199
Thursday, 10 September 2020 14:08 (1 bulan yang lalu)    Tulis Komentar

Oleh-oleh Khas Daerah, Salah Satu Ujung Tombak Pariwisata

Oleh-oleh Khas Daerah, Salah Satu Ujung Tombak Pariwisata

Kuningan, CIBEUREUM -  Dibalik manisnya rasa tape ketan berbungkus daun jambu air ternyata ada kesedihan ketika melihat kemasan ember hitam atau kemasan lain yang sudah beralih ke toples plastik, masih banyak label pada kemasan yang tidak mencantumkan tanggal produksi, waktu tape ketan siap dikonsumsi dan masa kadaluarsanya. 
 
Keprihatinan ini disampaikan oleh Kepala Pusat Bisnis Kepariwisataan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, Novita Widyastuti S, saat menjadi nara sumber dalam Diskusi pengolahan limbah tape ketan bersama puluhan Produsen Tape Ketan di Desa Cibeureum Kecamatan Cibeureum Kuningan, kemarin.

"Kandungan gizi pun belum tercantum dikemasan,terlebih lagi dalam label tersebut tidak ada izin PIRT," ujar Novi.
Menurut Novi, izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) ini dikeluarkan olah Dinas Kesehatan di Kota/ Kabupaten setempat kepada industri pangan skala usaha kecil dan menengah (UKM) atau rumahan.

"Pendaftaran PIRT harus menyertakan hasil uji laboratorium bahwa produk makanan tersebut aman untuk dikonsumsi, sangat jelas mengapa izin tersebut tidak pernah ada dalam oleh-oleh khas kuningan yang saya temukan di toko oleh-oleh sepanjang kota kuningan," ujarnya.

Novi menambahkan, peran dinas terkait sangat diperlukan dan terlebih pengolahan limbah pun perlu ditangani serius, minimal membuat alat biotechnology untuk membuat air limbah jadi tidak berbau dan dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman.

"Oleh-oleh khas daerah salah satu ujung tombak disetiap destinasi wisata. Dari setiap kunjungan wisatawan pasti yang dicari adalah oleh-oleh khas. Namun, akankah para konsumen percaya bahwa produk tersebut aman dikonsumsi, dan akankah konsumen yang membeli mau mereferensikan oleh-oleh ke para wisatawan lain yang belum pernah datang ke Kuningan??,"  kata Novi.

Sebagai pengamat sekaligus dosen entrepreneur dan pelaku usaha  F&B, pertanyaan  tersebut sangat menggelitik Novi. Apalagi Kuningan memiliki desa dengan alam yang indah yang mampu menyegarkan pikiran dan melepas penat para wisatawan, namun belum mengoptimalkan potensi usaha pariwisata yang membuat wisatawan mengenang saat mereka pulang ke daerahnya dan mempromosikan apa yang merek lihat, apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka rasakan selama berwisata ke Kuningan.

"Saatnya, pariwisata berbasis desa pinunjul sudah harus diresapi dan di kawal oleh lintas sektor, bukan hanya dinas pariwisata saja, sehingga semua kemasan wisata dikuningan mampu bersaing dengan daerah tujuan wisata unggul di Indonesia," pungkasnya. (Abel Kiranti)

Pariwisata Oleh-Oleh Khas Daerah

Komentar

Berita Terkait