186
Saturday, 08 May 2021 18:43 (1 bulan yang lalu)    Tulis Komentar

Silaturahmi di Tengah Pandemi

Silaturahmi di Tengah Pandemi

Oleh Heka Syamsiah, S.Pi
 
Umat muslim di seluruh dunia sebentar lagi akan merayakan hari raya 'idul fitri 1442 H. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, walau semenjak tahun 2020 ada peraturan pemerintah terkait larangan mudik yang dilakukan untuk mencegah melonjaknya kasus virus Covid 19 yang melanda dunia termasuk Indonesia.
 
Mudik atau pulang kampung merupakan kebiasaan unik masyarakat muslim di Indonesia, karena banyak aktifitas bekerja yang dilakukan di kota-kota besar, membuat masyarakat kota karena kesibukannya tidak bisa bertemu orangtua, saudara ataupun kerabat secara leluasa, maka lebaran menjadi waktu yang tepat setelah satu tahun mencari nafkah dan biasanya hari raya merupakan hari libur untuk masyarakat yang bekerja di kota-kota besar untuk melakukan silaturahmi.
 
Keberadaan silaturahmi di tengah pandemi, di tengah kebijakan larangan mudik, menjadikan masyarakat diliputi kekecewaan. Sehingga ada beberapa masyarakat nekat mudik dan ketika diperiksa harus memenuhi syarat membawa surat tugas bagi pekerja, ataupun surat perjalanan dari perusahaan yang bekerja serta surat kepala desa yang bersangkutan dan surat bebas Covid 19, jika tidak memenuhi syarat misalnya tidak membawa surat bebas Covid 19, mqka akan dilakukan SWAB antigen atau Genose V 19. Dan ketika hasilnya negatif maka para pemudik akan diminta putar balik, dan kalau positif akan diisolasi.
 
Berbagai keadaan itu, akhirnya masyarakat suka tidak suka akan malakukan silaturahmi dengan menggunakan media sosial seperti Video Call, telepon ataupun media sosial lainnya.
 
Bagaimana dalam islam memaknai silaturahmi?
 
Imam an Nawawi rahimahullah menyampaikan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa Silaturahmi adalah berbuat baik kepada kerabat sesuai dengan keadaan orang yang hendak menghubungkan dan keadaan orang yang hendak dihubungkan, bisa berupa kebaikan dalam hal harta, memberi bantuan tenaga, mengunjungi, memberi salam, ataupun cara lainnya.
 
Allah Swt mewajibkan menyambung tali silaturahmi dengan keluarga yang masih ada hubungan nasab, baik yang mendapatkan waris ataupun tidak, mahram ataupun bukan mahram. Mereka adalah ibu dan kakek-nenek dari ibu ke atas, bapak dan kakek-nenek dari bapak ke atas dan anak, cucu kebawah, saudara laki-laki atapun saudara perempuan seayah, seibu, seayah atau seibu, paman/ bibi (saudara bapak dan ibu, saudara kakek baik dari bapak ataupun ibu, keponakan, sepupu, (anak saudara ibu/bapak), inilah orang-orang yang mempunyai hubungan nasab/rahim.(Syaikh Taqiyyuddin an Nabhani an Nizham al ijtima'i fil al islam).
 
Sekarang tradisi shilaturahmi mulai bergeser apapun itu, ketika ada pertemuan dengan banyak orang tanpa adanya hubungan nasab, berarti itu sebatas pertemuan saja, sehingga hakikat shilaturahmi dalam islam yakni menyambung hubungan shilaturahmi dengan ada hubungan nasab.
 
Hari pertama di hari raya Idul fitri menjadi momen yang istimewa untuk saling bermaaf-maafan anggota keluarga terutama kepada kedua orang tuanya. Biasanya selepas salat Ied, seluruh anggota keluarga berkumpul untuk saling bermaafan antara anggota keluarga. Momen mereka saling memaafkan satu sama lain, setelah lama di hari-hari sebelumnya ada di rantau orang.
 
Momen bermaaf-maafan juga menunjukan momen kerendahan hati manusia sebagai makhluk yang tidak lepas dari dosa-dosa tetapi ingin menghapusnya dengan kebaikan. Saat saling bermaafan itulah menjadi momen penting untuk melepaskan segala dosa yang menjerat manusia di masa lalu.
 
Wallohu'alam bishshowwab.
Opini Silaturahmi Di tengan Pandemi kuningan

Komentar

Berita Terkait