Pembagian Sumbangan Tidak Merata Sampai Ke Beberapa Wilayah Terdampak Banjir Cibingbin Dan Sebagian Dimanfaatkan Untuk Kepentingan Pribadi Aparat Desa

By : BingkaiWarta - BingkaiWarta, 2017-01-30 07:36:27+07

Pembagian Sumbangan Tidak Merata.jpg

Karena dikhawatirkan tidak sampai kepada yang berhak, salah satu komunitas di Kabupaten Kuningan menyerahkan bantuan langsung pada korban terdampak banjir di Blok Kliwon, Desa/Kecamatan Cibingbin

 

Kuningan – Sumbangan untuk korban banjir Kecamatan Cibingbin ternyata banyak yang tidak sampai langsung ke masyarakat di beberapa wilayah terdampak, bahkan timbul juga keluhan dari warga yang katanya untuk bisa menerima bantuan mereka diminta menyerahkan kartu keluarga (KK) terlebih dahulu.

Akuy Maskur, 47, warga Blok Kaliwon, Desa/Kecamatan Cibingbin mengungkapkan, warga Blok Kliwon terpaksa mendirikan Posko sendiri, untuk bisa menampung sekaligus menyalurkan bantuan, dan langsung menyalurkannya ke seluruh warga di dusun tersebut.

“Hal itu kami lakukan, karena banyaknya bantuan dari luar yang datang ke Posko utama di Balai Desa Cibingbin yang akan di salurkan untuk ke 7 desa terdampak banjir, tidak masuk ke wilayah kami,” ungkap Akuy kepada Bingkai Warta, Minggu (29/1).

Bukan hanya bantuan yang tidak sampai, menurut Akuy, warga juga semakin merasa kesulitan untuk menerima sumbangan tersebut, karena jika mereka mau menerimanya harus menyertakan KK, “Saya mendapat informasi dari Ketua RT, katanya jika warga ingin menerima sumbangan dari para donatur, mereka harus menyertakan kartu keluarga,” ujarnya.

Dari seluruh permasalahan itulah, akhirnya kata Akuy, pihaknya membuka Posko sendiri di Dusun Kliwon, supaya bantuan bisa langsung sampai kepada warga yang berhak menerimanya, serta tanpa harus ribet mencari-cari, atau membuat dahulu KK, “Ya kondisi korban kan sedang kesusahan, dan sangat membutuhkan bantuan, masa sih untuk mendapatkan haknya dari para dermawan yang rela menyumbang pada mereka harus dipersulit, atau dibikin rumit,” kata dia.

Pasca didirikannya Posko bantuan di dusunnya, sedikit demi sedikit permasalahan yang menimpa warga bisa terantisipasi, karena saat ini mereka yang sudah memahami langsung memberikan bantuan ke posko tersebut, serta adapula yang langsung ke warga bersangkutan, “Kami telah menerima bantuan dari rekan – rekan kami yang berada di Jakarta, terus dari minimarket cimahi, dari beberapa anggota dewan, juga dari donatur – donatur lainnya yang memang sudah paham, serta menyampaikan langsung ke masyarakat yang kena banjir, tidak menyampaikan melalui posko utama,” tuturnya.

Selain pembagian bisa mencukupi, serta bisa merata pada warga yang betul-betul menjadi korban, dengan adanya pos di dusun tersebut bisa mengetahui barang apa yang sangat dibutuhkan, dengan cara mendata, kemudian mengantisipasi dari dana sendiri, atau bantuan yang berasal dari kepedulian, dan membelinya dari toko, seperti untuk kebutuhan alat dan seragam sekolah, atau kebutuhan sabun untuk mencuci.

“Kamipun bisa mengantisipasi keperluan urgen lainnya, seperti kendaraan motor milik warga yang dipenuhi lumpur sehingga mengalami kerusakan, kami arahkan untuk dibawa ke bengkel, kemudian kami yang membiayai, untuk perbaikan motor, sudah berjumlah 10 yang telah diperbaiki. Ini semua atas inisiatif sendiri, karena dengan begitu permasalahan bisa cepat terantisipasi, tanpa harus ribet dengan peraturan yang terlalu prosedural sifatnya,” jelas Akuy.

Lebih parah lagi, bantuan yang datang dari posko utama, kemudian ditampung di Balai Desa Sukaharja, Kecamatan Cibingbin, selain selalu terlambat, dan kurang tepat sasaran, karena bantuan tersebut hanya menumpuk di balai desa, serta disinyalir malah dimanfaatkan oleh aparat desa, jika dibagikanpun, peruntukannya dirasa masyarakat tidak adil

Aries, 37, salah seorang warga, sekaligus relawan lokal Desa Sukaharja menyebutkan, masyarakat korban banjir di desanya, terutama yang terdampak sangat fatal di sekitar bantaran sungai merasa sangat kecewa dengan tidak meratanya pembagian sumbangan, “Cuma bikin sakit hati kalau hanya menunggu pembagian dari posko sih, sebab selain jarang yang sampai ke korban, juga pembagian yang dilakukan pihak desa sendiri kesannya tidak adil,” terang Aries.

Untungnya, lanjut Aries, tidak sedikit dari penyumbang, atau donator yang datang dan memberikan langsung kepada para korban, “Datangnya bantuan dari posko utama selalu keduluan sama datangnya bantuan yang langsung diberikan oleh para penyumbang pada para korban banjir, sehingga mereka tidak kelaparan. Terus terang kalau hanya menunggu datangnya bantuan dari posko utama, warga terdampak bencana di desa kami bisa kelaparan,” ujarnya.

Dan yang lebih menyakitkan, Aries dan warga setempat menyaksikan sendiri beberapa barang yang sangat dibutuhkan, malah dibawa pulang ke rumah para aparat desa, “Selepas magrib biasanya mereka membawa pulang barang barang yang bisa dikatakan sangat dibutuhkan, seperti makanan, dan barang lainya ke rumah masing-masing,” beber Aries.

Sementara, sambung Aries, korban yang tengah diliputi kesusahan, karena lumpur yang menggenangi rumah mereka, barang-barang dan pakaian raib di seret banjir, kebanyakan hanya mendapat sumbangan air mineral, “Semua itu terjadi karena dengan aji mumpung para aparat desa berlomba-lomba saling adu cepat mengamankan barang-barang, atau makanan yang dianggap bagus ke rumah mereka masing-masing, sementara korban banjir yang paling berhak hanya menerima sisanya,” tandasnya. (Red)

3 years ago, by BingkaiWarta
Category : BERITA PILIHAN, SOSPOLHUKAM

Kontak Informasi BingkaiWarta.com

Redaksi : redaksi[at]bingkaiwarta.com
Iklan : iklan[at]bingkaiwarta.com











Berita Terkini

Categories