sebuah portal media, Kabupaten Kuningan ini memiliki Control Sosial Tinggi. Dari para cendekia atau kritikus, peran media, lalu penulis yang juga sebagai rakyat yang perlu tahu tentang pemerintahan dan kondisi wilayah sendiri, sehingga menciptakan kehati-hatian serta yang paling utama yaitu bagi yang “sadar” memang sepatutnya harus berbuat baik.

Kehidupan di Kuningan ini bagi penulis sungguh luar biasa. Setingkat kabupaten, tetapi seperti tingkatan nasional. Bagaimana tidak? Ketika terjadi “ketidak wajaran” itu, penulis sendiri saja mampu mengetahuinya. Sehingga kejadian itu tidak semakin berlangsung dan tidak menggerogoti. Sebaliknya, membuat “rem” atau tepatnya control, bahwa kejadian itu harus dikaji lagi karena masyarakat telah mengetahuinya dan mereka tidak diam alias turut memperhatikan.

Lebih jauhnya lagi, dengan munculnya berbagai media lokal kredibel di Kuningan, menjadikan control untuk para oknum yang melakukan “tindakan tidak terpuji” dan “tindakan tidak baik”. Apapun itu.

Kenapa penulis menyebut negeri miniatur Indonesia? Penulis ingin sampaikan alasannya yaitu karena melihat fenomena yang terjadi di Kuningan, penulis merasa hal itu sama kondisinya seperti Indonesia atau tepatnya di tingkat nasional, karena setiap detik, setiap waktu, diawasi oleh media. Sehingga publik dapat tahu apa yang terjadi.

Dan juga, tidak kalah penting sebagai bangsa Indonesia, penulis merasa bahwa untuk menjadi  seorang Indonesia, memang harus dibentuk juga dari miniaturnya (daerah/wilayah/kabupaten), sehingga ketika di miniatur saja baik, ke cakupan besarnya pun baik. Sepertinya.

Penulis mencoba lebih kuatkan lagi anggapan “Negeri Miniatur Indoesia”, yaitu di Kuningan, saat ini muncul berbagai kelompok cendekia yang bermanfaat bagi masyarakat banyak. Misalnya saja, Kelompok Mahasiswa dan Kelompok Orang-orang yang ingin menyajikan buah pikirannya untuk masyarakat di daerahnya.

Seperti kini, di Kuningan muncul lembaga survei independent tingkat kabupaten, yang mencoba merangkum hasil ilmiah, tentang suatu kondisi yang pada dasarnya masih banyak diperbincangkan kesungguhannya.

Secara ringkas, kondisi Sosial, Hukum, Ekonomi, Politik, HAM, dan Intermezzo tentang Kuningan ini, bakal diketahui oleh masyarakatnya sendiri.

Kiranya, dengan kondisi yang “luar biasa” itu, penulis mencoba menyampaikan harapan bahwa jangan sampai negeri Kuningan ini disalahgunakan, didiamkan, dan tidak diambil pelajaran atas bonus itu.

Penulis mencoba mengajak untuk diri sendiri, dan kalau buah tulisan ini terpakai oleh pembaca, supaya sama-sama kita “merawat” Negeri Miniatur Indonesia ini dengan sikap yang baik pada umumnya.

Alangkah lancang bila mengklaim tulisan ini begitu benar dan bermanfaat. Maka dari itu mohon kiranya penulis meminta maaf yang sebesar-besarnya, dan pembaca dapat pula memberikan kritik atas buah tulisan tangan ini.

Penulis hanya seorang mahasiswa, yang ingin karya kecilnya ini diberi masukan oleh pembaca yang budiman melalui penerbit tulisan ini.

Atas perhatiannya, penulis haturkan terima kasih.

 

Penulis : Tedy Ageng Setiady, Pemuda asal Desa Cibinuang, Kecamatan Kuningan dan sedang menempuh pendidikan di Universitas Kuningan semester 8.

6 days ago, by BingkaiWarta
Category : BERITA PILIHAN, ARTIKEL

Kontak Informasi BingkaiWarta.com

Redaksi : redaksi[at]bingkaiwarta.com
Iklan : iklan[at]bingkaiwarta.com













Berita Terkini

Categories