832
Friday, 31 July 2020 19:50 (6 hari yang lalu)    Tulis Komentar

Rana Suparman : Jangan Mudah Bereaksi Terhadap Sebuah Simbolisasi

Rana Suparman : Jangan Mudah Bereaksi Terhadap Sebuah Simbolisasi

Bingkaiwarta, CIGUGUR - Berdirinya bangunan Batu Satangtung telah menarik perhatian banyak pihak dari semua elemen masyarakat. Bukan hanya menjadi isu lokal, kehadiran Batu Satangtung di Blok Curug Goong Desa Cisantana Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan pun telah menjadi isu Nasional bahkan Internasional.

Rana Suparman anggota DPRD Kabupaten Kuningan dari Fraksi PDI-Perjuangan ikut menanggapi Batu Satangtung yang menjadi polemik warga di Desa Cisantana. Dilihat dari sisi budaya, Rana mengatakan, sebagai warga Kuningan dan juga sebagai sebagai Paguyuban Pasundan, ia melihat Batu Satangtung sebetulnya tidak jauh berbeda dengan monumen tugu pahlawan.

"Itu adalah ciri yang mempunyai makna. Nah, itu biasanya orang tua kita, leluhur kita dari mulai jaman Kerajaan Salakanagara, Pendang, Tarumanegara sampai dengan Kerajaan Saung Galah dan masuk ke wilayah Pajajaran dalam memberikan proses pendidikan itu dengan simbolisasi. Salah satu simbolisasi yang masih dipegang oleh saudara-saudara kita di AKUR itu adalah wujud dari Batu Satangtung," ungkap Rana kepada bingkaiwarta.com usai melakukan pertemuan dengan DPD Jabar dan keluarga Paseban, Kamis (30/7/2020).

Menurutnya, Batu Satangtung ini bisa diartikan dengan Ajeng Tangtung Ulah Leah Kacaahan Ulah Rubuh Kaanginan. Ajeng tangtung dina sikap politik, dina pamadegan baik itu theology, adalah simbolis yang harus dipegang oleh semuanya.

"Berarti kalau saya lihat, tidak bermaksud dari Paseban untuk mengajak atau menggiring yang lain berkeyakinan yang sama. Ajegkeun kayakinan masing-masing. Hargaan kayakinan batur, tangtungkeun didinya. Itu yang kita lihat," ujarnya.

Rana yang juga merupakan mantan Ketua DPRD Kabupaten Kuningan menjelaskan, kalau kita buka sejarah-sejarah masa lalu, ajeg tangtung hirup nanjung lain ajeg tangtung hirup nyandung. "Jadi, memang disini kita jangan terlalu mudah bereaksi terhadap sebuah simbolisasi. Tapi kajian yang harus kita lakukan. Kita ini mahluk logos kata Palto begitu kan? Mahluk yang logic, mahluk yang akan membuat polis dan polis itu untuk diri kita, untuk keluarga dan untuk negara. Nah kalau kita selalu mengambil kesimpulan dengan cepat tanpa melakukan kajian, kapan mau terbangun kesatuan yang utuh. Ini yang harus kita tinjau dari berbagai macam sudut," jelasnya.

Ia menambahkan, "Kata orang sunda moal di basa mun can di saba. Teu beunang di basa lamun ncan di saba. Maksudnya, kalau kita ingin tahu Batu Satangtung ya nanya dulu lah kesini (paseban, red). Apa maksudnya. Moal di basa mun ncan di saba. Kalau kita menyampaikan sesuatu yang belum di saba, yakin akan ada bohongnya. Orang tua kita sudah memberikan pendidikan-pendidikan yang luar biasa. Jangan dimentahkan oleh kondisi milenial sekarang ini. Justru milenial harus mempunyai kekuatan tersendiri. Ada tri tangtung milenial yaitu ibadah, kerja dan senang-senang. Bukan bekerja ya tapi kerja," terang Rana.

Ia juga menerangkan, kedatangan DPD Jabar, DPC, dan Bupati Kuningan bertemu dengan Paseban tujuannya yaitu untuk menyamakan sudut pandang, asfek historis, menyamakan frekwensi dan menyamakan semua. "Yaitu, untuk menjawab tantangan bangsa ini. Negeri ini ada juga karena leluhur-leluhur kita yang membuat komunal, yang membuat kekuatan-kekuatan sehingga terbentuklah negara yang berdaulat dan merdeka yang sekarang sedang kita nikmati. Jangan sampai kita yang seharusnya menjaga dan menikmati malah kita juga tanpa sadar ikut juga memburamkan cara pandang para fandi founder kita," terangnya.

Rana melanjutkan, "Saya juga belum paham banyak tentang negara, tentang harus seperti apa dalam sebuah negara. Tapi kita gali terus supaya nanti mengkerucut. Ya wajarlah kalau dalam sebuah perjalanan ada yang  mencoba untuk berselancar. Itu wajar. Kan kita juga tidak alergi kepada teman-teman yang mau berselancar dalam masalah-masalah seperti ini," imbuhnya.

Dia juga menegaskan, "Kita fokus, kita pun Ajeg Tangtung untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Kita juga ingin berkontribusi kepada bangsa ini dengan yang lebih baik. Kita juga mempunyai cara pandang tersendiri yang berbasis ideologi sehingga bangsa ini bisa lebih maju lagi," tegas Rana.

Soal batu satangtung, kembali ia mengingatkan, jika itu adalah monumen. Selama ini berdirinya Batu Satangtung dituduh sebagai tempat pemujaan. "Ngapain lagi, masyarakat adat jauh-jauh ke sana memuja batu. Gak mungkinlah, saya tahu kok. Saya tegaskan, tidak ada pemujaan tidak ada persembahan. Tidak ada. Saya mengenal Paseban sejak saya belajar tentang kebudayaan," tandasnya. 

Kedatangan DPD PDI Perjuangan ke Paseban yaitu untuk menyamakan sudut pandang agar penyelesaian yang terbaik yang dicapai sesuai dengan garis-garis ideologi partai. Bukan intervensi. Memang ini harus dikawal. Seluruh kader PDI Perjuangan harus dikawal oleh aturan partai demi menjalankan kebijakan-kebijakannya untuk kepentingan bangsa ini. Kalau intervensi itu, menurutnya terlalu ringan. Ini di kawal jangan sampai salah. Kalau di intervensi itu gampang.

"Saya dan 9 anggota yang lain, seluruh kader partai yang menjadi struktur kader pemerintahan dari mulai tingkat RT, RW, Kades itu harus dikawal oleh partai agar kerjanya berdasarkan ideologi sesuai aturan. Ini ideologi, falsafah negara ini lalu diatur dalam sebuah konstitusi, ketika kita berpegang teguh kepada falsafah negara maka dia akan konstitusional," ungkapnya.

Terkait perda no. 13 Tahun 2019 menurut Rana harus dilihat dari sudut pandangnya dulu. Apakah berdirinya Batu Satangtung itu adalah bangunan yang harus ber IMB atau tidak. "Persamakan persepsi itu dulu, baru mengacu kepada Perda Nomor 13 Tahun 2019," tandas Rana. (Abel Kiranti)

Rana Suparman Bereaksi Simbolisasi polemik batu satangtung Paseban

Komentar

Berita Terkait