4,005
Saturday, 01 August 2020 12:34 (4 bulan yang lalu)    Tulis Komentar

Sunda Empires dan Paseban Empires

Sunda Empires dan Paseban Empires

Bingkaiwarta, KUNINGAN - Pengajar Filsafat Ilmu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kuningan, Fahrus Zaman Fadhly menyoroti berdirinya Batu Satangtung yang dianggap tetengger atau ciciren bagi masyarakat adat AKUR Sunda Wiwitan Cigugur menurutnya dianggap (tak sejalan) dengan nilai-nilai modernisme yang mengedepankan rasionalitas dan empirisme sebagai basis dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Spiritualitas yang tidak berpijak pada rasionalitas dan realitas, buahnya adalah halusinasi. Produk  halusinasi tersebut terlihat dari fenomena kemunculan kerajaan-kerajaan seperti Sunda Empires, Keraton Sejagat, Keraton Agung dan lain-lain adalah ekspresi frustasi sosial dan utopia yang anti rasionalitas. 

"Fenomena Sunda Empire dan lain-lain itu akibat sebagian dari masyarakat Indonesia yang mengalami frustasi sosial akut. Secara psikososial, orang yang frustasi cenderung berhalusinasi agar realitas sesuai harapan dan keinginannya.  Halusinasi adalah aktifitas yang tidak berbasis pada realitas, tapi pada utopia. Nah, kepercayaan yang berbasis halusinasi, adalah produk budaya yang irrasional," ungkap Fahrus kepada bingkaiwarta, Sabtu (1/8/2020).

Khusus di Kuningan, dia berharap, tidak muncul fenomena sejenis Sunda Empire dalam bentuknya yang berbeda dengan substansi yang sama.

"Yang perlu diwaspadai adalah lahirnya Empire-empire bernuansa lokal. Karena Empire-Empire itu cenderung mengajak orang berhalusinasi.  Seolah realitas, padahal jauh dari realitas yang sesungguhnya. Kita harus merangkul dan mengajak sebagian masyarakat kita untuk kembali berfikir rasional, menghindari kebiasaan halusinasi dan mistisisme," ungkap Fairus. (Abel Kiranti)

Filsafat Universitas Kuningan Fahrus Zaman Fadhly Batu Satangtung tetengger ciciren Empire Sunda Wiwitan Cigugur

Komentar

Berita Terkait