STP Trisakti Bantu Membidani Lahirnya Desa Wisata Unggulan Di Kabupaten Kuningan

By : BingkaiWarta - BingkaiWarta, 2019-07-05 20:03:03+07

STP Trisakti Bantu Membidani Lahirnya Desa Wisata sdsds.jpg

Head Of Public Relation & Secretariat Triana Rosalina Dewi, SE, MM (hijab merah), dan RMW. Agie Pradipta, SST.Par, M.Sc Kepala Bagian Kemahasiswaan STP Trisakti saat berbincang-bincang dengan awak media.

 

Kuningan – Tidak bisa dipungkiri lahirnya Desa Wisata Unggulan Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan yang tak hanya mampu merebut penghargaan tingkat nasional, tapi juga dinobatkan sebagai desa wisata urutan 5 bidang homestay tingkat Asean tahun 2016, serta terpilih sebagai desa wisata terbaik peringkat dua Indonesia dalam ajang Community Based Tourism (CBT) Kementrian Pariwisata RI, berkat bantuan peran serta Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti.

Dan saat ini rombongan STP Trisakti dengan dikomandani Kepala Bagian Kemahasiswaan RMW. Agie Pradipta, SST.Par, M.Sc didampingi Head Of Public Relation & Secretariat Triana Rosalina Dewi, SE, MM bekerjasama dengan Kementrian Pariwisata RI kembali turun ke Kabupaten Kuningan dan berkonsentrasi membidani lahirnya Cipasung, Kecamatan Darma menjadi desa pariwisata unggulan.

Agie menuturkan, pertama kali STP Trisakti masuk ke Desa Cibuntu bulan April tahun 2011, setelah secara tidak sengaja salah sorang mahasiswanya yang tengah training internship praktek kerja lapang (PKL) di sebuah travel agent saat istirahat membuka-buka foto di facebook menemukan gambar wilayah Cibuntu, kemudian dia memberitahu hal itu pada manajernya yang memang asli orang daerah tersebut. Dan setelah mendapat penjelasan tentang Cibuntu sekaligus mendapat restu dari pihak kampus merekapun berangkat ke Desa Cibuntu yang kala itu masih merupakan sebuah desa tertinggal.

“Pada tahun 2010 Cibuntu adalah desa tertinggal, tapi kita bisa melihat sekarang, Cibuntu telah menjadi desa wisata yang maju. Itu terjadi karena kekuatan masyarakat dan konsep Penta Helix, sebuah kemitraan dengan masyarakat, masyarakat yang diberdayakan, mereka menjadi aktor, bukan penonton,” tutur Agie kepada bingkaiwarta.com.

Ditambah, kata Agie, adanya sinergisitas antara pemerintah, mulai dari RT, RW atau Kepala Dusun, Kepala Desa atau Kelurahan dengan masyarakat, dimana hal ini sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009, adanya pengelolaan dengan kelompok sadar wisata, yang di Jawa Barat dikenal dengan nama Kompepar, karena walau bagaimanapun tanpa adanya dukungan pemerintah dengan masyarakat hal ini tidak akan terwujud.

“Nah dalam hal bersibergi dengan akademisi, tentunya kami menerapkannya dengan keilmuan kami, bagaimana cara mengembangkan secara step by step, serta tidak berkutat pada Bimtek, karena orang akan bosan, namun bagaimana kami menginisiasi roleplay uji coba, seperti contoh kita datangkan mahasiswa sebanyak dua bus, seolah-olah mereka jadi tamu, setelah itu kembali fungsi mereka, untuk melakukan evaluasi. Hal ini dilakukan sebagai efek kejut, dengan demikian pelan-pelan masyarakat di desa yang dipersiapkan menjadi desa wisata akhirnya akan terbiasa dan siap,” kata Agie.

Dijabarkan Agie, melakukan rintisan untuk menjadi desa wisata itu maksimal 3 tahun, dengan melalui 4 tahapan, pertama survey untuk melihat potensi, dengan cara dialog dengan masyarakat, lalu kita melakukan pelatihan-pelatihan, kedua adalah pelibatan masyarakat, pada saat mereka sudah komit untuk melakukan pelatihan, ketiga development, dan terkahir adalah pencapaian desa wisata.

Menurut Agie, selama ada program wisata pihaknya akan bersinergis, “Seperti Desa Cibuntu, persentasi kami keterlibatan kami saat ini hanya 20 persen, karena mereka sudah berjalan 80 persen. Sedangkan untuk Desa Cipasung tentunya saat ini kami masih full, karena baru rintisan. Tentunya tidak akan hilang, karena yang namanya pendamping itu harus menyatu, ya penta helix tadi, artinya tidak boleh kehilangan satu helix, harus terus. Dan kami berharap, berawal dari Cibuntu, kemudian saat ini kita merintis Cipasung, semoga ini menjadi motivasi untuk desa-desa lainnya di Kuningan,” paparnya.

Sementara, Triana Rosalina Dewi, SE, MM menambahkan, bahwa STP Trisakti telah banyak merintis dan membina daerah-daerah wisata baru, dan berharap nantinya tempat-tempat binaan ini akan menjadi destinasi wisata yang bukan saja diminati wisatawan lokal, tetapi ramai dikunjungi turis luar negeri, “Sesuai dengan visi kami menjadikan STP Triskati sebagai Pusat Unggulan Pendidikan dan Pengembangan Pariwisata,” ucap wanita yang akrab dipanggil Dewi itu.

Dan hal lain yang dilakukan pihaknya untuk Cipasung, lanjut Dewi, adalah dengan mengirim 9 mahasiswa Darmasiswa dari 9 Negara yang sedang mengikuti pendidikan di STP Triskti untuk melakukan KKN selama 1 bulan di Cipasung diantaranya, Hasan asal Bangladesh, Javier dari Spanyol, Janka dari Slovakia, Viktorija dari Lithuania, Maria dari Timor Leste, Adda dari Algeria, Lynda dari Madagaskar, Jenny dari Korea Selatan, serta Neila dari Tunisia.

“Dengan demikian kami harap ada keterikatan batin, dan mereka mau kembali berkunjung ke Cipasung dengan mengajak teman atau keluarganya,” harap Dewi. (Yud’s)

14 days ago, by BingkaiWarta
Category : BERITA PILIHAN, PERNIK, SOSPOLHUKAM

Kontak Informasi BingkaiWarta.com

Redaksi : redaksi[at]bingkaiwarta.com
Iklan : iklan[at]bingkaiwarta.com











Berita Terkini

Categories