184
Wednesday, 23 December 2020 13:33 (3 minggu yang lalu)    Tulis Komentar

Penguat Peran Ibu Untuk Mengkokohkan Ketahanan Keluarga

Penguat Peran Ibu Untuk Mengkokohkan Ketahanan Keluarga

Bingkaiwarta, KUNINGAN - Dalam Rangka memperingati hari ibu, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah STISHK telah mengadakan webinar yang bertemakan "Penguat Peran Ibu Untuk Mengkokohkan Pertahanan Keluarga" yang disampaikan langsung oleh seorang ibu yang hebat, tangguh dan berani yaitu Dr. Dina Madinah, S.E., M.Acc. selaku Ketua LP3M Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah, Selasa (22/12/2020).

 

Dalam penyampaian materinya yang diawali dengan peran ibu yang sangat penting untuk keluarga, Umi Dina menyampaikan, peran ibu adalah peran muslimah yang agung dan mulia, yang tidak tergantikan oleh laki-laki hebat sekali pun. Penghargaan terhadap peran ini di berikan oleh Rasulullah Saw yang menempatkan bakti anak kepada ibu lebih dahulu dari pada kepada bapak.

 

"Seseorang pernah datang dan bertanya kepada Rasulullah Saw. "Siapa yang lebih diutamakan untuk menerima perbuatan baikku?" Nabi menjawab "Ibumu" setelah itu siapa lagi? "Ibumu" setelah itu siapa lagi? "Ibumu" setelah itu siapa lagi? "Bapakmu" (HR.mutafaq alaih)

 

Umi Dina menyebut, ada beberapa peran penting seorang ibu yaitu Mempersiapkan anak menjadi pemimpin, seperti telah dilakukan oleh bunda Aisyah, ibunda Rasullullah SAW, meski usianya tidak panjang, hanya sampai usia 6 tahun Rasullullah dididik oleh beliau, tapi bunda Aminah telah melakukan banyak hal, yang menjadi bekal penting bagi jiwa kepemimpinan Rasullullah SAW di masa mendatang. 

 

"Peran yang di maksud antara lain beliau telah memilihkan sekolah terbaik anak nya Rosullulah swa, agar memiliki kemampuan bahasa yang hebat, dengan cara menyekolahkannya di sekolah "Halimatus Sa'diah" masyarakat pedalaman dengan suasana asri, memungkinkan Rosullulah kecil untuk belajar bahasa yang fasih dan santun," terangnya.

 

Kedua, peran ibu yaitu Memompa semangat anak untuk pergi berjuang, seperti telah di perankan oleh "Khansa" ibunda para mujahid, yang syahid di perang Qadisiyah. Sejarah telah mencatat, Khansa telah membakar semangat ke anaknya untuk meraih syahid. "Wahai anak-anakku Allah telah menyiapkan pahala yang besar bagi mereka yang berjihad di jalanNYA melawan kaum kuffar, ketahuilah, negri akhirat jauh lebih baik dari dunia fana ini"

 

"Tiga, yaitu Mendidik masyarakatnya, menjadi masyarakat yang cerdas dan berwawasan luas, seperti telah di perankan oleh Aisyah R.A istri Rasulullah SAW.

Aisyah R.A adalah seorang yang cerdas, beliau mampu menghafal hadits dalam jumlah ribuan, beliau juga yang menjadi rujukan dan tempat bertanya segalah hal para sahabat dan shahabiah, sepeninggal Rasulullah SAW. Aisyah telah memberi contoh bagi kaum ibu dan bagi kita semua untuk meningkatkan kapasitas diri menjadi mukmin yang berilmu," ungkapnya.

 

Keempat, peran ibu yaitu Menghidupkan ekonomi keluarga, sehingga keberkahan dan kebahagiaan melingkupi seluruh keluarga, seperti telah di perankan oleh Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah SAW, dengan semangat dan niat ta'awun (saling membantu) dan mendukung perjuangan suaminya ( Rosullulah SAW). Khodijah telah berhasil membangun perekonomian yang berkah melalui perdagangan, dengan tetap optimal mendidik anak-anak.

 

Selanjutnya, Umi Dina juga menyampaikan tentang ketahanan fungsi keluarga yang didasari dalam Al Qur'an surat Al Mumtahanah ayat 4 "Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya". Satu dari sekian banyak keteladanan dari nabi Ibrahim as dan keluarganya adalah memiliki dan menunjukkan ketahanan keluarga yang luar biasa.

 

"Ketahanan keluarga adalah keluarga bisa berjalan dengan baik dan keberadaanya di buktikan dengan manfaat yang bisa di rasakan oleh banyak orang.

Ada Lima Aspek Ketahanan Keluarga:

Pertama, Memiliki kemandirian nilai, keluarga muslim berarti memiliki nilai-nilai islam yang menjadi landasan berkeluarga dan arah kehidupannya," ujarnya.

 

Yang ke dua, lanjutnya lagi, yang harus dimiliki keluarga yaitu kemandirian ekonomi, setiap manusia membutuhkan makan, minum, berpakaian, bertempat tinggal, berkendaraan dan sebagainya hingga pengembangan diri. Untuk memenuhi semua itu, dibutuhkan pendanaan dalam jumlah yang cukup yang di dapatkan dengan cara yang halal.

 

"Ketiga, faktor yang harus dimiliki menuju ketahanan keluarga adalah tahan menghadapi guncangan keluarga. Kehidupan keluarga tidak lepas dari berbagai guncangan yang bisa membahayakan keluarga dan konflik suami-istri, ketidak harmonisan antara menantu dengan mertua bahkan dengan orang tuanya sendiri, hubungan orang tua dengan anak atau sebaliknya yang tidak menyenangkan, campur tangan keluarga besar dalam menghadapi persoalan keluarga sampai pengaruh tetangga atau masyarakat sekitar yang tidak selalu baik dalam perjalanan keluarga," jelasnya.

 

Menurutnya, kunci utama untuk memperkokoh pertahanan keluarga dalam situasi seperti ini adalah konsolidasi suami-istri dan orang tua dengan anak.

Faktor keempat yang harus dimiliki agar keluarga memiliki ketahanan adalah keuletan dan ketangguhan dalam memainkan peran sosial. 

 

"Kesholihan seorang muslim tidak hanya bersifat pribadi dalam arti ia menjadi baik hanya untuk kepentingan diri dan keluarganya, tapi kesholihannya juga harus ditunjukkan dalam bentuk keshalihan sosial," ujarnya.

 

Yang kelima, diantara faktor ketahanan keluarga adalah mampu menyelesaikan problem yang dihadapi. Menjalani kehidupan keluarga seringkali berhadapan dengan problematika, dalam situasi menghadapi problematika hidup, sangat penting bagi insan keluarga untuk terus mengkokohkan ketaqwaan kepada Allah SWT.

"Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya DIA akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya Rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya (Q.S At-Thalaq{65} :2-3)

 

Dalam penyampaiannya, Umi Dina juga membahas tentang penguat peran ibu, peran penting seorang ibu untuk mewujudkan ketahanan keluarga menjadi perlu adanya. Penguat seorang ibu untuk menjalankan peran tersebut diantaranya:

Pertama, menjadi muslimah yang bertaqwa, melaksanakan apa yang menjadi perintah Allah SWT dan menjauhi laranganNYA. Ia menyadari betul bahwa kemuliaan seseorang disisi Allah dilihat dari ketaqwaannya.

 

Kedua, seorang ibu arsitek peradaban harus punya visi jauh kedepan, karena menyadari anak sebagai aset generasi mendatang. Visi yang dilandasi dengan keimanan dan ketaqwaan. Jangkauan nya tidak hanya dunia namun untuk akhirat, maka dengan tantangan zaman, ia senantiasa berprasangka baik kepada Allah dalam mendidik anak, karena ia seorang yang punya cita-cita besar.

 

Ketiga, menguasai ilmu mendidik anak dan kerumahtanggaan, memahami arah dan tujuan mendidik anak serta mengetahui teknis praktisi dalam mendidik anak seperti komunikasi efektif kepada anak dan pasangan, memahami fase perkembangan usia anak, manejemen waktu dan manejemen kerumahtanggaan.

 

Keempat, menjadi ibu yang peduli umat, karena seorang ibu arsitek peradaban paham betul bahwa mendidik tidak hanya untuk keluarganya saja namun mendidik masyarakat. Ia menyadari bahwa ia juga bagian dari masyarakat.

 

Kelima, untuk mewujudkan peran dan tanggung jawabnya tersebut secara seimbang, hendaknya wanita muslima mampu melakukan tarbiyah dzatiyah secara berkesinambungan; yakni menyiapkan dan memanfaatkan sarana pembinaan diri sehingga dirinya terbentuk menjadi muslimah yang berkepribadian islami diseluruh sisinya; ilmiah, iman, akhlak, sosial dan lain sebagainya.

Keenam, melakukan tandzimul auqat (menata waktu) dan adaul insyithatil mushalati ila itqonil 'amal (melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang terwujudnya amal yang sempurna); diantaranya adalah: muhasabah, taubat, mencari ilmu dan memperluas wawasan, komitmen dengan amalan harian, memperbaiki akhlak, melibatkan diri dalam aktivitas dakwah, mujahada (bersungguh-sungguh), dan selalu berdoa.

 

Kata-kata penutup terakhir dari Umi Dina bahwa peran penting seorang ibu merupakan sebuah motivasi bagi kaum ibu agar dapat meraih kemuliaan disisi Allah SWT.

 

"Selamat hari ibu, semoga kita layak mendapatkan surga Allah SWT," ucapnya. (Abel Kiranti)

stishK

Komentar

Berita Terkait