1,756
Friday, 03 July 2020 04:18 (1 bulan yang lalu)    Tulis Komentar

Soal Batu Satangtung, Oki Akan Tetap Bertahan

Soal Batu Satangtung, Oki Akan Tetap Bertahan

Bingkaiwarta, CIGUGUR - Berdirinya "Batu Satangtung" yang terletak di kawasan Curug Go'ong Desa Cisantana Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan terus menuai polemik. Selain mendapat penolakan dari MUI dan warga Desa Cisantana karena diduga akan menjadi tempat pemujaan atau pemusyrikan, juga mendapat teguran dari Bidang Gakda (Penegak Perda) Satpol PP Kabupaten Kuningan melalui SP 1 yang ditujukan ke pihak AKUR (Adat Karuhun Urang) Sunda Wiwitan atas nama Gumirat Barna Alam pada tanggal 29 Juni 2020.

Dalam isi surat teguran dari Bidang Gakda Satpol PP Kabupaten Kuningan dengan Nomor : 300/774/GAKDA menyebutkan "Hasil penyelidikan lapangan, saudara telah mendirikan bangunan bukan gedung belum dilengkapi ijin dari pihak yang berwenang. Hal ini tidak sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Kuningan Nomor 13 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ijin Mendirikan Bangunan. Atas dasar hal tersebut kami sarankan, setelah menerima teguran ini, saudara untuk menghentikan aktifitas pembangunan dan segera untuk mengurus kelengkapan perijinan"

Girang Pangaping Adat, Oki Satriajati saat ditemui bingkaiwarta.com menegaskan kembali jika bangunan yang sedang dibangun tersebut bukanlah sebuah tugu, melainkan makam. Bahkan pihaknya bersikeras akan mendatangi DPRD untuk memperdebatakan masalah tersebut. Ia meyakini, jika langkah yang dia tempuh dalam proses pembangunan Batu Satangtung tersebut tidaklah melanggar Perda.

surat satpol pp

"Ini sudah jelas-jelas makam. Di dalamnya ada tempat untuk peti jenazahnya. Lantas apakah untuk membuat sebuah makam harus pakai IMB? Satpol PP tidak mungkin bergerak begitu saja. Kami juga akan buka loh. Kenapa Satpol PP bergerak? Masa kami harus mengurus IMB untuk sebuah makam yang dibangun di tanah milik sendiri. Baru dengar saya? Saya pelajari di Perdanya, itu tidak ada," ungkap Oki, Kamis (2/7/2020).

Berdasar pada aturan Perda Nomor 13 Tahun 2019, Oki juga menyebutkan jika bangunan tersebut adalah tempat yang diperuntukan untuk calon jenazah bukan gedung ataupun bangunan lainnya. Apalagi disebut tugu. "Menurut kami, itu sumir. Yang pertama itu pengertiannya bukan tugu. Terus kedua, mereka mengatakan pembangunan boleh diteruskan kalau batu itu dipotong. Kenapa sih takut pada simbol sunda lama, Batu Satangtung? Siapa yang takut sama Batu Satangtung? Kalau itu dikatakan menjadi tugu, ya kita bahas nanti kriteria tugu di DPRD," ujarnya.

Terkait adanya SP 1 dari Satpol PP, Oki menegaskan jika pihaknya akan bertahan. Kecuali mereka punya dasar hukum yang kuat. "Tunjukin! Kriterianya apa sehingga kami harus mengurus IMB? tugukah? monumenkah? tempat berkegiatankah? enggak semua. Sebagai anak, orang tua memberi wasiat ya kita tetap akan bertahan. Sejauh yang saya lihat di Perda, kita tidak melanggar apapun," tegasnya.

Baca Juga:

Sementara itu, Kasat Pol PP Kabupaten Kuningan Indra Purwantoro melalui Kabid Gakda Satpol PP Kabupaten Kuningan Ujang Jaidin menyatakan, Satpol PP bidang Gakda selaku pengawal perda tetap sesuai tupoksinya yaitu mengawal perda akan dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan daerah.

"Sudah jelas dikatakan dalam Perda Nomor 13 tahun 2019 tentang IMB pasal 5 huruf g bangunan bukan gedung berupa monumen atau tugu mesti ada IMB dari DPMPTSP," terangnya.

Ujang menegaskan jika peringatan 1,2,3 dan penyegelan, sambil menunggu perbupnya supaya ada kepastian hukum mau di syahkan atau diberi ijin atau tidak diberi ijin.

"Kalau misal diberi ijin, segel/Pol PP Line dibuka. Tapi kalau tidak beri ijin, ada pembongkaran oleh pihak Paseban. Dan, kalau perintah pembongkaran tidak digubris oleh pihak Paseban, maka sesuai Perda 13 tahun 2019 tentang IMB akan dibongkar paksa oleh Pemda melalui Satpol PP," pungkasnya. (Abel Kiranti)

Batu Satangtung batu goong monumen tugu Satpol PP Kabupaten Kuningan Cisantana Cigugur IMB DPMPTSP

Komentar

Berita Terkait