1,951
Tuesday, 04 August 2020 08:14 (2 bulan yang lalu)    Tulis Komentar

Warga Desa Cisantana Siap Turunkan Massa Besar-Besaran

Warga Desa Cisantana Siap Turunkan Massa Besar-Besaran

Bingkaiwarta, CIGUGUR - Sebagai wujud reaksi keras adanya proses kajian masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan oleh tim gabungan Bupati Kuningan dan Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, berbagai spanduk telah dibentangkan di sepanjang jalan bahkan dibeberapa gang menuju setiap blok oleh warga masyarakat Desa Cisantana Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan. 

Spanduk yang berisi permintaan bupati agar tegas dengan aturan Perda No 13 Tahun 2019, tuntutan pembongkaran Batu Satangtung, Blok Curug Go’ong, menolak intervensi partai politik, hingga ancaman pengerahan massa jika tuntutan masyarakat Desa Cisantana tidak dikabulkan bupati, menarik perhatian publik.

Kepala Desa Cisantana, Ano Suratno saat ditanya bingkaiwarta.com, Selasa (3/8/2020) kenapa banyak spanduk terpasang atas polemik Curug Goong, ia mengatakan, jika itu adalah hak masyarakat. Pihaknya tidak bisa melarang.

Apalagi menurutnya, spanduk-spanduk tersebut, bukan juga sebuah ujaran kebencian, atau provokatif. "Itu hanya berisi penegasan sikap, bahwa di negara hukum apapun tindakan yang berkaitan dengan lingkungan masyarakat, harus sesuai aturan," ujar Ano.

Masyarakatnya melihat, tindakan aparat Satpol PP menyegal Batu Satangtung, Curug Go’ong milik Masyarakat AKUR, Paseban Tri Panca Tunggal sudah benar. Ini sesuai aturan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Tahapan proses sudah ditempuh, dan ditegakan oleh Pemkab Kuningan. Sehingga harus secara konsisten dijalankan oleh Pemkab Kuningan. 

“Masyarakat disini (Desa Cisantana,red) juga menghitung hari. Sekaligus menunggu kapan Aparat Satpol PP melalui intruksi pak bupati terus melakukan tahapan itu, sesuai ketentuan,” tegasnya.

Ono menegaskan, prinsipnya secara pemerintahan desa, Ia tidak berpihak kesana kemari. Harus berdiri sendiri. Tapi tentu tetap melihat kesesuaian aturan, birokrasi dan konstitusi. “Meskipun masyarakat saya, punya sikap. Itu hak konstitusi juga. Kita harus menghargai,” tegas Ono.

Diakui Ono, situasi ini telah menjadi pikirannya sebagai kepala desa, siang malam. Ia sangat tidak menginginkan di sebuah lingkungan kondusif, tiba-tiba akan muncul sebuah konflik horizontal. “Kita kan berpikir bagaimana membangun kondusifitas,” imbuhnya.

Ia pun mengingatkan, tatanan yang sudah terbangun, jangan sampai ada yang merusak. "Maka itu, saya berharap Bupati Kuningan bisa bijak melihat reaksi masyarakat. Sebab, masyarakat melihatnya sesuai aturan. Penegakan aturan itu, tentu ada dasar," pungkasnya. (Abel Kiranti)

aksi massa batu satangtung tuntutan warga desa Adat Karuhun Urang Sunda Wiwitan

Komentar

Berita Terkait