1,498
Thursday, 08 October 2020 12:56 (2 minggu yang lalu)    Tulis Komentar

Rana Sampikan Permohonan Maaf Soal "Keseleo" nya Nuzul Rachdy

Rana Sampikan Permohonan Maaf Soal "Keseleo" nya Nuzul Rachdy

Bingkaiwarta, KUNINGAN – Mantan Ketua DPRD Kabupaten Kuningan, Rana Suparman, angkat bicara terkait polemik berkepanjangan atas diksi “limbah” yang diucapkan Ketua DPRD Kuningan Nuzul Rachdy beberapa waktu lalu. Dihadapan awak media, Rana pun menyampaikan permohonan maaf.

Rana mengaku, dirinya hadir saat Aksi Bela Islam Bela Santri dari Forum Masyarakat Peduli Kuningan itu dengan kapasitasnya sebagai perwakilan Fraksi PDIP atas penugasan dari Ketua DPC PDIP, H Acep Purnama.

“Jangan bicara yang jauh-jauh dulu (pengganti Nuzul, red), kita selesaikan masalah ini dengan baik tanpa ekses, jernih, menempatkan pada tempat yang proporsional. Tadi juga saya mendapatkan penugasan dari Ketua DPC, Pak Acep, untuk hadir apabila nanti diminta perwakilan dari Fraksi PDIP. Saya hadir dalam kerangka itu,” kata Rana, kemarin.

Diakui Rana, dirinya tidak pernah berpikir soal pergantian Ketua DPRD yang saat ini sedang ramai diperbincangkan. Secara institusional dan kelembagaan Fraksi PDIP, Rana kembali menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Kabupaten Kuningan, apabila sahabatnya sesama anggota Fraksi PDIP, Nuzul Rachdy yang mendapat penugasan sebagai Ketua Dewan, telah memilih diksi yang tidak tepat.

“Secara institusional dan kelembagaan fraksi, kami menyampaikan permohonan maaf apabila sahabat saya, Pak Zul, memilih diksi yang tidak tepat, sehingga membuat saudara-saudara se-Muslim menjadi geram. Sebagai manusia, mungkin ada kekhilafan,” ungkapnya.

Saat ditanya bagaimana tanggapannya terkait ramainya situasi di gedung DPRD Kuningan sejak belakangan ini, menurutnya hal itu menandakan dinamika di gedung wakil rakyat Kuningan tersebut hidup, dan berarti pula kesadaran politiknya tinggi.

“Pak Bupati juga sudah sama, menyampaikan permohonan maaf apabila kata yang dipilih oleh Pak Ketua DPRD membuat kemarahan semua pihak, khususnya masyarakat Muslim,” ujar Rana yang belakangan ini dikabarkan kembali menjalin “kemesraan politik” dengan Bupati H Acep Purnama.

Ditanya apakah Badan Kehormatan (BK) DPRD Kuningan dapat merekomendasikan pergantian posisi Ketua DPRD, Rana menjelaskan nantinya BK akan mengeluarkan rekomendasi berdasarkan ketentuan-ketentuan yang ada. Ia menegaskan, kehadirannya saat ada aksi tidak untuk bermaksud apa-apa, hanya untuk menyampaikan permohonan maaf dan menjawab pertanyaan wartawan secara objektif.

“Persoalan ini nanti akan dikonfirmasi oleh BK, termasuk salah satu anggota BK dari Fraksi PDIP, Pak H Purnama. Sehingga berkewajiban menyampaikan kepada Ketua DPC partai (Acep Purnama, red), terkait materi-materi di BK. Hal itu agar Ketua DPC juga tidak salah dalam mengambil keputusan, tapi berdasarkan realitas lapangan,” tegas Rana yang sudah lama tidak muncul dimedia, sejak lengsernya dari kursi Ketua DPRD Kabupaten Kuningan.

Rana menyampaikan pesan khusus untuk Ponpes Husnul Khotimah, Ia kembali menyampaikan permohonan maaf, dan mengajak semua membuka pintu untuk Tabayyun dan saling memaafkan. Ajakannya itu tidak bermaksud untuk tidak merasakan rasa kekecewaan dan kekesalan dari semua yang ada di Ponpes Husnul Khotimah, dan juga yang lainnya.

“Sekali lagi, saya sebagai salah satu dari anggota Fraksi PDI Perjuangan menyampaikan permohonan maaf,” ucapnya.

Ditanya bagaimana tanggapannya terkait tuntutan massa agar Ketua DPRD Nuzul Rachdi keluar dari gedung DPRD, ia menjawab hal itu tergantung dari keputusan partai (DPC PDIP, red). Termasuk jika dilaporkan ke aparat hukum, menurut Rana itu tergantung dari aspek hukumnya, apakah ini masuk ke dalam kategori ujaran kebencian atau tidak. “Soal hukum itu bukan ranah dewan,” tandasnya.

Untuk sikap fraksi-fraksi di DPRD, menurut Rana akan saling membantu memberikan solusi. Menurutnya, H Acep Purnama sebagai Ketua DPC PDIP Kuningan akan menugaskan secara objektif kadernya yang ditugaskan di BK (H. Purnama) sesuai dengan track-nya.

Lalu apa dampaknya buat PDIP terkait kasus yang menimpa Sekretaris DPC PDIP, Nuzul Rachdy itu? Rana menjawab, hal itu tergantung masyarakat yang mengasumsikan masalah itu seperti apa. Hanya saja dampak untuk dirinya pribadi, ia mengaku menjadi rajin berdoa kepada Allah SWT, lalu melakukan kontemplasi dan mawasdiri. “Ternyata ini dari keseleo ya,” tutur Rana sambil ketawa.

Rana pun menceritakan sedikit kejadian yang pernah menimpa DPRD di era kepemimpinannya beberapa tahun lalu, saat munculnya isu “maksiat”. Meski dirinya tidak ikut-ikutan, namun sebagai Ketua Dewan, ia mengaku bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

“Dulu kan ada kasus maksiat, tapi kan saya gak ikut di dalamnya. Maksudnya saat itu saya datang terlambat. Hanya karena saat itu saya Ketua Dewannya, ya saya harus bertanggung jawab. Yang jelas saya waktu itu tidak ikut-ikutan,” tutupnya dengan tertawa. (Abel Kiranti)

DPRD Kuningan COVID Husnul Khotimah Nuzul Rachdy

Komentar

Berita Terkait