527
Thursday, 04 June 2020 06:54 (4 bulan yang lalu)    Tulis Komentar

SMP Negeri 5 Kuningan Semakin RESIK (Religius, Sopan Santun, Inovatif, dan Kompetitif)

SMP Negeri 5 Kuningan Semakin RESIK (Religius, Sopan Santun, Inovatif, dan Kompetitif)

Setiap sekolah tentu mempunyai visi dan misi yang berbeda, visi misi tersebut bila dijalankan dengan konsisten akan membentuk prinsip yang dijalankan dan dipatuhi oleh setiap warga sekolah mulai dari Kepala Sekolah, Guru, Siswa, Tata Usaha, dan aspek pendukung lainya. Kebiasaan memegang prinsip sesuai aturan yang disepakati itulah yang membentuk budaya yang pada akhirnya dapat menguatkan prinsip belajar dan berprestasi disekolah tersebut. Visi sekolah merupakan branding sebuah sekolah. Sebuah ciri khas yang membedakan sekolah dengan sekolah lainnya yang sederajat.

Jika kita bicara tentang pendidikan yang bekualitas maka tidak akan lepas dari visi dan misi dari lembaga itu sendiri, semakin kuat visi dan semakin baik misinya maka akan semakin berkualitas juga sumber daya manusia yang dapat dihasilkan. Peran dari seorang guru sangatlah penting dan juga sangatlah berpengaruh terhadap perkembangan potensi sumber daya manusia dan juga dalam menjalankan visi dan misi sekolah. Setiap pendidik wajib memahami dan mengerti tentang visi dan misi sekolah tempat dia mengabdi karna semua itu dapat mempengaruhi keberhasilan dalam proses belajar dan menentukan kemajuan dari sekolah, jika pendidik tidak mengerti visi dan misi dari sekolah bisa berakibat kemunduran bahkan kegagalan dalam sekolah.

Salah satu sekolah yang senantiasa menanamkan visi secara konsisten adalah SMP Negeri  5 Kuningan. Sekolah yang berada di Ancaran ini berupaya untuk senantiasa meningkatkan kualitasnya dengan maksimal. Semakin hari lingkungan sekolah semakin Resik (Religius, Sopan Santun, Inovatif dan Kompetitif) guna menyiapkan generasi yang memiliki dimensi karakter meliputi olah raga hati, olah fikir, olah rada dan olah raga.

Pertama realisasi visi religius, sekolah sejak tiga tahun terakhir secara konsisten menamkan budaya religius sebagai pondasi penanaman nilai-nilai karakter kepada seluruh siswa. Pentingnya menanamkan budaya religius sejak dini adalah dalam rangka mempersiapkan generasi yang cerdas, bijak sekaligus bajik, sehingga permasalahan klasik yang menghinggapi siswa seiring pesatnya dampak teknologi informasi seperti pergaulan bebas (free sex) penyalahgunaan narkoba, serta kaburnya nilai nilai agama (dekadensi moral) dapat diminimalisir. Adapun kegiatan pengembangan budaya religius ini dengan adanya program rutin seperti sholat dhuha, one day one page Al-Qur’an, tahfidz Al-Qur’an, sholat dzuhur dan Jum’at berjamaah, keputrian, peringatan peringatan hari besar islam dan lain sebagainya. Hal ini ditunjang dengan fasilitas keagamaan seperti masjid refresentatif dengan kapasitas 350 jemaah dan tempat wudhu yang mempu menampung 40 orang serta tenaga pendidik ahli dalam bidangnya.

Budaya religius tidak hanya mengandung aspek ibadah saja, namun pada hakikatnya adalah terwujudnya nilai-nilai ajaran agama sebagai tradisi dalam berperilaku dan budaya organisasi yang diikuti oleh seluruh warga sekolah. Dalam tataran nilai, budaya religius berupa : semangat berkorban, semangat persaudaraan, semangat saling menolong, dan tradisi mulia lainnya yang dilakukan dilingkungan sekolah. Jadi dari kebiasaan beribadah yang baik akan di implementasikan dalam kesholehan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, Indonesia adalah negera yang menjunjung tinggi nilai sopan santun dan ramah tamah. Budaya ini mampu memupuk rasa persaudaraan yang kuat, saling menghormati dan menghargai antar sesama sehingga tercipta hubungan yang harmonis dan bersahabat pada suatu kelompok atau lingkungan. Budaya sopan santun yang ada kini tentunya tidak otomatis terbentuk apalagi di kalangan peserta didik yang ada di sekolah. Akan tetapi hal ini terbangun dari sikap dan perilaku yang ditampilkan oleh guru sebagai role model dalam dunia pendidikan bagi anak didiknya saat dia melakukan tugas dan peranya. Guru tidak hanya mendidik dan mengajar namun terkadang bak artis yang gerak geriknya tidak luput dari perhatian siswanya.

Terkait dengan adanya krisis sopan santun dikalangan siswa, beberapa waktu lalu ada seorang siswa yang mengeluarkan kata-kata kasar kepada gurunya. Hal ini masih menjadi bukti bahwa budaya sopan santun belum sepenuhnya melekat dalam hati, fikiran dan perilaku para siswa secara keseluruhan.

SMP Negeri 5 Kuningan senantiasa memupuk budaya sopan santun tersebut dengan berbagai cara yang dilakukan seperti komunikasi yang baik, menyambut siswa setiap pagi dan menerapkan perilaku 5S (Senyum Salam Sapa Sopan Santun) ketika bertemu. Budaya sopan santun juga diterapkan dalam kegiatan ekstrakurikuler yang ada disekolah seperti OSIS, Pramuka, Paskibra, PMR, Rohis, PKS, Paduan Suara dan lainya.

Ketiga, menjadi sekolah yang inovatif mengandung makna bahwa sekolah senantiasa memberi kebebasan anak untuk berkreasi, dan mengekspresikan perasaannya. Sekolah lebih menekankan pemahaman, kemampuan tertentu pada peserta didik yang berkaitan dengan pekerjaan yang bermanfaat bagi masyarakat. Menjadi sekolah inovatif bukan tidak mungkin. Cara yang paling baik adalah kerja bersama antar guru, kepala sekolah, orang tua siswa dan semua pemangku kepentingan dalam memberikan layanan serta proses belajar mengajar yang bermakna.

Setidaknya ada beberapa langkah yang dilakukan oleh SMPN 5 Kuningan untuk menuju sekolah yang inovatif antara lain memberikan kebebasan kepada guru melakukan eksperimen metode, pendekatan atau strategi pendidikan serta belajar mengajar yang tinggi. Kesemuanya digunakan untuk meningkatkan keberhasilan siswa dengan gaya belajar yang berbeda-beda. Setiap proses pembelajaran di sekolah memberikan tingkat pengalaman belajar yang tinggi pada siswanya. Kemudian adanya semangat pengabdian dan profesionalitas yang tinggi dan keterlibatan staf yang penuh mendukung usaha menghadirkan yang terbaik bagi siswa. Selanjutnya melakukan usaha yang keras dan terstruktur untuk menjadi sekolah STEM (Seni-Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Teknik, dan Matematika). Untuk menujang itu semua Kepala sekolah berupaya menyediakan sarana dan prasaran penunjang seperti Lab. Komputer, Lab. IPA yang refresentatif serta siap digunakan oleh civitas akademika di sekolah.

Keempat, menuju sekolah yang menumbuhkan Jiwa kompetitif artinya semangat yang dimiliki seseorang dalam meraih segala cita-citanya. Kita mengetahui bersama bahwa tugas sekolah tidak cukup jika hanya memintarkan siswa, melainkan juga harus bisa menumbuhkan karakter, harus menjadi wadah dan tempat siswa menjadi dewasa, bertindak dan berpikir secara kritis dan analitis. Itulah yang dibutuhkan bangsa ini dari sekolah. Jadi sekolah adalah tempat tepat dan paling dini untuk menumbuhkan jiwa kompetitif siswa. Dengan kapasitas yang dimiliki oleh sekolah, baik berupa kurikulum, pendidik serta sarana dan prasarana menunjang pertumbuhan tersebut.

Ada beberapa langkah untuk menumbuhkan jiwa kompetitif tersebut seperti melakukan pelatihan untuk guru, membuat kelas khusus bagi siswa, mengikuti berbagai even perlombaan melalui ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Itu semua adalah satu cara sekolah untuk menumbuhkan jiwa kompetitif peserta didik. kompetitif akan mempu menaikkan kualitas mutu pendidikan di lingkungan sekolah. Selanjutnya akan meningkatkan mutu Pendidikan secara Nasional. Oleh karena berbagai unsur harus bekerja sama dengan baik mulai dari Kepala Sekolah, Guru, Dinas Pendidikan dan tentu saja orang tua.

Terakhir, dalam upaya menciptakan wawasan wiyata mandala perlu ditunjang dengan lingkungan fisik yang Aman, Sehat, Rindang dan Indah (ASRI) agar siswa dapat belajar dengan baik dan merasa betah tinggal di sekolah. Penataan lingkungan fisik ini terus diupayakan oleh jajaran pengurus sekolah. Lingkungan fisik sekolah yang kondusif bagi pengembangan karakter positif juga didukung oleh berbagai sarana dan prasarana sekolah yang terjaga fungsinya kebersihan, dan kerapihannya. Tidak ada sarana dan prasarana sekolah yang sia-sia. Tidak ada sarana dan prasarana sekolah yang dibiarkan kotor dan tidak terawat.

Kini kami semakin RESIK, siap menjadi kebanggan bagi masyarakat Kabupaten Kuningan yang MAJU (Makmur, Agamis dan Pinunjul) di tahun 2023.

Drs. Wowo Wibawa, M.M.Pd
Kepala SMPN 5 Kuningan

Kepala SMPN 5 Kuningan resik Kabupaten Kuningan Religius sopan santun kompetitif sekolah smp SMPN 5 Kuningan Festival Lomba Seni Siswa Olimpiade Olahraga Siswa

Komentar

Berita Terkait