2,061
Monday, 06 July 2020 19:56 (1 bulan yang lalu)    Tulis Komentar

Polemik Batu Satangtung Kian Memanas

Polemik Batu Satangtung Kian Memanas

Bingkaiwarta, CIGUGUR -  Polemik Curug Go’ong Desa Cisantana kian meruncing. Meski Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur mengklaim bangunan Curug Go’ong atau Batu Satangtung tersebut bukanlah tugu, atau patung, tetapi persediaan makam untuk sepuhnya yakni Pangeran Djatikusumah kelak wafat, namun Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Santana tetap mendesak bangunan tersebut, dibongkar.

“Kita inginkan dibongkar. Sudah tidak berizin, juga mengancam aqidah. Kalau sudah urusan aqidah, bahaya,” tandas Ketua MUI Desa Cisantana, KH Didin Fahrudin, kepada bingkaiwarta.com, Senin (6/7/2020).

Dikatakannya, Desa Cisantana itu, miniatur Indonesia. Semua agama ada di desa ini. Sejak dulu, mereka hidup berdampingan, rukun, dan damai. Tidak pernah ada perselisihan. Sedangkan Komunitas Adat Sunda Wiwitan, di Paseban Tri Panca Tunggal tidak beragama. 

paseban

Seperti diberitakan sebelumnya, jika saat ini, pihak Paseban tengah membangun sejenis tugu, atau patung, di sekitar kawasan Curug Go’ong, yang konon untuk makam Sepuhnya, Pangeran Djatikusuma dengan bentuk pemakaman tidak umum. 

"Wajar jika masyarakat muslim Desa Cisantana mengkhawatirkan bangunan tersebut, dijadikan tempat pemujaan. Apalagi di sekitar itu dibangun juga sebuah pendopo yang konon tempat tersebut merupakan petilasan Madrais pendiri Agama Djawa Sunda (ADS)," terangnya.

Maka dari itu, masyarakat Desa Cisantana meminta agar bangunan berupa tugu tersebut dibongkar. Permintaan pembongkaran sudah dilayangkan MUI bersama 1.600 tandatangan warga muslim Desa Cisantana beberapa hari yang lalu.

“Kita semua juga bersyukur, DPRD dan pak bupati sudah merespon baik keluhan warga Desa Cisantana, melalui surat teguran (SP) I ke pihak Paseban. Bahkan yang saya dengar hari ini surat teguran ke II juga sudah dilayangkan oleh Satpol PP ke pihak Paseban," ujarnya.

mirip pendopo

Karena sudah ada langkah nyata dari pemerintah daerah, MUI bersama warga tentu tidak akan bertindak sendiri dulu. Pihaknya juga akan mengantisipasi kontak fisik warga. Bagaimanapun Komunitas Adat Sunda Paseban juga merupakan warga, atau tetangga sendiri.

“Mereka (Paseban,red) warga kita sendiri, tetangga kita. Ke sawah bareng. Kita semua hidup damai. Tapi kalau sudah urusan aqidah, saya khawatir terjadi hal-hal tidak diinginkan,” tandasnya.

Senada dengan Ketua MUI Desa Cisantana, Ketua APIK H. Andi Budiman juga turut mengkhawatirkan adanya penyimpangan akidah bagi umat muslim dengan dibangunnya Batu Satangtung tersebut. Ia juga menegaskan jika pihaknya dari elemen masyarakat muslim akan mengawal kebijakan pemerintah.

Baca Juga:

"Kita akan mengawal kebijakan pemerintah terkait hal ini. Semua pihak sudah seharusnya memenuhi aturan hukum yang sudah ditetapkan.Terlepas bangunan tersebut akan dibuat apa, minimal ijin tetangga atau ijin desa harus ditempuh sesuai dengan prosedur. Jangan melanggar," ungkapnya.

H. Andi berharap kepada pihak Paseban agar mentaati aturan yang sudah ditetapkan. "Kita ingin masalah ini tenang dan tertib. Jangan sampai memancing masyarakat yang akhirnya kondisi kemananan dan ketertiban terganggu," pungkasnya. (Abel Kiranti)

Pangeran Djatikusumah Paseban Tri Panca Tunggal Curug Go’ong Desa Cisantana

Komentar

Berita Terkait