348
Sunday, 09 August 2020 21:30 (1 bulan yang lalu)    Tulis Komentar

Pentingnya Pelurusan Sejarah Dalam Menyelesaikan Masalah

Pentingnya Pelurusan Sejarah Dalam Menyelesaikan Masalah

Bingkaiwarta, CIGUGUR - Pemerintah Kecamatan Cigugur kembali melakukan musyawarah dengan masyarakat Desa Cigugur dan Desa Cisantana terkait identifikasi, masukan dan saran dari peserta rapat tentang keberadaan komunitas Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan, di Aula Rapat Kantor Kecamatan Cigugur, Minggu (9/8/2020).
 
Camat Cigugur Didin Bahchrudin mengungkapkan musyawarah kali ini merupakan tindak lanjut dari video conference yang dilaksanakan pada hari Kamis (6/8/2020) antara pemerintah Kecamatan Cigugur dengan pihak Paseban.
 
"Hari ini, kita dengar pendapat dari para tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pelaku sejarah yaitu Rd. Djaka Rumantaka dan H. Yusman, MUI Kecamatan dan Desa serta perwakilan dari Cisantana. Yang mana hasil dari musyawarah ini akan kita serahkan kembali kepada tim kabupaten untuk dikaji ulang. Kita hanya membantu meringankan tugas Pak Bupati agar tidak salah langkah dalam mengambil tindakan, dengan terlebih dahulu mendengar saran atau masukan-masukan dari masyarakat Cigugur maupun Cisantana," ungkap Didin kepada bingkaiwarta.com. 
 
Berdasarkan hasil rapat dengar pendapat dengan para peserta rapat bahwa terkait dengan eksistensi Komunitas AKUR Sunda Wiwitan Cigugur diperlukan adanya pelurusan sejarah dari asal usul tentang Paseban Tri Panca Tunggal mengingat berdasarkan keterangan beberapa pihak yang diyakini, mengetahui bahkan sebagai pelaku sejarah dimasa sebelum adanya Komunitas AKUR Sunda Wiwitan, kondisi, situasi dan fakta-fakta berbeda dari apa yang disampaikan oleh pihak Paseban Tri Panca Tunggal maupun oleh narasumber dari Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung pada Video Conference yang dilaksanakan di Kantor Kecamatan Cigugur pada hari Kamis (06/8/2020).
 
"Dalam hal ini, diperlukan adanya kajian dan pendalaman lebih lanjut melalui duduk bersama antar lintas agama dengan menghadirkan Paroki/Pastur Abu, dari pihak Paseban, pelaku sejarah yang masih hidup (H. Jayusman, H. Muhidin, Otong Hidayat, Djaka Rumantaka dan Bapak Uun mantan Sekretaris Kelurahan Sukamulya) sehingga duduk persoalan mengenai Komunitas AKUR Sunda Wiwitan di Cigugur dapat diketahui secara jelas tentunya dengan dasar dan bukti yang otentik," terangnya.
 
Adapun terkait dengan pembangunan Batu Satangtung yang berlokasi di Blok Curug Go'ong Desa Cisantana Kecamatan Cigugur, Didin mengatakan, pihaknya berharap adanya pendalaman lebih lanjut setelah eksistensi Komunitas AKUR Sunda Wiwitan terdapat kejelasan secara Legalitas Formal sehingga kedepanya dalam penetapan pembangunan Batu Satangtung, Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan tidak bertindak tergesa-gesa mengingat situasi dan kondisi masyarakat khususnya di Kecamatan Cigugur sedang dalam suhu yang kurang kondusif.
 
"Kami berharap kepada para pihak untuk bersama-sama menahan diri dan bertindak arif serta bijaksana demi kondusifitas masyarakat khususnya di wilayah Kecamatan Cigugur. Mengingat persoalan Batu Satangtung yang dibangun oleh pihak Paseban Tri Panca Tunggal dikhawatirkan akan menyulut pada persoalan yang jauh lebih besar serta lebih sensitif khususnya persoalan toleransi beragama/SARA," ujarnya. 
 
Ditegaskan Didin, bagi pihak-pihak yang menolak dan atau tidak mengakui adanya Komunitas AKUR Sunda Wiwitan di Cigugur agar tidak melakukan kegiatan yang inkonstitusional mengingat pemerintah daerah Kabupaten Kuningan sedang melaksanakan upaya-upaya dalam menyelesaikan persoalan tersebut. (Abel Kiranti)
cigugur pemerintahan sejarah

Komentar

Berita Terkait