235
Wednesday, 21 October 2020 18:23 (1 bulan yang lalu)    Tulis Komentar

Stingles Bee, Hoby Baru Dimasa Pandemi

Stingles Bee, Hoby Baru Dimasa Pandemi

Bingkaiwarta, KUNINGAN - Dimasa pandemi Covid-19, berbagai hoby baru bermunculan untuk mengisi waktu luang saat diam di rumah. Tak hanya menyenangkan, hoby dimasa pandemi juga diupayakan sekaligus menghasilkan, salah satunya yaitu budidaya lebah tanpa sengat atau stingles bee.
 
Budidaya lebah tanpa sengat ini juga menjadi salah satu primadona. Tak hanya dipedesaan, saat ini budidaya stingless bee juga marak di perkotaan atau yang disebut urban bee. 
 
Selain perawatan yang mudah karena tak harus rutin memberi pakan seperti ternak-ternak lainnya, budidaya lebah tanpa sengat cukup aman sehingga bisa dilakukan dihalaman rumah bahkan dipemukiman padat penduduk.
 
Hoby memelihara lebah tanpa sengat juga kini menjadi salah satu tren hoby yang sekaligus menghasilkan, seperti yang diungkapkan Amar Thohir, warga Kabupaten Kuningan yang memanfaatkan pekarangan belakang rumah sebagai lokasi budidaya.
 
Amar mengaku menggeluti budidaya lebah tanpa sengat ini sejak sekitar 5 bulan lalu. Awalnya ia berdiskusi dengan teman-temannya terkait cara usaha dimasa pandemi, tapi bisa mengikuti anjuran pemerintah untuk diam dirumah. Namun, setelah menggeluti, justru menjadi hoby yang menyenangkan.
 
"Saat itu ada rekan saya bernama Rokhim Wahyono mencetuskan ide untuk beternak lebah. Saya juga merupakan penggemar madu, cuma kadang bingung membedakan madu yang asli dengan yang palsu, jadi saat pemerintah menganjurkan untuk diam dirumah, saya bersama teman-teman mencoba berternak lebah tanpa sengat untuk sebagai peluang usaha," ungkap Amar kepada bingkaiwarta.com, Rabu (21/10/2020).
 
Saat mempelajari soal lebah bersama rekan-rekan dari kelompok pemberdayaan Bakti Karya, kata Amar, dirinya sangat tertarik karena banyak pelajaran yang bisa diambil dari pola kerja lebah. Selain hanya memiliki dan taat hanya pada satu ratu, lebah juga sangat kompak sehingga bisa membangun sarang yang indah.
 
"Awalnya iseng-iseng mencoba, namun ternyata menyenangkan dan menjadi hoby baru. Banyak sekali kesenangan saat memperhatikan pola kerja lebah, meski bertubuh kecil, lebah mampu membuat sarang yang indah dengan kerjasama yang baik," ujarnya.
 
Selain itu, menurut Amar, budidaya lebah juga tak terlalu repot seperti ternak lainnya. Lebah tak harus diberi pakan rutin. Cukup menyediakan vegetasi sebagai sumber pakan lebah, sehingga cocok juga untuk yang memiliki kesibukan dalam keseharian.
 
"Memelihara lebah itu tak serepot memelihara ternak lain. Kita tak perlu setiap hari mengurusnya. Kadang cukup seminggu sekali kita mengontrol, termasuk menjaga agar terlindungi dari predator seperti cicak, capung atau semut, ya seperti pelihara tuyul, mereka cari makan sendiri dan memberikan hasil untuk kita," ujar Amar seraya tertawa.
 
Lebah yang dibudidayakan kebanyakan dari jenis Tetragonula Leaviceps atau dalam bahasa Sunda disebut Teuweul. Dipilihnya jenis tersebut karena mudah didapat dari alam sekitar Kabupaten Kuningan sehingga lebah mudah adaptasi.
 
Hoby beternak lebah juga bisa dikombinasikan dengan hoby bercocok tanam. Sejak memelihara lebah, ia juga mempelajari berbagai jenis tanaman baik bunga, buah maupun lainnya.
 
"Menyediakan pakan lebah juga menjadi hoby baru, lebah butuh vegetasi baik berupa tanaman buah-buahan maupun bunga sebagai pakan lebah. Selain tanaman yang sudah terdapat dilingkungan sekitar, sebaiknya melakukan rekayasa vegetasi dengan menanam tanaman yang berbunga tak kenal musim seperti Air Mata Pengantin (AMP) atau Bunga Matahari dan sejenisnya," ungkapnya.
 
Amar menjelaskan, lebah membutuhkan nektar untuk bahan membuat madu, pollen atau serbuk sari bunga dibutuhkan untuk pakan lebah pekerja dan juga resin yang berasal dari getah pohon digunakan untuk membuat propolis yang nantinya akan berfungsi sebagai kantung madu dan pollen, juga pelindung sarang dari serangan hama seperti semut.
 
Lebah teuweul juga menghasilkan madu yang menurut penelitian memiliki khasiat yang lebih dibanding jenis lain. Meski sama-sama memiliki khasiat yang baik, madu yang dihasilkan lebah teuweul mengandung sari pollen propolis yang digunakan sebagai kantung madu.
 
Sedangkan untuk madu, saat ini kebanyakan masih diperoleh dari alam. Madu dipanen dari dalam bambu yang lebahnya dipindahkan ke kotak budidaya. Untuk beberapa kotak lebah juga sudah menghasilkan madu.
 
Jenis Leaviceps, ungkap Amar, sangat sedikit memproduksi madu dibanding jenis lainnya. Sekitar 4-5 bulan menghasilkan 100-200 mili liter madu. Namun menurut keterangan yang ia dapat, madu yang dihasilkan oleh jenis ini kualitasnya sangat baik, karena kecil, bisa masuk kedalam bunga yang kecil sehingga nektar lebih majemuk.
 
Selain untuk konsumsi pribadi, hoby barunya ini juga memiliki nilai ekonomis. Setoples madu Teuweul murni berukuran 200ml dijual seharga Rp 120 ribu.
 
Setelah memiliki puluhan stup atau kotak budidaya, selain menjual madunya, Amar juga menjual koloni dalam kotak tersebut bagi mereka yang ingin juga melakukan budidaya lebah tanpa sengat tersebut. 
 
Kotak budidaya dijual seharga kisaran Rp 200 ribu - Rp 250 ribu, tergantung kualitas koloni baik dari banyaknya lebah pekerja ataupun keaktifan dari lebah itu sendiri.
 
Dirinyapun senang berbagi ilmu terkait budidaya lebah. Jika ada yang berminat untuk budidaya, ia dengan senang hati berbagi ilmu dan pengalaman sesuai kapasitas yang dimilikinya.
 
"Kita sama-sama belajar saja karena saya juga masih belajar dan terus belajar. InsyaAllah dengan banyak diskusi dan uji coba, kita bisa semakin menambah wawasan," pungkasnya. (Abel Kiranti)
Stingles Bee Hobi Hobby Lebah Madu KUNINGAN Budidaya

Komentar

Berita Terkait